Showing posts with label Perencanaan Wilayah dan Kota. Show all posts
Showing posts with label Perencanaan Wilayah dan Kota. Show all posts

Friday, January 5, 2018

Space and Drama



Happy 2018!
New Year, New Face, New Blog Name!

Introduce you my new blog's name Space & Drama. 

Terinspirasi dari pemikiran Patrick Geddes, seorang perencana kota, yang menyebutkan bahwa,
'A city is more than a place in space, it is a drama in time'
Pemikirannya menekankan akan dimensi manusia dalam perencanaan dan perancangan kota. Bahwa segala hal yang ada di dalam sebuah kota pada dasarnya representasi dari aktivitas dan kejadian-kejadian yang dialami oleh manusia dan alamnya. Yang tidak terlepas dari berbagai 'drama' atau skenario demi skenario.

Lalu apa hubungannya dengan blog saya? 

Space mewakili unsur profesi planner yang saya geluti saat ini. Drama menggambarkan bahwa di dalam hidup ini ada aktor dan skenario yang dijalankan. Itu berlaku tidak hanya terkait dengan profesi perencana, namun juga dalam semua tulisan saya. Semua dapat saya tulis karena ada interaksi saya dengan para aktor kehidupan yang ada di desa dan kota tempat saya tinggal. Ini juga untuk mengingatkan saya kembali bahwa profesi perencanaan pada dasarnya profesi yang mulia, menyentuh kehidupan manusia dan unsur hayati lainnya untuk hidup selaras dan seimbang.

Saya mencintai dunia perencanaan sama seperti saya mencintai dunia kepenulisan. Saya pikir, perlu sebuah nama yang bisa menggambarkan identitas blog ini. Nama yang sesuai dan punya dasar filosofis buat blog ini. Mengingat isi blog saya beragam, mulai dari cerita fiksi, syair dan puisi, review buku, cerita tentang perencanaan wilayah dan kota, juga seputar perjalanan saya menemukan makna hidup.

Space dan drama memiliki makna yang amat kaya. Dan kekayaan makna itu yang paling pas menggambarkan identitas blog ini. Dua hal itu berlaku pada setiap lini aktivitas saya. Baik sebagai perencana maupun sebagai penulis.

Dan, inilah Space & Drama, sebuah blog lama, yang bertransformasi di awal tahun 2018 ini. Karena saya pun ingin menjadi seorang perencana sekaligus penulis.

And i am happy to share you everything about the path i takes for my life. 
Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi lebih banyak orang. 

Love, 
Tiech


Baca selengkapnya

Monday, January 20, 2014

Jejak Bukan Petualang di Ketapang

Petualangan saya di Kota Ketapang sebetulnya sudah berakhir, dan dimulai sejak bulan Juni 2013 silam. Tapi, rasanya baru sekarang mendapatkan momen yang tepat untuk membagikannya di blog ini. Foto - foto ini sebetulnya foto survey untuk keperluan pekerjaan saya, tapi berhubung tidak semua foto digunakan untuk laporan, di buang sayang pula, baiknya post di blog saja :). Mari kita mulai.

Dimana sih Ketapang?
Ketapang di Provinsi Kalimantan Barat
Kabupaten Ketapang terletak di bagian paling selatan Provinsi Kalimantan Barat, sekaligus merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Barat. Luasnya mencapai 31.588 km2 atau seluas 21,28% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah seluas ini hampir menyamai luas Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas 32.548 km². 

Wilayah seluas ini hanya dihuni oleh 448.779 jiwa penduduk, dan hampir 1/4 nya berada di ibukota kabupaten yakni Kota Ketapang yang meliputi kecamatan Delta Pawan, Benua Kayong dan Muara Pawan. Kepadatan penduduk dibandingkan luas wilayah di ibukota kabupaten paling tinggi mencapai 2.475 jiwa/km², kepadatan penduduk paling rendah di beberapa kecamatan mencapai 2 jiwa/ km². 



