Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Tuesday, August 1, 2017

Nanti

Nanti


Ada banyak hal yang tertunda dalam hidup saya, karena satu kata: nanti. Nanti deh. Bentar lah. Sehabis ini lah. Sampai kadang tertunda bertahun-tahun lamanya. Salah satunya menempuh pendidikan magister yang tertunda hingga empat tahun dari rencana semula. Ada pula hal-hal yang tak sempat saya lakukan. Karena saya melewatkan momen dan kesempatan yang tersedia. Akibat kata nanti. 

Hal ini pula yang menjadikan saya seringkali mengerjakan segala sesuatu mepet ke deadline. Selain memang karena ada hal lain yang perlu diprioritaskan, tidak jarang pula terjadi karena saya menunda. "Nanti deh, kalau sudah mood. Nanti deh makan dulu. Nanti, agak sore." Akhirnya kadang saya tidak punya waktu banyak untuk merapikan pekerjaan atau memeriksanya kembali. 

Hari ini saya sadar penyakit nanti mulai datang kembali. Ada beberapa pekerjaan yang saya lupakan, gara-gara pada saat kewajiban itu datang, saya katakan: iya, nanti. Ada pula beberapa hal yang langsung saya respon. Seperti kesempatan-kesempatan terkait dengan proyek baru, kelas kepenulisan baru, dan berbagi event upgrading diri. Saya kemudian merenungi perbedaan respon saya ini. Apa yang membuat saya menjadi penunda di satu hal, namun responsif alias cepat tanggap di hal lainnya? 

Saya pun sadar bahwa setiap kali sedang dalam responsive mode, pada dasarnya saya aware akan waktu. Semakin bertambah usia, saya semakin merasa bahwa waktu yang saya punya semakin sempit. "Aku ga punya nanti. Now or regret it!" Itu yang terus saya ucapkan pada diri sendiri. Sehingga, sekalipun ada risikonya, berat atau bahkan tampak tidak mungkin, akan tetap saya lakukan. Karena saya merasa tak ada yang tak mungkin selama saya punya strong why. 

Sekarang saya tinggal menerapkannya di seluruh aspek kehidupan saya. Bahwa waktu saya terbatas. Bahkan saya tidak bisa menjamin umur saya ada sampai detik berikutnya. So, kenapa saya harus sering mengatakan nanti? Karena saya belum tentu punyai nanti itu. 

Kalau Anda, bagaimana? 

#Day27
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Saturday, July 22, 2017

Rahasia Bahagia

Pernah menonton film animasi "Trolls" berkisah tentang kaum Trolls yang diburu para Bergan? Trolls diburu karena Bergan meyakini bahwa hanya dengan memakan Trolls mereka akan bahagia. Saya ga akan cerita kelanjutannya ya. Nanti malah menjadi spoiler, hehe. Film itu membawa pesan tentang kebahagiaan. Bahwa sesungguhnya setiap dari kita pun menginginkan kebahagiaan. 

Pernah ada suatu masa, saya meyakini bahwa bahagia adalah ketika saya tahu tujuan hidup saya. Dan selama saya tidak menemukannya, ada sesuatu yang salah. Saya tidak bahagia. Bahkan sempat merasakan emotionless. Sempat pula menanyakan, apa sebenarnya bahagia? Saya merasakan bahwa tujuan hidup manusia sudah disebutkan dalam Al Qur'an. Mengapa pula saya masih merasa tidak bahagia?

Dari sebuah training dan sebuah terapi, saya menyadari bahwa bahagia adalah pilihan. Loh kok gitu? Perasaan kan tidak selalu bisa kita kendalikan? Bagaimana mungkin memilih perasaan bahagia? Perasaan memang tidak selalu bisa dikendalikan. Namun kita bisa memilih cara pandang, sikap dan tindakan kita pada sesuatu hal. Yang mana itu semua akan mempengaruhi perasaan kita. Coba lihat gambar di bawah ini.

