Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Wednesday, March 13, 2024

Ramadhan Mubarak! Saatnya mengeluarkan jurus Menu Andalan untuk Sahur

Alhamdulillah. Tahun ini dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Ini adalah Ramadhan ke-8 saya tinggal di rumah orang tua. Setiap tahun, tantangan Ramadhan yang saya hadapi berbeda. Satu yang masih sama, menu sahur. 


Waktu masih merantau dan tinggal sendiri di Bandung, saya tidak terlalu pilih-pilih dengan menu sahur. Asal cukup nasi, sayur, dan lauk, sudah. Kadang-kadang hanya makan kurma, susu, dan sereal. Pernah juga hanya minum air putih.


Berbeda kalau bersama orang tua yang sudah lansia. Banyak pertimbangan memilih menu: kondisi kesehatan saat itu, menu yang disukai, dan menu yang diinginkan atau diidamkannya. Sejak 4 atau 5 tahun lalu, Bapak sudah mencoret ikan dari daftar menu sahur. Amis dan bikin mual katanya. Mamak pun sama. Saya juga selalu bertanya setelah makan malam berbuka: "besok mau sahur apa Mak? Pak?". Pernah suatu kali Saya lupa bertanya dan masak menu sesuai selera pribadi, ujung-ujungnya tidak mau dimakan. Saya pun akhirnya harus memasak telur dadar sebagai menu gantinya.  


Kalau ditanya apa menu andalan di rumah saat sahur? jawabnya adalah sapi dan mentimun. Setiap awal bulan Ramadhan sudah menjadi kebiasaan Bapak ingin menunya kaki sapi atau tulang rusuk. Biasanya hanya saya buat sop dengan rempah dan seledri saja. Mentimunnya dibuat pecel, jadi diiiris tipis dan disirami saus kacang. 


Hari lainnya saya akan masak daging semur dengan lalap timun. Kombinasi menu paling sering adalah daging rebus cabe hijau dan timun saus kacang. Untuk memberi jeda supaya tidak makan daging setiap hari, biasanya saya bikin ayam semur, udang goreng, atau sambal goreng udang. Kadang-kadang kalau sudah mentok, bikin telur dadar. Sayurannya, kalau tidak bening gambas, ya mentimun saus kacang. 



Karena menunya berulang, saya selalu siap sedia bumbu praktis di awal Ramadhan. Biasanya ada 4 (empat) macam yang saya siapkan: bumbu semur, bumbu dasar putih, cabe giling, dan kacang tanah sangrai yang sudah diblender kasar. Rempah bumbu semur ala saya: bawang merah, bawang putih, kapulaga, pala, bunga lawang, cengkeh, lada hitam, ketumbar, serai, lengkuas, dan kemiri. Untuk bumbu dasar putih selain bawang merah dan bawang putih, saya mencampur kemiri dan serai juga.

Bumbu dasar putih dan bumbu semur

Selain mempersiapkan bumbu, saya juga mempersiapkan tulang sapi, daging sapi, ayam, dan udang. Daging pun biasanya sebagian sudah saya rebus, sebagian lagi dipotong dan dimasukkan ke dalam kontainer sesuai porsi yang akan dimasak. Sedikit repot di awal tapi sangat membantu masak cepat di kala sahur. 


Kalau saya sudah bosan masak daging dengan berbagai varian cara masak, saya keluarkan jurus pamungkas menu: Bubur Paddas. Ini adalah makanan khas suku Melayu Sambas, Kalimantan Barat. Isinya campuran sayuran hutan ditambah dengan bumbu kering (campuran beras, kelapa parut, lada hitam yang disangrai dan diblender) dan bumbu basah (tumis daun kunyit dan daun kesum yang sudah diiris tipis dan ditumbuk). Bubur Paddas ini adalah menu favorit orang tua saya. Pasti terkembang senyum keduanya kalau ada menu ini. Hanya saja untuk membuatnya cukup memakan banyak waktu dan saya biasanya sangat malas :p (hehehe). 