Ada Apa di Ketapang?


1. Taman Nasional Gunung Palung
Anda Memasuki Taman Nasional Gunung Palung!

2. Potensi Pertambangan dan Perkebunan

Salah Satu Kebun Sawit di Ketapang

3. Perlindungan Orang Utan
Salah Satu Pusat Rehabilitasi Orang Utan. Kalau Anda jeli sedikit, di dalam bangunan itu ada orang utan yang sedang memandang ke arah kamera. 

4. 2 (dua) Pelabuhan Nasional dan Rencana Pembangunan Kawasan Industri
Pelabuhan Kendawangan
Dengan apa ke Ketapang?

Saya dan kawan - kawan menggunakan kapal, dengan harga tiket sekitar 180 ribu-an berangkat dari pelabuhan Senghie Pontianak, Pukul 9.00 pagi. Perjalanan kami memakan waktu sekitar 6 jam melewati Sungai Kapuas, melayari Selat Karimata dan akhirnya berlabuh di pelabuhan yang berada di Sungai Pawan. Alhamdulilah, saat itu laut sedang tenang jadi saya aman dari mabuk laut :). Dan saya berharap itu sebagai perjalanan pertama dan terakhir saya menggunakan kapal menuju Ketapang. Karena selanjutnya lebih baik lewat udara saja, cukup 30 menit, fliiiiwww....sampelah kita ke Ketapang. 
Pelabuhan Sukabangun, Ketapang (dan yang dibelakang orang - orang ini adalah kapal yang kami tumpangi_heu, ga dapat foto kapal full body)

Kesan Pertama begitu menjejakkan kaki di Ketapang?
Pertama kali menjejakkan kaki ke Ketapang tepatnya ibukota Kabupaten Ketapang, saya cukup kagum dengan daerah ini. Saya yang biasanya hanya menyusuri Sambas- Singkawang - Pontianak, melihat sesuatu yang berbeda. Oh mak, rumah disini besar - besar kali, halamannya juga luas, bahkan banyak juga yang tidak berpagar.  Cukup menandakan penduduk disini sejahtera. Mencari rumah 'kecil' cukup sulit, apalagi di pusat kotanya. 

Dari seorang kawan yang pernah tinggal disini pada tahun 2002, katanya pada era hasil hutan 'berjaya' orang - orang di sini banyak yang ikut dalam bisnis logging  yang menjanjikan. Dengan 'kekayaan' itu, mereka membeli kapling tanah yang luas dan membangun rumah yang besar pula. Yah, itu katanya. 

Penampakan Rumah di Kota Ketapang


Jadi, ga ada rumah - rumah kecil nih di Ketapang? Tidak juga. Tugas saya dan kawan - kawan kala itu adalah mencari, dimana permukiman yang tidak sebesar dan serapi ini, yang perlu 'pertolongan'. Dan, kami menemukannya. Tidak banyak, dan tidak luas. Tapi, entah kenapa pemerintah butuh waktu cukup 'lama' untuk menuntaskan 'pertolongannya'. 



Rumah di Pinggir Sungai Pawan, Ketapang

Sedang Blusukan bersama pejabat Pemda dan Pak Lurah, tentu saja saya yang paling cantik di antara Bapak - Bapak ini :))

Masalahnya?
Sejauh ini, dengan keterbatasan saya melihat beberapa wilayah di Kalbar...Ketapang adalah salah satu daerah yang memiliki potensi SDA besar, juga membutuhkan 'cost' pembangunan infrastruktur yang cukup mahal dengan sebaran penduduknya yang 'menclak- menclok' dan wilayah yang luas. Entah karena 'kekayaan' Ketapang kurang untuk mendanai pembangunannya atau kapasitas pengelolaan pemerintahan dan pembiayaan pembangunan yang perlu dipertanyakan? Entahlah. Ini perlu analisis ahli ekonomi pembangunan, bukan saya si analis jadi - jadian. Hehehe.