Sumber Gambar: Pinterest

Saat saya merasa bahwa saya harusnya punya tujuan dalam hidup, saya pun tidak 100% bertindak menemukan tujuan itu. Malah menghakimi dan membenci diri sendiri. Padahal, saya punya pilihan. Menghargai hal-hal yang saya miliki, mau mensyukuri apapun yang sudah Allah berikan. Seperti gambar di atas. Atas terjadinya sesuatu atau kondisi yang tak menyenangkan yang saya alami saya bisa memilih sikap. Untuk menyesal, terus menangisinya, lalu semakin lama membenci diri. Atau justru melihatnya dari sisi lain. Bahwa hal tak menyenangkan terjadi sebagai pembelajaran. Bisa jadi ada berkah tersembunyi di baliknya. 
Ah, saya jadi teringat sebuah hadist:
Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya (HR Muslim)"
Jadi, apa rahasia bahagia? Rahasianya ada dalam diri masing-masing. Karena rasa bahagia adalah pilihan.

#myFabulous30
#30DWCJilid7
#Day17
#Squad8
Baca selengkapnya

Friday, July 7, 2017

WHY




Begitu bunyi pesan dari seorang kawan yang kala itu menceritakan pembelajaran yang ia dapatkan dari sebuah pameran seni yang digelarnya. Pembelajaran yang terus berulang kudapatkan dari banyak orang. Dari Mas Rezky #passionwriter yang mengampu program 30 days writing challenge, juga hari ini dari penulis yang aku kagumi, Bunda Asma Nadia. Aku yakin, bukan kebetulan kata-kata ini terus kudapatkan. 

Ada beberapa kejadian yang pernah kualami, yang kurasakan adalah pembelajaran tentang pentingnya sebuah alasan yang kokoh dalam melakukan apapun. Salah satu kejadian yang berkesan adalah ketika aku menjadi panitia sebuat training pengembangan diri. Aku menjadi penanggung jawab divisi registrasi, yang mana tugasnya adalah menindaklanjuti calon peserta yang sudah mendaftar. Tindak lanjut ini berupa menanyakan waktu membayar, mengingatkan untuk melengkapi persyaratan pendaftaran lainnya. Seringkali calon peserta yang sudah mendaftar tidak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari panitia. Kadang, butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk memastikan satu peserta melengkapi semua persyaratan. Setiap hari banyak calon peserta yang mendaftar, jadi tentu saja saya dan tim sibuk selalu. 

Ditengah padatnya aktivitasku yang lain, kondisi ini melelahkan sekali. Menghadapi peserta yang banyak excuse, yang sulit dihubungi, juga mempersiapkan kebutuhan lain sebelum training. Beberapa kali aku mengajukan keinginan mengundurkan diri. Tapi setiap kali pula aku menanyakan kembali pada diri, mengapa aku menjadi panitia? Bukankah memang aku punya banyak aktivitas? Bukankah dari awal sudah diingatkan oleh ketua, bahwa divisi registrasi adalah divisi yang sibuk setiap hari. Aku ingin menjadi panitia, karena ingin menjadi bagian dari tim yang mewujudkan pelatihan ini bagi orang-orang yang ingin menghadirkan perubahan dalam hidupnya. Aku ingin orang lain merasakan pengalaman berharga seperti apa yang aku rasakan.