  



Baca selengkapnya

Wednesday, February 14, 2024

Caregiver dan Dosen, Dua Peranku di Masa Kini

Caregiver dan Dosen, Dua Peranku di Masa Kini

 “It is the ultimate luxury to combine passion and contribution. It’s also a very clear path to happiness.” – Sheryl Sanberg


Kutipan ini menjadi salah satu penyemangat dan penguat saya saat merasa kewalahan menghadapi banyak hal dalam hidup. Setelah merantau belasan tahun di Bandung, 7 tahun lalu saya menguatkan keputusan untuk kembali ke kampung halaman. Alasannya sederhana, mengabdi kepada kedua orang tua yang kondisi  kesehatannya semakin memburuk dan membutuhkan perhatian khusus. Begitu saya kembali, saya menjadi caregiver kedua orang tua sekaligus menjadi dosen PNS di Politeknik Negeri Sambas.


Tahun ini adalah tahun ke-8 saya merawat kedua orang tua saya. Pekerjaan berbayar surga, namun ‘terpeleset’ sedikit bisa membawa ke neraka. Awalnya saya yakin bisa menjalankan tugas birrul walidain ini dengan baik, namun dalam perjalanannya, Masya Allah sungguh banyak tantangannya. Semakin lanjut usia Mamak dan Bapak saya, semakin berbeda keduanya secara fisik maupun mental. Bahkan kini, kadang saya merasa siang menjadi malam, malam menjadi siang. Mamak tidak nyenyak tidur di malam hari, jadi saya kerap terjaga hingga pukul 01.00 dini hari, lalu terbangun lagi pukul 03.00. Kadang membantunya ke kamar mandi, menggaruk badannya, menyiapkan makannya, atau memijat punggungnya kalau tiba-tiba beliau merasa sesak.  Sejujurnya ini tidak mudah. Setiap pagi saya memikirkan menu, mempertimbangkan kesukaan Mamak, kondisi perut dan kesehatannya di hari itu, juga mempertimbangkan kesukaan Bapak. Semakin lansia, selain perut yang sensitif, keduanya juga jadi picky eater, seleranya pun berbeda. Kadang saya merasa seperti sedang mengurus new-born. Ada kalanya saya lelah sekali atau dalam kondisi sakit namun tetap harus 'sehat' karena tidak ada yang bisa membantu sayaHanya ada saya, Mamak, dan Bapak di rumah ini. Kalau sudah begitu, biasanya saat menyuapi makan, memijat, atau melakukan apa pun untuk Mamak, saya melakukannya sambil menangis


Biasanya orang memuji saya ketika melihat saya mengurus kedua orang tua. Sebenarnya, saya malu dipuji dan dianggap anak berbakti, padahal masih banyak kurangnya diri kala mengurus keduanya. Doakan saja saya, diberikan kesabaran, dimudahkan semua urusan. Saya masih belajar mengatur peran, di rumah dan di kampus. Saya sedang berusaha mengatur emosi, supaya emosi di tempat kerja tidak terbawa ke rumah dan berakhiran saya membentak kedua orang tua.


Sungguh menjadi dosen dan caregiver di saat yang sama sempat membuat saya mengalami gejala depresi tiga tahun silam. Saya hanya membayangkan mengajar seperti dosen saya dulu saat S1, namun ternyata tuntutan pendidikan tinggi vokasi sungguh berbeda dari universitas ataupun institut. Banyak hal yang harus saya pelajari, banyak pula tuntutan administrasi, belum lagi karakter mahasiswa yang sangat menantang untuk dihadapi. Kadang-kadang, saya tidak sengaja menyerap energi negatif mahasiswa dan membawanya hingga ke rumah. Pernah juga kewajiban saya sebagai dosen bertabrakan dengan tanggung jawab saya sebagai caregiver. Dulu, pernah dua hari sebelum presentasi laporan aktualisasi dalam latsar CPNS, Mamak dirawat. Saya bilang ke Mamak, “Sembuh ya, Mak. Tiha belum menyelesaikan laporan untuk latsar. Mamak ingin anak Mamak jadi PNS kan?”. Sehari sebelum pengumpulan laporan, saya lembur di kantor sampai tengah malam. Ternyata di rumah, lisan Mamak tak henti berdoa untuk saya. Bahkan ketika saya tiba di rumah dan sudah berlutut di depannya, beliau masih terpejam sambil berdoa, "Ya Allah lancarkanlah pekerjaan anakku, selamatkanlah dia." Saya menangis lalu memeluk beliau. "Alhamdulillah, anakku datang," serunya. Tahu apa yang terjadi pada hari terakhir latsar alias pelantikan? Saya menjadi peserta dengan nilai tertinggi di angkatan saya, menjadikan saya peserta terbaik di kelompok latsar CPNS. 


