Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Tuesday, August 1, 2017

Nanti

Nanti


Ada banyak hal yang tertunda dalam hidup saya, karena satu kata: nanti. Nanti deh. Bentar lah. Sehabis ini lah. Sampai kadang tertunda bertahun-tahun lamanya. Salah satunya menempuh pendidikan magister yang tertunda hingga empat tahun dari rencana semula. Ada pula hal-hal yang tak sempat saya lakukan. Karena saya melewatkan momen dan kesempatan yang tersedia. Akibat kata nanti. 

Hal ini pula yang menjadikan saya seringkali mengerjakan segala sesuatu mepet ke deadline. Selain memang karena ada hal lain yang perlu diprioritaskan, tidak jarang pula terjadi karena saya menunda. "Nanti deh, kalau sudah mood. Nanti deh makan dulu. Nanti, agak sore." Akhirnya kadang saya tidak punya waktu banyak untuk merapikan pekerjaan atau memeriksanya kembali. 

Hari ini saya sadar penyakit nanti mulai datang kembali. Ada beberapa pekerjaan yang saya lupakan, gara-gara pada saat kewajiban itu datang, saya katakan: iya, nanti. Ada pula beberapa hal yang langsung saya respon. Seperti kesempatan-kesempatan terkait dengan proyek baru, kelas kepenulisan baru, dan berbagi event upgrading diri. Saya kemudian merenungi perbedaan respon saya ini. Apa yang membuat saya menjadi penunda di satu hal, namun responsif alias cepat tanggap di hal lainnya? 

Saya pun sadar bahwa setiap kali sedang dalam responsive mode, pada dasarnya saya aware akan waktu. Semakin bertambah usia, saya semakin merasa bahwa waktu yang saya punya semakin sempit. "Aku ga punya nanti. Now or regret it!" Itu yang terus saya ucapkan pada diri sendiri. Sehingga, sekalipun ada risikonya, berat atau bahkan tampak tidak mungkin, akan tetap saya lakukan. Karena saya merasa tak ada yang tak mungkin selama saya punya strong why. 

Sekarang saya tinggal menerapkannya di seluruh aspek kehidupan saya. Bahwa waktu saya terbatas. Bahkan saya tidak bisa menjamin umur saya ada sampai detik berikutnya. So, kenapa saya harus sering mengatakan nanti? Karena saya belum tentu punyai nanti itu. 

Kalau Anda, bagaimana? 

#Day27
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Saturday, July 22, 2017

Rahasia Bahagia

Pernah menonton film animasi "Trolls" berkisah tentang kaum Trolls yang diburu para Bergan? Trolls diburu karena Bergan meyakini bahwa hanya dengan memakan Trolls mereka akan bahagia. Saya ga akan cerita kelanjutannya ya. Nanti malah menjadi spoiler, hehe. Film itu membawa pesan tentang kebahagiaan. Bahwa sesungguhnya setiap dari kita pun menginginkan kebahagiaan. 

Pernah ada suatu masa, saya meyakini bahwa bahagia adalah ketika saya tahu tujuan hidup saya. Dan selama saya tidak menemukannya, ada sesuatu yang salah. Saya tidak bahagia. Bahkan sempat merasakan emotionless. Sempat pula menanyakan, apa sebenarnya bahagia? Saya merasakan bahwa tujuan hidup manusia sudah disebutkan dalam Al Qur'an. Mengapa pula saya masih merasa tidak bahagia?

Dari sebuah training dan sebuah terapi, saya menyadari bahwa bahagia adalah pilihan. Loh kok gitu? Perasaan kan tidak selalu bisa kita kendalikan? Bagaimana mungkin memilih perasaan bahagia? Perasaan memang tidak selalu bisa dikendalikan. Namun kita bisa memilih cara pandang, sikap dan tindakan kita pada sesuatu hal. Yang mana itu semua akan mempengaruhi perasaan kita. Coba lihat gambar di bawah ini.