Ini dokumentasi perjalanan saya menuju Kendawangan (yang batal karena jalan rusak) dan perjalanan menuju Sandai (yang juga terhenti di Sei. Kelik karena kondisi jalan juga). 

Dalam Perjalanan ke Kendawangan, ada keramaian

Rupanya ada 2 kendaraan dari arah berlawanan yang 'terperosok' di jalan indah ini. Batal deh ke Kendawangan
Perjalanan ke Sandai -Tiada yang tahu, dalamnya 'samudera' dibelakang kami

terperosok di jalan ini, musim hujan dengan mobil non 4 x4 adalah petaka, untungnya ada kayu - kayu penyelamat jalan sementara yang disebut: "PITING"
ku melihat tenda biru, bukan pernikahan, tapi semacam loket 'tol' atas penggunaan PITING

yeah, mari membayar jasa melewati 'PITING'
 kalau jalan - jalan ini diperbaiki, maka keluarga ini tidak mendapat penghasilan 'tambahan'
setidaknya, dalam 5 jam perjalanan kami bertemu jalan mulus, walau sebentar

Bonus 5 jam offroad, pemandangan indah yang entah dimana tepatnya

di Sei. Kelik, sudah sore dan kami tidak punya waktu untuk bermalam di Sandai. Batal lagi ke Sandai. Ah Galau!
Akhirnya meminta pertolongan seorang kawan dari kawan yang tinggal di Sandai untuk memotret kondisi di sana. 
Kondisi Jalan di Pasar Sandai yang adalah pusat 'kota'


Jembatan Sandai
Ya, masih ditemukan 'helikopter' di Sandai, yang secara ekonomi sudah mengarah menjadi kawasan urban. 

Masih banyak cerita saya tentang Ketapang, satu diantara daerah yang sangat saya sayangkan karena potensi SDA nya tidak berbanding linier dengan kondisi infrastrukturnya. Saya hanya menjejaki sedikit wilayahnya saja, tapi entah kenapa begitu banyak yang ingin saya ceritakan. Apalagi, saya jarang menemukan blogger yang bercerita tentang Ketapang dengan foto selengkap yang saya paparkan pada tulisan ini :)). 

Dan perlu diketahui, tulisan ini berdasar rasa cinta pada Ketapang. Saya bahkan belum pernah bercerita tentang Tanah lahir saya, Sambas. He he he :D

Lain kali saya akan cerita tentang wisata di Ketapang, juga cerita  - cerita legenda dari daerah ini. Hmm, mungkin juga sedikit catatan pribadi selama 7 (tujuh) bulan ber-proyek di sini. Jadi nantikan postingan dengan judul 'Jejak Bukan Petualang di Ketapang 2' ya :).

- tiech -



Baca selengkapnya

Saturday, March 9, 2013

Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Tahun Terbit: 2007, New York
Heup. Saya kembali, membawa buku bacaan yang sebetulnya terkait dengan profesi saya saat ini sebagai Perencana Wilayah dan Kota. Hmm, profesi yang tidak banyak dikenal orang seperti Arsitek :). Di lain kesempatan akan saya ceritakan tentang profesi saya ini. Buku ini sudah cukup lama saya punya dan sudah saya baca seperlunya. Tapi, akhir - akhir ini saya merasa perlu membacanya kembali. Demi mendalami dan menguatkan kemampuan saya sebagai perencana (tsahhhh, gaya ya! hehe)