Setelah kejadian itu, saya merenung. Saya punya kedua orang tua yang selalu mendoakan, mendukung, dan bangga atas semua pencapaian saya. Bahkan ketika mahasiswa saya mendapat prestasi nasional dan internasional, Mamak dan Bapak saya turut berbangga dan bahagia. Saya punya Mamak, yang tak henti mendoakan saya meskipun kini kepikunan mulai mendatanginya. Saya punya tiket surga, saya hanya perlu menjalani peran ini sebaik-baiknya meski kesulitan kadang menghadang. Tapi, saya percaya bahwa setiap kesulitan disertai dengan kemudahan. Saya juga yakin bahwa Allah memberikan saya jalan yang pasti sanggup saya lalui. Saya meyakini bahwa kemampuan menjalankan tugas sebagai dosen dan menapaki karir yang baik hingga kini adalah karena semua doa dan harapan orang tua saya yang mencapai langit. Kini, meski berjibaku dengan dua peran yang cukup menyita emosi diri, saya berusaha menyeimbangkan keduanya. Agar orang tua saya tidak merasa ditinggalkan dan pekerjaan saya tetap dapat diselesaikan. Tidak mudah, namun begitulah kehidupan. 


Semangat untuk semua perempuan. Apa pun peranmu dan dimana pun kamu berada. 

#tantanganMaGaTa


 

Baca selengkapnya

Monday, July 5, 2021

Anak Istimewa

Malam itu aku cemas. Akankah aku menerimanya? Aku bukanlah seseorang yang mudah menerima orang baru tinggal di rumah kami. Pagi tiba. Sebuah sepeda roda tiga terletak begitu saja di ruang tamu. Aku tahu, anak itu sudah datang. Aku mendekati kamar yang ada di sebelah ruang tamu. Anak itu sedang digendong kakak iparku.


"Kapan sampainya?," tanyaku. "Baru saja,"kakak iparku menjawab singkat sambil merapikan barang - barang bawaannya. Aku mendekati anak kecil di gendongannya. "Hai. Siapa namanya?,"suaraku berubah ramah sambil menggenggam tangannya. Anak itu membenamkan wajahnya ke bahu kakak iparku sambil tersenyum malu. 


Namanya Nobertus Randy. Usianya 3 tahun. Dia keponakan kakak iparku. Ibunya baru meninggal satu pekan sebelumnya karena penyakit Lupus. Ayahnya meninggal dua hari setelahnya. Ya, anak itu yatim piatu. Abang dan kakak iparku memutuskan untuk mengadopsinya. Hari itu, dia resmi menjadi keponakanku yang ke delapan. 


Randy terbilang sangat aktif. Aku menghindari menyebut kata nakal, walaupun kadang-kadang ada saja perilakunya yang membuat naik darah.  Hobinya ngoprek sampah, bikin karyawan di rumah kami marah-marah, dan sengaja mengusili kakak-kakaknya. Hal yang kita larang, itulah yang dia kerjakan. "Jangan main sampah!" teriak salah satu karyawan di rumah kami. Dia dengan senyum usilnya sengaja menumpahkan semua sampah dalam trash bag dan bermain-main dengannya. Kantong kresek jadi layang-layang lah, botol minum jadi roket, atau kertas jadi pesawat. Ketimbang nakal, aku mendeskripsikan Randy sebagai anak yang imajinatif, berpendirian teguh, menyukai tantangan, dan usil tapi sangat lembut hatinya. Ketika sesuatu membuatnya frustasi, atau saat dimarahi, tangisannya benar-benar terdengar memilukan. Dia akan sesenggukan sambil menutup wajahnya. Bahkan kadang hal yang terlihat sepele, bisa membuatnya menangis begitu sedih. 