Sumber Gambar: Pinterest

Saat saya merasa bahwa saya harusnya punya tujuan dalam hidup, saya pun tidak 100% bertindak menemukan tujuan itu. Malah menghakimi dan membenci diri sendiri. Padahal, saya punya pilihan. Menghargai hal-hal yang saya miliki, mau mensyukuri apapun yang sudah Allah berikan. Seperti gambar di atas. Atas terjadinya sesuatu atau kondisi yang tak menyenangkan yang saya alami saya bisa memilih sikap. Untuk menyesal, terus menangisinya, lalu semakin lama membenci diri. Atau justru melihatnya dari sisi lain. Bahwa hal tak menyenangkan terjadi sebagai pembelajaran. Bisa jadi ada berkah tersembunyi di baliknya. 
Ah, saya jadi teringat sebuah hadist:
Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya (HR Muslim)"
Jadi, apa rahasia bahagia? Rahasianya ada dalam diri masing-masing. Karena rasa bahagia adalah pilihan.

#myFabulous30
#30DWCJilid7
#Day17
#Squad8
Baca selengkapnya

Thursday, July 20, 2017

Just Give up!

Dalam hidup, sejatinya ada banyak hal yang membuat kita ingin menyerah. Menyerah karena tidak sanggup melakukan setumpuk pekerjaan yang seperti tiada habisnya. Belum lagi tekanan dari berbagai pihak, entah dari keluarga, pekerjaan, atau kegiatan lain di luar itu. 

Dua hari terakhir ini saya melihat beberapa orang dari tim mengundurkan diri. Untuk berbagai alasan dan mungkin pertimbangan. Tapi sejujurnya ini membuat saya sedih. Karena, masa perjuangan kami hanya tinggal delapan hari lagi. Melihat orang-orang satu per satu mengundurkan diri, ingin rasanya saya katakan pada mereka betapa saya pun ingin menyerah saja. Bahwa saya pun memiliki kesibukan lainnya. 

Namun, bukankah saya sudah berjanji akan komit. Sisi lain dari diri saya berteriak dan mendorong diri saya untuk bertahan. Saya tahu bahwa suatu saat nanti saya akan menyesal karena menyerah hari ini. Berkali-kali saya mengatakan kalimat-kalimat ini pada diri:
"Sebentar lagi, satu hari lagi."
"Lihat nanti apa yang akan terjadi, jika kamu tidak menyerah. Nothing to lose, here."
"Mau sampai kapan begini? Kalau tidak tuntas sekarang, kapan lagi?"
"Aku sudah melewati banyak hal dan melewatkan puluhan hari untuk berjuang. Hanya untuk menyerah di hari-hari terakhir?"
"Yes you can. Yes you will, Ti. Remember, why are you here, in this team?"
Setelah mengatakan semua kalimat di atas, saya biasanya kembali bersemangat. Mencari semua jalan yang mungkin, menyelesaikan satu per satu tugas dan hambatan yang saya hadapi. Kewajiban yang rasanya mustahil dan akan sangat melelahkan bila dikerjakan.

Saya bukanlah orang yang punya kemampuan bertahan dalam hal-hal rumit dan rintangan. Saya masih belajar untuk itu. Saya pernah merasakan menang atas diri, tidak mengikuti keinginan sendiri untuk menyerah. Dan rasanya luar biasa. Suatu perasaan menang yang selalu membuat saya ketagihan. Setiap lelah dan ingin menyerah, saya kembali mengingat alasan saya berada dalam tim. My strong why. Kemudian menghipnotis diri dengan kalimat- kalimat yang menjadi mantra penyemangat.

I will not give up. Hanya beberapa hari lagi. Sebentar lagi. Ada banyak hal yang bisa terjadi di hari kedelapan nanti.

Just Give Up thinking about give up!