Buku ini berjudul : Skills For Planning Practice ditulis oleh Ted Kitchen yang merupakan seorang dosen di Sheffield Hallam University, Inggris. Buku ini, oleh beliau sendiri diakui merupakan pengalamannya selama menjadi praktisi perencanaan wilayah dan kota sebelum beliau  menjadi akademisi. Melihat tahun terbitnya, ini merupakan buku kategori baru. 
Skills For Planning Practice terdiri dari 10 bab, didahului dengan pengantar dan diakhiri dengan kesimpulan. 7 (tujuh) bab diantaranya merupakan pembahasan mendalam mengenai "skills" perencana dan satu bab tentang berbagai pendapat (atau teori?) dari berbagai pihak, perspektif, badan perencana dan dari sudut pandang profesional tentang "skills and quality" yang harus dimiliki oleh seorang perencana. Melihat struktur buku ini, penulis tidak sekedar menyampaikan pengalamannya selama bertahun - tahun menjadi praktisi, namun juga menyertakan pendapat dari berbagai perspektif. "Lebih setuju pada pedapat yang mana"saya kira bukan tujuan utamanya, namun cenderung mengingatkan pada perencana, terlebih perencana muda seperti saya bahwa ada keterampilan yang harus dimiliki selama bergelut dalam bidan perencanaan wilayah dan kota ini. Kemampuan yang tidak hanya sekedar berkutat pada kemampuan penguasaan teori namun juga kemampuan personal dan inter personal. 

Saya sendiri menyukai cara penulis bertutur dalam buku ini, dimulai dari pemahaman mengenai perencanaan itu sendiri. Satu pernyataan di awal bab pengantar yang menjadi dasar agar ada pemahaman yang sama mengenai perencanaan:
"The purpose of Urban and Regional Planning is to make places better for people"
"Make Places Better For People" bermakna lingkungan kehidupan yang lebih baik untuk manusia. Lingkupnya sangat luas, kesejahteraan ekonomi, keamanan sosial dan keberlanjutan lingkungan hidup ungtuk generasi sekarang maupun akan datang. 

Ada satu kalimat yang saya senangi dari bagian introduksi buku ini, bahwa kota/ daerah yang kita tinggali bukan sekedar hasil bentukan atau tanggung jawab pemerintah, dewan rakyat atau badan perencanaan namun lihatlah kota sebagai hasil bentukan aktivitas semua anggota masyarakat yang dipengaruhi oleh banyak faktor, dilakukan oleh individu maupun kelompok yang berbeda. Bagaimana masyarakat membentuknya? Ah, saya teringat kota kelahiran saya yang setahun terakhir cukup berkembang. Di kota kelahiran saya, hampir semua rumah di pinggir jalan utama memiliki warung, dan hampir sepanjang jalan utama dipenuhi dengan ruko - ruko. Padahal 5 tahun sebelumnya masih banyak lahan kosong dan rumah hanyalah rumah biasa. Pernah membayangkan seisi kota dipenuhi ruko yang tidak semuanya terisi? Seperti itulah aktivitas masyarakat membentuk ruang kota.
"By considering urban life as a whole and recognising that responsibility rests with us all, we can further improve the quality of urban life" (Introduction-Page 3)
Yap, dan itu sebabnya pula butuh ilmu perencanaan wilayah dan kota. Ada aktivitas yang harus ditampung oleh ruang hidup kita, tapi ruang yang bisa kita tinggali di bumi ini terbatas. Jadi, sebatas apa ilmu ini? Ah, hampir dapat dikatakan sulit mencari batasannya, selama dalam kerangka "Make Places Better For People" saya masih mengkategorikan itu perencanaan wilayah dan kota :)
Luasnya lingkup perencanaan wilayah dan kota, juga banyaknya jenis kepentingan yang harus dihadapi  semasa menempuh kuliah sarjana saya dijejali dengan berbagai macam ilmu. Ilmu perpetaan, statistik manajemen, kebijakan publik, administrasi publik, teknik presentasi, perancangan tapak (site plan), transportasi, perumahan, keuangan, politik, sosial dan ekonomi. Wow, saya sendiri masih merasa ajaib dengan semua ilmu yang saya pelajari selama 4 tahun. Hasilnya? Saya benar - benar lupa (hehe) padahal kebanyakan yang dipelajari hanya sebatas 'kulit' ilmunya saja. Sejujurnya, saya baru memahami sepenuhnya alasan saya mempelajari semua materi itu setelah saya bekerja. Setiap kali ada proyek saya selalu tersadar: "ah, ini sebabnya saya dulu dikasih materi ini!" Alhasil, setiap kali terlibat proyek, saya masih harus buka-buka buku teks lagi bahkan untuk materi sederhana sekali pun saya masih membuka buku kuliah. :) Wah, sia - sia dong kuliahnya? Tidak juga, kuliah ini mengajarkan saya berkomunikasi dan berpresentasi, bekerja dalam tekanan, bekerja dalam tim, berpikir struktural dan komprehensif dengan melibatkan berbagai perspektif. Yang kemudian saya pahami sebagai basic skill yang harus dimiliki perencana. 