 Sebagai muslim, aku paham bahwa ada keistimewaan bagi penyantun anak yatim piatu. Saking istimewanya, disebutkan dalam Al Qur'an dan juga hadis yang shahih (https://www.orami.co.id/magazine/keistimewaan-anak-yatim/). Aku sadar, ada peluang kebaikan dengan hadirnya Randy di rumah. Ketika menceritakan ulah dan perilaku ajaib Randy yang sering menyulut emosi, salah satu kerabat kami bilang, "Emang begitu kalau merawat anak yatim. Perilakunya pasti ada aja nakalnya. Kayak nguji kesabaran kita gitu." Aku berfikir, mungkin karena saking besarnya pahalanya, ujiannya juga setara. Tapi setiap kali mendengar Randi menangis aku jadi khawatir. Aku tidak ingin anak ini terluka dan kesepian. Karena aku tahu, luka masa kecil itu sangat mempengaruhi kehidupan dewasa kelak. Aku mulai mencari-cari materi pengasuhan untuk anak yatim piatu. Aku belajar lagi parenting dan mulai membenahi diri.


Masya Allah, dalam proses belajar itu ada banyak insight yang aku dapatkan. Banyak yang belum aku ketahui tentang pengasuhan (padahal sudah belajar lebih dari 7 tahun). Betapa banyak kesalahan pengasuhan yang aku lakukan selama ini, sampai keponakan-keponakanku sudah besar. Aku mulai membenahi diri dan mengatur emosi. Sadar bahwa meskipun aku bukan ibu mereka, aku punya peran dalam masa kecil keponakanku.


Hadirnya Randy, juga menyadarkanku betapa hebatnya sosok Mamak. Aku merasa berdosa karena sempat menyalahkan pola asuh beliau dulu. Kini aku sadar, pola pengasuhan Mamak adalah yang terbaik di masanya. Beliau tidak pernah mencubit dan memukul kami, bicara dengan nada netral dan mengkomunikasikan semua larangan dengan baik kepada kami. Mamak tidak pernah memaksa kami belajar. Masa kecil adalah masa bermain menurutnya. Beliau selalu sabar, bahkan ketika menghadapi ulah kami. Kini aku memahami semua sikap beliau dari caranya memperlakukan Randy. Beliau selalu menemani Randy bermain, meredakan tantrumnya, bahkan selalu ada ketika Randi menangis atau merasa diabaikan.


Benarlah menyantuni anak yatim piatu itu istimewa. Hadirnya Randy tidak hanya mengajarkanku makna sabar, namun membukakan mataku akan luasnya kasih sayang seorang ibu. Randy memang bukan anak kandungku, tapi dia telah menempati posisi istimewa di hatiku. Kini usianya sudah empat tahun. Semoga hari-hari ke depan, kami diberikan kekuatan untuk mendidik dan mengasihinya selalu, hingga ia tumbuh menjadi insan yang shalih dan berguna bagi sesama. Aamin.




ditulis untuk tantangan Mamah Gajah Bercerita minggu ke-1 bulan Juli 2021 #TantanganMaGaTa

Baca selengkapnya

Thursday, July 20, 2017

Just Give up!

Dalam hidup, sejatinya ada banyak hal yang membuat kita ingin menyerah. Menyerah karena tidak sanggup melakukan setumpuk pekerjaan yang seperti tiada habisnya. Belum lagi tekanan dari berbagai pihak, entah dari keluarga, pekerjaan, atau kegiatan lain di luar itu. 

Dua hari terakhir ini saya melihat beberapa orang dari tim mengundurkan diri. Untuk berbagai alasan dan mungkin pertimbangan. Tapi sejujurnya ini membuat saya sedih. Karena, masa perjuangan kami hanya tinggal delapan hari lagi. Melihat orang-orang satu per satu mengundurkan diri, ingin rasanya saya katakan pada mereka betapa saya pun ingin menyerah saja. Bahwa saya pun memiliki kesibukan lainnya. 

Namun, bukankah saya sudah berjanji akan komit. Sisi lain dari diri saya berteriak dan mendorong diri saya untuk bertahan. Saya tahu bahwa suatu saat nanti saya akan menyesal karena menyerah hari ini. Berkali-kali saya mengatakan kalimat-kalimat ini pada diri:
"Sebentar lagi, satu hari lagi."
"Lihat nanti apa yang akan terjadi, jika kamu tidak menyerah. Nothing to lose, here."
"Mau sampai kapan begini? Kalau tidak tuntas sekarang, kapan lagi?"
"Aku sudah melewati banyak hal dan melewatkan puluhan hari untuk berjuang. Hanya untuk menyerah di hari-hari terakhir?"
"Yes you can. Yes you will, Ti. Remember, why are you here, in this team?"
Setelah mengatakan semua kalimat di atas, saya biasanya kembali bersemangat. Mencari semua jalan yang mungkin, menyelesaikan satu per satu tugas dan hambatan yang saya hadapi. Kewajiban yang rasanya mustahil dan akan sangat melelahkan bila dikerjakan.