Tapi, itu bukanlah WHY yang sesungguhnya. Deretan pertanyaan yang kutanya pada diri sendiri. , membantuku menemukannya
  • So WHY, pengalaman itu ingin aku bagikan ke orang lain? Karena aku ingin bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya dengan memperkenalkan dan mengajaknya ikut serta
  • Lalu, mengapa bermanfaat bagi orang lain penting bagiku? Karena aku  pernah mendengar hadist, bahwa sebaik-baik muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan aku ingin ini menjadi investasiku buat hari akhir kelak. Bila aku menjadi bagian dari panitia pelatihan ini, dan ada perubahan atau kebaikan yang dilakukan oleh peserta karena terinspirasi kegiatan ini, bukankah Allah juga menjanjikan kebaikan yang sama untukku?
  • Mengapa kebaikan itu jadi penting bagiku? Usiaku sudah 30, jatah hidup berkurang dan ada banyak kesempatan yang sudah kulewatkan dalam hidup. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan berkontribusi berbuat baik bagi banyak orang seperti ini.
  • Mengapa? Karena itu salah satu caraku untuk meraih ridha Allah, sumber dari segala kebahagian dunia dan akhiratku. 
Di saat-saat melelahkan selama menjadi panitia, aku mengingat kembali hari terakhirku sebagai peserta. Aku ingin banyak orang merasakan yang sama. Dapat mensyukuri hidup dan anugerah yang diberikan Allah dan melakukan yang efektif bagi meraih tujuan hidup. Aku menyadari, kebahagiaanku adalah ketika aku mampu berkontribusi, sekecil apapun itu, bagi hidup orang lain.

Ternyata menemukan WHY itu terjadi untuk segala sesuatu yang aku lakukan dalam hidup. Seperti, mengapa aku ingin menulis, mengapa aku bekerja, dan banyak hal lainnya. Ketika aku punya WHY yang kokoh, selalu ada cara untuk mengatasi semua aral yang melintang.

Jika sekarang kamu merasa buntu, tidak semangat melakukan dan menyelesaikan apapun yang sudah kamu mulai, bisa jadi kamu belum menemukan WHY yang jelas dan kuat. Seorang filosofi Jerman Frederick Nietzsche pernah mengatakan, "He who has a why can endure any how.WHY yang kokoh akan mendorong seseorang berani mengambil resiko dan menghadapi tantangan, tetap termotivasi meskipun berada dalam kondisi lemah, bertahan dalam kondisi apapun, tidak kalah dengan excuse. Dan ketika merasa lelah dalam perjalanan, WHY yang kuat dan jelas ini pula yang akan menjadi bahan bakar untuk tetap bergerak.

Jadi, sudahkah kamu temukan your strong WHY ?

#myFabulous30
#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid7
#day2
#Fabulous30

Baca selengkapnya

Thursday, May 11, 2017

Monolog Kehidupan

Monolog Kehidupan

Pernahkah merasa, bahwa kehidupan pada dasarnya adalah kesendirian? Bagiku seperti sendiri, di tengah keramaian. Ada banyak orang lalu lalang di sekitarmu. Beberapa singgah dan menemanimu, untuk kemudian pergi lagi. Pada akhirnya pun aku akan pergi sendiri, masuk dalam liang lahat sendiri, dan mempertanggungjawabkan semua yang kumiliki di dunia ini sendirian.

Tapi sendiri tak bermakna tak perduli. Sadar bahwa pada akhirnya semua orang dalam hidup ini akan pergi, tapi juga pahami bahwa aku bisa berkontribusi bagi hidupnya. Aku bertanggung jawab pada diriku sendiri, tapi aku pun berkontribusi pada kehidupan orang lain. Dengan peduliku, juga dengan acuhku. Jadi, mengapa memilih mengabaikan orang, bila aku bisa memilih untuk peduli dan membuat perubahan? Hari ini aku belajar ketulusan. Tulus mendengar, tulus memberi jawaban, menghargai siapa pun yang menghampiri, tanpa ada pengharapan akan diberi.

Tiap detik kehidupan yang kupunya saat ini, pun mungkin tengah didambakan orang-orang di alam penantian hari akhir. Di dalam kubur yang sempit, dingin, dan gelap. Beberapa orang yang menyesal, tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Lalu, apakah aku masih punya alasan, berdiam di tengah kerumunan, tidak melakukan apapun untuk kehidupan? Berhura-hura, malas bergerak dan tak hendak melangkah dari kenyamanan. Sementara waktuku kian tipis, perjalanan di dunia, mendekati titik akhir. Titik dimana semua upaya tak akan berarti lagi. Apa yang sudah kupersiapkan untuk bekal kehidupan yang sejati kelak? 