#myFabulous30
#Day15
#30DWCJilid5
#sQUAD8
Baca selengkapnya

Tuesday, July 18, 2017

Discover Yourself


Waktu terbatas bisa menjadi trigger bagi orang untuk bergerak. Saya pernah mengalami suatu masa, dimana saya sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Menghitung-hitung berapa lama waktu yang terbuang. Ada hidup yang saya inginkan, tapi saya tak tahu harus melakukan apa. Saya merasa tidak mampu, takut gagal, tidak punya bakat untuk melakukan hal-hal hebat, tidak bisa berkomitmen, dan tidak layak. Semua keyakinan ini semua membuat saya benci pada diri sendiri.  Saya bertanya-tanya, sampai kapan saya akan terjebak dalam lingkaran yang itu -itu saja. Menginginkan kehidupan yang berbeda, namun tidak melakukan apa-apa. Menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan mengutuk diri saja. Dan tiba-tiba waktu habis, menguap begitu saja. Kemana umur 20an saya pergi?

Saat itulah saya merasa saya perlu melakukan sesuatu. Dari share seorang kawan di grup, saya baru tahu bahwa sebuah pelatihan yang saya kira hanya untuk fresh graduate ITB, kini membuka pendaftaran. Syaratnya ternyata hanya satu usia maksimal 30 tahun. Saya memutuskan mendaftar, tanpa tahu seperti apa trainingnya. Saya mulai mencari informasi dari internet, tentang pelatihan bernama Self Insight Awareness Training (SIAware). Tidak banyak informasi tentang detail jadwalnya. Namun banyak testimoni dan tuisan blog yang membantu saya kala itu.

Dan setelah mengikutinya, saya baru mengerti, mengapa prosesnya tidak diceritakan. Karena justru disanalah serunya. Empat hari training itu sangat bermakna bagi saya. Menjadi titik balik, seperti terang sesudah gelap, sepert isakit yang menemukan penawarnya. Saya tidak hanya menemukan diri saya sendiri, menerima kekurangan diri, menghargai anugerah dan semua usaha yang sudah saya lakukan dalam hidup ini. Namun juga belajar memaafkan dan melepaskan masa lalu yang menyakitkan. Dan paling penting, disinilah saya memutuskan, berani bertindak untuk hidup saya. Di SIAware ini pula saya akhirnya bisa melihat jelas, apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup. 

Selepas SIAware saya banyak mengambil keputusan dan melakukan hal-hal penting dalam hidup. Satu per satu wishlist, kini menjadi done list. Satu langkah tindakan yang saya ambil, membuka banyak pintu bagi terwujudnya harapan lain. Saya memberanikan diri mendaftar sebuah pelatihan menulis. Saya mendaftar di menit-menit menjelang pelatihan dimulai. Informasinya baru saya baca malam harinya. Kalau saya yang lama, mungkin langsung menyerah mendengar pendaftaran sudah ditutup. Namun, saya sadar, tak ada salahnya mencoba. Kalau memang sudah tutup, memang belum rejekinya. Dan ternyata mereka masih menerima pendaftaran. Resmlah saya bergabung sebagai peserta terakhir dalam sebuah program Bikin Buku Club.

Bergabungnya saya dalam club ini, membuka saya pada lebih banyak komunitas menulis, kelas online, juga berbagai event kepenulisan. Jejaring pertemanan saya dalam dunia tulis-menulis semakin meluas. Banyak ilmu yang saya dapatkan tentang kepenulisan. Padahal awalnya saya sama sekali tidak membayangkan akan aktif menulis seperti ini. Saya khawatir tulisan dihakimi, tulisan tidak bagus. 