Saya memang baru 4 tahun dalam dunia profesional ini, namun ketika membaca 7 Skills for Planning Practice ini saya tidak punya pilihan selain sepakat dengan Ted Kitchen :D. Apa saja ketujuh skill tersebut? Ini dia:
  1. Technical Skills/ Kemampuan Teknis, saya memahami ini sebagai kemampuan untuk memahami peta, menggunakan peta, menganalisis data dan kemampuan analisis lainnya.
  2. Planning system and process skill, karena perencaanaan selalu terkait dengan pemerintahan maka dibutuhkan keterampilan memahami sistem perencanaan berikut proses dan prosedurnya
  3. Place skills, dibutuhkan karena memang tempat/ ruanglah yang menjadi tujuan perencanaan
  4. Customer Skills, pernah ada dosen yang mengatakan ini pada saya: "planning di Indonesia itu gimana bohir" (bohir: pemberi kerja/ klien yang biasanya adalah pemerintah). Penting untuk menjawab kebutuhan klien, namun perencana juga perlu memperhatikan siapa yang mendapatkan manfaat dan terkena dampak dari suatu pekerjaan. Kembali ke tujuan awal perencanaan: "Make Places Better For People"
  5. Personal Skills, ini tentang bagaimana seorang perencana menyampaikan pemikiran dan ide- idenya, berinteraksi baik dalam tulisan maupun saat bertatatapan langsung. Intinya kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik.
  6. Organizational, managerial and political context skills, proses perencanaan tidak lepas dari konteks organisasi baik dalam tim perencana itu sendiri, maupun terkait dengan pemerintahan dan politik.
  7. synoptic and integrative skills, karena adanya kebutuhan untuk melihat suatu isu dari segala perspektif dan secara holistik maka seorang perencana harus memiliki kemampuan untuk memahami "big picture' dari pekerjaan yang dihadapinya. Ini adalah salah satu peran kritis. Saya memahaminya sebagai kemampuan berpikir sistem atau dengan kata lain memandang sesuatu dalam kerangka sistem yang elemennya terkait satu sama lainnya.
Ketujuh skills ini dibahas satu per satu dalam buku ini, namun dalam praktek perencanaan tentu saja semuanya digunakan dalam kesatuan yang utuh. Tidak semua orang memiliki kemampuan hebat dalam ketujuh keterampilan tersebut. Pasti ada skill yang lebih mendominasi, namun jika bekerja dalam tim kekurangan ini dapat ditutupi. Masing - masing anggota tim dapat saling melengkapi dan menguatkan hasil kerja.

Bagi saya, buku ini penting dimiliki perencana muda seperti saya dalam mengembangkan karir profesionalnya. Terlebih lagi bagi perencana yang bergerak di dunia konsultan (praktisi). Pengalaman yang diceritakan memang seputar perencanaan di Inggris yang notabene memiliki perbedaan sistem politik, pemerintahan dan ideologi bahkan sistem perencanaan pembangunan yang berbeda dengan Indonesia. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis (Ted Kitchen) esensi dari semua perencanaan adalah sama yakni bertujuan menciptakan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.

Semoga review ini bermanfaat. Selamat Membaca!

Si Perencana Muda, Tiech
Baca selengkapnya