Saya bukanlah orang yang punya kemampuan bertahan dalam hal-hal rumit dan rintangan. Saya masih belajar untuk itu. Saya pernah merasakan menang atas diri, tidak mengikuti keinginan sendiri untuk menyerah. Dan rasanya luar biasa. Suatu perasaan menang yang selalu membuat saya ketagihan. Setiap lelah dan ingin menyerah, saya kembali mengingat alasan saya berada dalam tim. My strong why. Kemudian menghipnotis diri dengan kalimat- kalimat yang menjadi mantra penyemangat.

I will not give up. Hanya beberapa hari lagi. Sebentar lagi. Ada banyak hal yang bisa terjadi di hari kedelapan nanti.

Just Give Up thinking about give up!



#myFabulous30
#Day15
#30DWCJilid5
#sQUAD8
Baca selengkapnya

Wednesday, July 19, 2017

Be Loving and Caring Person, hey Me!


Mari kita membuka hati
agar jujur saja
turuti kata nurani
Mari....
kita membuka hati 
agar jujur saja
tak mungkin hadapi hidup....
tanpa cinta
- Sheila Majid-Jujur

Hari ini saya mempunyai tugas menghubungi beberapa orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Untuk menindaklanjuti sesi berbagi sebuah training di salah satu kampus di Jakarta. Jujur saja, meskipun ini bukan yang pertama kalinya tetap saja perasaan cemas itu ada. Takut bila ditolak, bila dianggap aneh atau mengganggu, atau bahkan tidak direspon sama sekali. 

"Ah, kenapa mesti takut. Pada dasarnya bukan saya lah yang ditanggapi. Tapi lembaga yang mewadahi saya. Lagipula saya mendekati manusia." Begitu pikir saya pagi tadi. Saya mencoba mengondisikan diri. Meyakinkan diri bahwa saya melakukan ini bukan untuk saya, tapi sepenuhnya untuk orang yang dihubungi. Mungkin dia ingin mengembangkan diri dan mengenal dirinya dengan lebih baik. Mungkin dia adalah satu diantara banyak orang yang membutuhkan training ini. Saya mencoba 'terhubung' dengan lawan bicara. Meskipun terpisah jarak, saya yakin, yang datang dari hati akan sampai ke hati pula. Ternyata ini efektif. Saya merasakan bahwa orang yang saya hubungi tidak menutup dirinya. Welcome dengan kehadiran saya. 

Beberapa orang belum merespon teks yang saya kirim. Tapi ya sudahlah. Awalnya saya merasa belum maksimal hari ini. Sedikit kecewa pada diri sendiri. Namun seorang kawan di grup, mengapresiasi dengan cara yang membuat saya sadar kembali. "Hargai effort yang kalian berikan. Beneran HARGAI diri kalian," begitu kalimat darinya. Mata saya berkaca-kaca. Sadar bahwa saya hampir saja membuat diri tak berharga. Saya menepuk-nepuk diri. Sambil mengatakan ini: "Terima kasih ya. Sudah melakukan banyak hal hari ini." 

Bukankah hari ini pun saya membuka hati? Datang dan hadir di hadapan orang lain dengan tulus. Tidak membawa target dan pikiran apa pun di kepala. Hanya sekedar ingin terhubung. 

Bukankah saya yang hari ini pun, mulai bergerak dan berubah karena seseorang datang pada saya dengan tulus? Mengatakan semua hal yang ia rasakan tentang saya. Mendorong saya untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebaik-baik manusia. Dan itu semua dimulai dari rasa cinta, yang membuat saya merasa didengar dan diapresiasi keberadaannya.

Hari ini saya belajar lagi tentang sisi diri saya yang lain. Bahwa sebetulnya, I really love seeing myself growing! And seeing others grows too. Melihat orang lain tumbuh, berkembang dan melesat kehidupannya. Dengan menjadi diri saya yang hadir untuknya. Menerima dia dengan segala sisi efektif dan tidak dari dirinya. 