Dulu saya hanya menatrgetkan satu buku sebelum mati. Kini saya bermimpi dapat menulis lebih banyak dan lebih lama lagi. Saya tidak pernah menyangka saya memiliki sisi diri yang seperti ini. Yang mau berjuang dan melihat kesempatan dalam setiap hal. Yang bila fokus pada potensi dan kemampuan yang dimiliki, ternyata bisa melakukan banyak hal yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Ketika saya memutuskan melakukan sesuatu yang tidak biasanya, sesuatu yang berbeda, saya menemukan sisi diri yang efektif. Seorang kawan pernah mengatakan


Hal baru = tidak nyaman = discovery 
(Indah, 2017)

Intinya, adalah ketika saya memilih melakukan hal baru, ada tantangan baru yang akan saya hadapi. Dan itu kemungkinan membuat saya tidak nyaman. Namun, justru dari berbagai pengalaman, saya belajar bahwa ketidaknyamanan itu membawa saya pada pembelajaran baru. Mengantarkan saya untuk discover my self. "Oh, ternyata aku bisa melakukan ini. Oh, ternyata aku punya kemampuan seperti itu." Yang itu belum tentu saya temukan, ketika saya melakukan hal yang sama, memilih yang nyaman saja. 

Dan satu hal, pembelajaran ini tidak akan ada habisnya selama saya masih hidup. Karena memang manusia diciptakan dengan segala potensi yang Allah berikan kepadanya. Dan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari diri sendiri. 

So, i decided to start living the life i imagined. 
How about you?


#MyFabulous30
#Day13
#Squad8
#30DWCJilid7
 
Baca selengkapnya

Tuesday, July 11, 2017

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas 3 dari 10 hal yang saya sadari begitu memasuki usia 30:
1. Kesadaran merawat diri
2. Memanfaatkan kesempatan apapun yang dimiliki
3. Hasrat Kembali ke Rumah semakin besar
Lalu, apa saja 6 hal lainnya?
 
4. Sibuk dengan Self Improvement
Menyadari waktu yang kian terbatas sementara diri ini minim prestasi, saya merasa membutuhkan self improvement atau pengembangan diri. Pada saat lulus SMA saya memang gemar membaca buku-buku psikologi dan pengembangan diri. Namun masuk usia duapuluhan saya lebih sering mengoleksi novel dan buku tentang tips-tips praktis dalam hidup. Akhir-akhir ini selain mengikuti tes kepribadian yang gratis maupun berbayar, saya menyukai hal-hal yang berkenaan dengan self healing, mengenal diri melalui Human Design Approach, mengikuti training, coaching, dan mulai mengoleksi lagi buku-buku bertema Self Improvement. 

5. Mencintai dan Menerima Diri
Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah membandingkan diri saya dengan orang lain. Dengan teman yang sudah menikah dan punya anak, dengan teman yang sudah menyelesaikan pendidikan magister dan doktornya di luar negeri, dengan teman yang sudah berada pada jenjang karir yang tinggi dan lembaga prestisius, dan banyak hal lainnya. Hasilnya saya membenci diri saya sendiri dan merasa terjebak dalam jiwa yang salah. Kemudian melupakan bahwa ada banyak dari diri yang bisa disyukuri. Saya terlalu lama fokus pada pencapaian orang lain dan kelemahan diri. Melupakan bahwa saya punya tujuan sendiri, cara dan mungkin hasil yang berbeda dari orang lain. Saya hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri sendiri. 

6. Butuh Visi dan Target Abadi
Sebenarnya saya selalu merasa punya tujuan hidup. Beribadah kepada Allah. Itulah yang mestinya seorang muslim miliki dan tercantum pula dalam kitab. Tapi saya kemudian menyadari bahwa itu sebenarnya tujuan penciptaan manusia. Saya ternyata belum memiliki tujuan yang jelas, yang sejalan dengan tujuan penciptaan itudan yang menjadi alasan untuk saya melakukan apapun dalam hidup. Dan itulah yang saya butuhkan, agar semua yang saya lakukan bermakna ibadah, agar saya selalu punya energi untuk bergerak dalam hidup. 