#30DWCJilid5
#Day30
#Squad1
Baca selengkapnya

Monday, May 1, 2017

Catatan di Tengah Kepayahan

Catatan di Tengah Kepayahan

Dalam kehidupan, sungguh kita dihadapkan pada beragam amanah yang mesti ditunaikan. Baik dalam pekerjaan, dalam keluarga, maupun dalam hubungan dengan orang lain. Kehidupan yang dipenuhi beragam aktivitas dan kesibukan. Ada waktu untuk sendiri, ada waktu untuk orang lain. Tak jarang kita menghadapi berbagai kesulitan. Entah itu datangnya dari situasi yang membuat dilematis, tekanan, bahkan mungkin perselisihan dan konflik ketika berurusan dengan orang lain. 

Semua hal terasa menyulitkan. Langkah kaki terasa semakin berat. Memandang ke depan dan begitu banyak tanggung jawab yang ingin diselesaikan. Sedangkan waktu tak pernah menunggu. Setiap detik dan menit pergi tidak pernah basa-basi untuk menanyakan apakah kita sudah siap menghadapi tantangan kehidupan. 

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam jalan hidup kita, bisa jadi menyengsarakan bila tidak paham cara menghadapinya. Ibarat serangan yang bertubi-tubi dari segala arah, kesulitan bahkan dapat memukul dan menghabisi seluruh energi kita untuk mencapai tujuan. 

Seorang teman saya pernah berkata, "kalau capek dan susah, itu tandanya lu hidup." Perkataannya, menandakan bahwa sudah tabiat kehidupan diisi dengan susah dan senang. Bagi saya, kesulitan adalah bentuk kasih sayang. Seberat apapun rasanya kesulitan hidup, tak pernah ia lebih berat dan lebih besar dari anugerah dan kasih sayang Allah SWT. 

Berulang-ulang disebutkan dalam Al Qur;an, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh DIA sudah memberikan petunjuk bagi manusia. Kalau dihitung - hitung lagi semua yang manusia didapatkan di bumi, rahmat dan kasih sayangNya tidak sebanding sama sekali dengan persoalan yang kita hadapi. Sebesar apapun itu. Bahwa selalu ada solusi untuk semua masalah yang kita hadapi. Karena Allah sudah menyertakan kemudahan dengan masalah itu. Tergantung diri ini untuk dapat melihatnya, memaknainya, dan mensyukuri diri. 

Seberapa beratnya langkah dan hati menanggung beban kehidupan. Bacalah lagi firmanNya. Bacalah berulang - ulang. Bahwa berserta kesulitan ada kemudahan. Beserta kesulitan ada kemudahan. Dan rasakan, bahwa mengatakan ini penuh keyakinan pun, hati akan terasa lapang. Karena yakin akan janji Allah, Rabb penguasa alam.


 
#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day21
#Squad1
Baca selengkapnya

Thursday, April 27, 2017

Curhat atau Mengeluh?

"Sebenarnya, gw ga mau curhat. Ah, drama banget gw hari ini. Sebel."

Sepotong kalimat ini sering saya dengar akhir - akhir ini. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, curhat  adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindarkan. Takut dianggap drama queen, atau tukang ngeluh yang senggol dikit langsung curhat. Pada intinya, tidak ingin di judge dengan isi curhat itu. Bagi sebagian yang lain, curhat dianggap sebagai bentuk keluhan. Saya dulu menahan diri untuk tidak curhat kesana kemari karena satu alasan lain. Yakni merahasiakan keluhan, yang dianjurkan dalam salah satu hadis.

Sudah beberapa tahun lamanya, saya menahan diri untuk menceritakan keluhan atau curhat pada siapa pun. Walaupun itu sebenarnya sedikit berlawanan dengan diri yang cenderung ekstrovert. Jadi tidak menyukai terlalu banyak cerita dan terbuka pada orang lain. Dan bila saya mulai curhat, biasanya ada rasa sesal yang terbit dalam diri. Merasa diri sendiri terlalu dramatis. 