Semua dimulai dari sini. Kejujuran, ketulusan, dan cinta.




#MyFabulous30
#Day14
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Thursday, July 13, 2017

Memilih Sikap dan Perasaan


Ketika sedang mengumpulkan bahan tulisan untuk #myFabulous30 saya menemukan satu pertanyaan menarik di sebuah laman web berbahasa Inggris. Begini bunyinya:  
What does being single at 30 do to a woman's body and mind?
Kira-kira kalau diterjemahkan bebas, pertanyaannya seperti ini: Apa yang terjadi pada pikiran dan tubuh seorang wanita yang masih lajang di usia 30? Penasaran, saya pun membaca jawaban yang disediakan di situ. Dan saya sangat menyukai kalimat penutup yang ditulis oleh sang penjawab pertanyaan.
Being single doesn't affect the woman's mind or body. The woman's attitudes towards and feelings about being single might.
Ya, masih lajang pada usia ini tidak mempengaruhi tubuh maupun pikiran seorang wanita. Sikap dan sudut pandang wanita pada status ’30 dan masih lajang’ mungkin iya. Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dan hampir serupa juga sangat menarik. Membuat saya tahu, bahwa wanita mana pun di dunia ini memiliki concern yang sama, tentang lajang di usia 30.


Sumber Gambar Klik di sini
Saya lalu mengingat-ingat, seberapa sering saya memikirkan dan mempertanyakan hal serupa. Hal-hal yang kadang pada akhirnya membuat diri cemas, merasa nelangsa, atau gagal menjadi perempuan. 

Meskipun sebenarnya tidak sendiri, saya selalu merasa seolah-olah saya adalah lajang paling nelangsa. Apalagi kalau melihat tetangga yang anak-anaknya seusia bahkan lebih muda dari saya sudah dilamar, sudah pada menikah dan punya anak. Juga saat bertemu kawan lama, dan dia langsung bertanya, "Anakmu sudah berapa?".  Dalam grup online pun, lingkaran kawan-kawan seangkatan sudah sibuk dengan obrolan seputar sekolah anak, laktasi, perilaku balita, balada asisten rumah tangga, atau tentang kehamilan anak kesekian. Saya jarang menimpali. Karena sibuk membatin, "kalau menikah seperti dia, mungkin anakku sekarang sudah SD, dan seterusnya". "Jangan-jangan nanti tidak menikah," pikiran seperti ini pun kerap mencemaskan diri. 

Lalu saya menyadari, bahwa semua kegelisahan ini bersumber dari pilihan yang saya buat sendiri. Pilihan untuk memandang status saya saat ini sebagai aib, kekurangan, sumber kegalauan dan kegelisahan utama dalam hidup. Menikah itu bukan lomba lari, kalau kata Tere Liye. Seorang kawan berbagi nasihat pagi ini, intinya semua orang hidup di zona waktunya masing-masing. Kalau zona waktu Jakarta GMT+7, dan Los Angeles GMT-7, apa kehidupan di Los Angeles lebih lambat dibanding Jakarta? Tidak kan. Semua orang memang sedang berlari dalam hidupnya, dalam perlombaannya sendiri. "Semua sesuai rezekinya masing-masing, Ti. Saya nikah, punya anak, dan rumah. Kamu punya waktu sekolah dan kemudahan bekerja ke daerah mana pun." Begitu kalimat seorang kawan, saat saya pernah galau dan menyatakan iri pada kehidupannya yang sudah cukup mapan.

Ah, iya juga. Ada banyak blessing in disguise dalam status ini. Saya terlalu fokus mengasihani diri. Lupa ada banyak hal yang patutnya disyukuri. Kesadaran ini pula yang membuat saya kini berani melakukan banyak hal yang tak biasa. Mencoba memperluas zona nyaman, melakukan hal-hal yang menantang, terlibat dalam berbagai kelas, training, panitia acara dan kepanitiaan disaat kebanyakan wanita seusia saya sibuk membicarakan dunia rumah tangga dan dunia anak-anak. Obrolan-obrolan bersama mama-mama muda ini masih saya simak. Saya anggap sebagai pelajaran pra-nikah.