7. Karir ini bukan yang saya inginkan
Ketika saya mulai tidak tertarik dan excited saat mengerjakan proyek-proyek di kantor, awalnya saya pikir itu hanya jenuh. Namun semakin lama, saya meyakini ada sesuatu yang tidak pas. Tes kepribadian dan bacaan-bacaan self improvement, juga keterlibatan saya pada aktivitas sosial di luar kantor membantu saya mengenali bakat saya yang sesungguhnya dan menemukan karir impian saya. Saya memutuskan keluar dari kantor. Dan kini sedang mencoba memasuki dunia pekerjaan baru dan fokus menulis. 

8. Tidak tertarik bermain-main
Dulu, di tahun-tahun awal saya bekerja, saya selalu menyiapkan waktu khusus diakhir pekan untuk bertemu teman-teman. Kami menyebutnya dengan agenda 'main'. Agenda ini kadang diisi dengan sekedar makan-makan di kafe, jalan-jalan, ke mall, nonton bioskop, karaoke, atau sekedar berolah raga di lokasi Car Free Day. Kami bisa menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Kini, agenda seperti itu sudah tidak menarik hati lagi. Saya lebih memilih menemui orang untuk silaturahmi, atau menghadari acara-acara amal, pengajian, atau seringnya memilih di rumah untuk membaca buku atau membereskan rumah. Waktu saya terlalu berharga untuk sekedar bermain.

9. Nyaman > Gaya
Bicara soal penampilan, dulu saya paling tidak mengerti pada seorang kawan yang usianya 18 tahun lebih tua dari saya. Dia sangat menyukai sepasang sepatu kulit yang menurut saya modelnya membuat kakinya terlihat gendut, tidak menarik.  Saat itu saya menyukai sepatu berhak tinggi dan berpotongan menarik sehingga membuat kaki terlihat jenjang, meskipun terasa sakit memakainya. Kini, saya lebih tertarik pada sepatu yang nyaman dipakai, tidak masalah kalau bukan trend. Begitupun dengan kerudung. Kalau dulu masih betah memakai pasmina, ikut tutorial, sibuk menggunakan jarum pentul. Kini, saya memilih kerudung yang nyaman dan mudah dikenakan.Kadang saya hanya menggunakan dua bros atau peniti saja. Yang penting kerudungnya tebal, tidak licin dan menutup dada. Tutorial hijab itu semakin memusingkan kepala saya.

10. Mempersiapkan Dunia dan Akhirat
Setelah melewati hidup ibarat mengalir seperti air, saya sadar bahwa jika saya tidak cukup mempersiapkan hidup saat ini, maka di hari tua nanti lah akibatnya akan saya rasakan. Saya sadar perlu investasi, memiliki tabungan jangka menengah dan jangka panjang, mengelola keuangan untuk mempersiapkan kehidupan mulai dari menikah, punya anak, hingga masa pensiun kelak. Dan dimasa ini pula saya semakin jeli pada setiap kesempatan untuk berinvestasi di akhirat. Entah itu dengan sedekah, berbuat baik tanpa melihat besar kecilnya tindakan itu, berharap pada setiap tindakan yang berniat untuk Allah, diterima dan diridhoi-Nya. 

Nah, begitulah 10 hal yang saya sadari begitu masuk usia 30. Kalau kamu bagaimana? Yuk, didaftar yuk!. Siapa tahu kamu punya daftar yang berbeda dan bisa menjadi pelajaran bersama.

#myFabulous30
#Day6
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Saturday, July 8, 2017

Discovering WHY


Sumber Gambar
Pada tulisan sebelumnya saya menceritakan tentang pentingnya memiliki WHY dalam apapun yang kita lakukan. Bagi yang baru memasuki usia tiga puluh seperti saya, meninjau kembali tujuan hidup merupakan hal penting. Menurut psikolog, pada masa ini manusia mulai menyadari bahwa waktu yang ia miliki terbatas. Dan sudah bukan saatnya lagi bermain-main dan membbuang waktu melakukan hal yang tidak bermakna. Pada masa ini pula, kemapanan hidup adalah sesuatu yang dirasa makin dibutuhkan. Beruntunglah yang sudah mapan sebelum usia 30, namun bagi yang belum jangan khawatir. Belum terlambat melakukan tindakan untuk melesatkan hidupmu. 