Perasaan yang dipendam ini ibarat sampah emosi yang terkubur dalam diri. Semakin lama berpotensi meledak dan memakan sedikit demi sedikit energi positif. Saya sempat depresi, seringkali menangis tanpa alasan, merasa gagal hidup menjadi perempuan dan kehilangan makna impian. Lalu kemudian merasa bersalah lagi, karena semestinya muslim beriman tak kenal depresi. Masa suram ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga saya tidak bisa merasakan kesedihan mendalam maupun bahagia yang memuncak. Saat itu, saya tidak tahu apa yang salah.

Hingga akhirnya saya mengikuti sebuah training pengembangan diri. Menemukan pelajaran berharga, perihal curhatan dan menyayangi diri. Menyadari, bahwa tak ada yang salah dengan curhat, malah saya amat membutuhkannya. Tapi seperti apa curhat yang dibutuhkan itu?

Curhat yang dibutuhkan itu adalah yang memberi solusi. Biasanya, saya melakukan dua hal ini sebelum curhat: bertanya untuk apa dan kemudian terbuka pada umpan balik dari orang lain setelah mendengar curhat dari saya.

1. Curhat untuk apa?
Saya selalu bertanya pada diri: "Apa yang ingin saya dapatkan dengan menceritakan ini pada si A?". Jika hanya untuk mengeluh, menggerutu, atau menunjukkan sisi mengasihankan, saya urungkan niat curhat. Tapi bila memang ada solusi yang dibutuhkan atau itu efektif untuk menyelesaikan persoalan maupun mencapai tujuan hidup tertentu, lakukanlah. Ceritakanlah apa yang sedang terjadi atau apa yang dirasakan. Kita mungkin akan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah. Tapi yang lebih penting, orang lain mungkin memang punya solusi untuk mengatasi persoalan itu.


2. Terbuka pada umpan balik
Biasanya dari sudut pandang orang lain, terlihat sikap diri yang tidak efektif dalam menyelesaikan atau menghadapi persoalan. Tapi biasanya, kita tidak ingin mendengarkan umpan balik soal itu. Kita fokus mencari pembenaran dan orang yang mau memberi belas kasihan. Menjadi orang di sisi kita. Padahal, umpan balik yang jujur itu penting. Supaya kita bisa memperbaiki sikap atau mengubah sikap ketika suatu saat kelak dihadapkan pada persoalan yang sama. 

Dengan dua sikap ini, saya tidak lagi menumpuk sampah emosi dalam diri. Perasaan cemas dan tiba-tiba menangis tanpa alasan, sudah tidak pernah lagi saya alami. Saya seakan semakin pahami batasan, kapan saya perlu curhat dan kapan saya perlu menyimpannya sendiri untuk dikeluhkan pada Allah saja. Dan hal paling penting saat bijak mengelola curhat adalah masalah-masalah yang tampaknya mustahil dan berat untuk diselesaikan, bisa jadi menemukan solusi dan jawaban. Melalui sesi curhat, tentunya curhat yang beralasan, bukan sekedar keluhan. 

Salam, Tiech. 


Dan aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku perlu berbagi, tentang cerita diri. Bukan untuk membanggakan, bukan pula untuk berkeluh kesah tentang beragam masalah. Tapi bercerita pada orang lain, bahwa aku dalam kesulitan, mungkin mereka bisa memberikan dukungan, untukku melewati tantangan.
Curhat tanpa alasan tetap bisa dihindarkan. Tapi pun aku tidak memendam semua sendirian. Berkeluh kesah pada Allah semata, sejujur  jujurnya, dengan penuh penghambaan padaNya. Orang- orang disekitar hanya menjadi perantara. Hendaknya mereka adalah orang yang bersedia, mengatakan hal yang sebenarnya. Tanpa ada perasaan tidak enak telah menyakiti rasa. Karena sesungguhnya kawan yang sejati tidak pernah menutupi. Ingin kawannya hidup bahagia dan mencapai semua mimpi. 
Sejak itu telah kutemukan, kapan aku perlu bercerita, kapan aku perlu diam. Semuanya hanya soal solusi. Aku tidak bisa menghadapi semua sendiri. Butuh bantuan Allah, juga butuh pertimbangan dari orang lain. Bisa jadi pertolongan Allah datangnya diperantarakan melalui kawanku tadi. Bukankah demikian maksud penciptaan?