Ah ternyata, ada banyak hal yang bisa saya lakukan selain fokus pada perasaan dan kegalauan melajang. Terlalu fokus pada status, bukan usaha mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Kini saya memilih untuk sibuk bertindak, sebagai wujud syukur pada satu per satu hal yang bisa nikmati selama masa lajang ini. Kalau kamu, memilih apa? :))

Appreciate the good things you already have in your life — especially the freedom. Ask yourself what joys you’re putting off by waiting until marriage. (Michelle Cove in Seeking Happily Ever After: Navigating the Ups and Downs of Being Single Without Losing Your Mind (and Finding Lasting Love Along the Way).


#myFabulous30
#FabulousMind
#Day8
#Squad8
#30DWCJilid7
Baca selengkapnya

Wednesday, July 12, 2017

The Fabulous 30's Formula

The Fabulous 30's Formula

Saat mencari kata yang pas untuk menggambarkan kehidupan yang saya inginkan begitu memasuki usia 30, tiba-tiba terpikirkan kata Fabulous. Kata yang memberi kesan hebat, elegan, berkelas, dan luar biasa. Untuk memastikannya, saya mencari makna kata Fabulous di Oxford Dictionary dan Google Terjemahan. Ada lima terjemahan dari kata Fabulous yang saya dapatkan dari Google terjemahan:

1. menakjubkan;
2. hebat;
3. besar;
4. seperti dalam dongeng; dan
5. yang tidak dapat dipercaya

Tapi, makna kata ini belum cukup menggambarkan seperti apa Fabulous 30 yang saya inginkan. Unsur apa saja yang merupakan formula menjadi Fabulous 30. Saya lalu menemukan sebuah program transformasi diri bernama The Fabulous Woman Project, di sebuah laman web. Berbeda dari kebanyakan buku dan artikel yang menggunakan istilah 3B (Brain, Beauty, and Behaviour), program ini menggunakan istilah Mind, Body and Soul. Ketiga unsur ini saya rasakan lebih pas dan sejalan dengan tulisan saya sebelumnya tentang "10 Hal yang saya Sadari Saat Usia 30" yang jika diambil benang merahnya mencakup ketiganya.

MIND
Pola pikir dan sudut pandang dalam menghadapi berbagai hal dalam hidup akan mempengaruhi cara seseorang bersikap. Hal ini lah yang perlu dimiliki jika ingin menjadi seorang fabulous woman. Pola pikir ini merupakan hal mendasar, karena akan berpengaruh pula pada cara seseorang memperlakukan tubuh dan jiwanya.
Filled with a positive and abundant mindset, you’ve changed your beliefs and your life.
The little things that used to stress you out no longer bother you. (The Fabulous Woman Project)
BODY
Sudah cukup banyak artikel yang menceritakan bahwa secara fisik, terjadi perubahan pada tubuh wanita, begitu menginjak usia 30. Mulai dari kesehatan tulang, tingkat metabolisme yang menurun, jantung, dan munculnya berbagai masalah terkait dengan kesehatan kulit. Bukan sekedar untuk terihat cantik, namun merawat diri juga merupakan cara mencintai dan menghargai diri sendiri, dan bentuk syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. 
You’ve got energy to burn and are looking great. You eat to nourish your body and there’s no guilt when it comes to food. Your skin is looking positively radiant and glowing.(The Fabulous Woman Project)
SOUL
Fabulous Life adalah ketika dapat menjalani hidup dengan passion, fokus pada hal yang baik dan membahagiakan, dan mengikuti nurani. Bagi saya ini juga berarti kehidupan yang saya pilih adalah hidup yang sesuai dengan panggilan jiwa saya, sejalan dengan bakat dan anugerah yang Allah berikan.
Feeling happy, fulfilled and content... you are finally on your true path. 
You follow your heart and live your life with passion.
(The Fabulous Woman Project)
Jadi formula Fabulous 30 saya adalah fabulous Mind, Body, dan Soul. Pada tulisan-tulisan berikutnya dengan label Fabulous 30, saya akan membahas ketiga unsur ini.

Nantikan, tulisan berikutnya ya!

#MyFabulous30
#30DWCJIlid7
#Day7
#Squad8

Rujukan: 
https://www.thefabulouswomanproject.com/
Baca selengkapnya