#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid5
#Day16
#Squad1
Baca selengkapnya

Saturday, April 22, 2017

Malam

Malam

kesunyian mencari jawaban
dalam hening yang menyisakan suara denyut jantung
memompakan darah
mendorongnya ke seluruh penjuru tubuh

mata telah menaati perintah hati
yang sudah terlebih dahulu penuh
dengan beratnya penyesalan
meluluhkan jiwa yang angkuh

sajadah telah basah
seumpama dialiri hujan deras


bergetar kata-kata
perlahan merayap di setiap inci
kulit tubuh yang berdosa
sesal datang dari seluruh penjuru diri

berharap pada pemilik semesta
untuk menghapusnya

mengakui kekalahan
atas semua bisikan
sementara di depan mata sudah terbayang
api yang siap menjilat badan
di dasar tempat paling mengerikan

sungguh dada semakin terasa sesak
beban yang ingin disuarakan
kini tersendat di tenggorokan
tak mampu kutahan kesedihan atas kealpaan


terdengar isak
terbata menyuarakan
harapan pada Ar-Rahman

Duhai, Rabb semesta alam
kepada siapa dapat kukisahkan kehidupan
melainkan pada Engkau?
yang memberikan kelapangan
dalam hati yang sesak dan dalam kesunyian.

Bandung, April 2017


#30dayswritingchallenge
#squad1
#30DWCJilid5
#Day12

Baca selengkapnya

Wednesday, April 19, 2017

Dialog

Dialog


Hai, Hati
Apa bahagia sedang bersamamu?

Hai, Akal
Tidak. Aku sendiri.

lihatlah gadis ini
senyumnya merekah indah
apa sebabnya, hati?

jatuh cinta kah?

Tidak mungkin, akal!
Karena aku baik - baik saja
tak sibuk dalam rollercoaster rasa

pun tak ada kata - kata puitis
yang membuatku melankolis
Lalu mengapa gadis ini tersenyum sempurna?
Aku tak memerintahkannya

Kau yakin dia sedang tak jatuh cinta, hati?

aku yakin ini bukan jatuh cinta

sejak kapan kau bisa berlogika, hati?
logika itu milikku


Mungkin kali ini, kau bisa menjelaskannya, Akal?
Bukankah tadi kau sedang membuatnya mengingat lelaki itu?


Aku?
Mata baru saja memberiku informasi
sebuah pesan dari sang lelaki
tidak istimewa, hanya tentangnya yang berhasil menjadi juara
dari perlawanan atas dirinya sendiri
lagipula tak ada yang bisa disukai darinya


Bukan lelaki penyayang
bukan yang menggenggam tangan gadis itu di jalan
bukan yang menghangatkanmu
bukankah kau selalu menggigil duhai hati?
Tak ada satu pun yang bisa jadi alasan
untuk jatuh cinta pada lelaki itu

Tidak, Akal
Lelaki itu kadang membuatku hangat
membuatku memintamu memerintah tangan
untuk menggengam jemarinya
membuatku memintamu memerintah telinga
mendengar dengan seksama
membuatku rela berlelah - lelah
agar lelaki itu bahagia

Tapi, tak ada bunga - bunga
Tak ada romantisme dalam hujan
biarpun gadis itu berjalan berdua dengannya
debar jantung terdengar biasa


tak ada luapan rindu, luka, dan bahagia
yang bercampur baur dalam rasa

Mana mungkin itu cinta.

#30dayswritingchallenge
#tentanghati
#30dwcjilid5
#fiksi
#day9
#squad1
Baca selengkapnya