Mengapa kita melakukan ini dan itu? Apasaja yang sudah diraih? Apalagi yang ingin dicapai dalam hidup?   Temukan WHY kehidupanmu, dari apapun yang sedang kamu lakukan sekarang. Ada banyak yang harus dipersiapkan untuk masa depan. Karena usia manusia terbatas, maka tujuan yang jelas akan membantumu menjadikan hidup lebih bermakna. 

Menemukan WHY ini sebenarnya susah-susah gampang, membutuhkanmu untuk lebih peka ada perasaan. Bukan sekedar menggunakan pikiran, namun juga bermain dengan hati sendiri. Bagi saya, menemukan WHY membutuhkan dua formula sederhana: KENAL dan TANYA. 

1. Kenali Dirimu
Sudah hidup lebih dari tiga puluh tahun, masih belum kenal diri sendiri? Kita mungkin mengenal diri kita dengan baik, tapi sebenarnya kita memiliki blindspot tentang diri sendiri. Yang saya maksud mengenal diri disini adalah mengenal potensi, bakat, kelebihan dan kelemahan diri. Ada banyak jenis uji pengenalan diri sendiri seperti talent mapping, STIFIn, MBTI Test, dan banyak personality test lain yang cukup terkenal. Usahakan jangan menggunakan tes-tes internet yang bersifat gratisan. Kalau kamu ingin hasil akurat dan kesempatan berkonsultasi, gunakan tes berbayar, anggap ini investasi buat pengembangan dirimu. 

Jika kamu sudah pernah melakukan tes serupa, lihat lagi hasilnya. Pahami lagi apa yang menjadi bakat dan kemampuanmu. Fokus pada pengembangan kelebihanmu, bukan hambatannya, bukan pula pada kekurangan yang kamu miliki. Bakat dan kemampuan ini sejatinya adalah anugerah Tuhan. Dan salah satu bentuk mensyukurinya adalah dengan mendayagunakannya. 

Saya sendiri mengikuti tes STIFIn, dan akhirnya mengerti apa yang saya anggap sebagai kekurangan selama ini, adalah anugerah yang Tuhan berikan buat saya. Jika kamu sudah tahu dan sadar akan bakat, kekuatan, dan kelemahanmu, selanjutnya tanya dirimu!

2.Tanya Dirimu 

Di tulisan sebelumnya saya menceritakan tentang bagaimana saya menemukan WHY dari hal yang saya sedang lakukan.  Saya bertanya dan terus bertanya pada diri sendiri hingga saya tidak bisa bertanya lebih jauh lagi. Keep asking yourself WHY until you can’t go any further. Tentunya ini bukan sekedar terus bertanya mengapa dan kenapa ya. Libatkan hatimu ketika bertanya. Apa yang kamu rasakan saat itu. Apakah jawabannya memiliki nilai? Apakah jawabannya membuatmu merasakan emosi tertentu? Jika perasaanmu datar-datar saja, atau kamu sama sekali tidak memiliki bayangan yang jelas tentang tujuan itu, artinya kamu belum menemukannya.

Ada banyak tips praktis di internet tentang menemukan WHY. Walaupun sebagian besar terkait dengan bisnis, namun relevan juga diterapkan bagi kehidupanmu. Saya berikan dua sumber yang menurut saya paling membantu. Siapa tahu ini pun akan membantumu juga. 


Selamat menemukan tujuanmu dan bersiaplah melesatkan kehidupanmu. 

#myfabulous30
#30dayswritingchalleng
#30DWCJilid7
#Day3
#Squad8



Baca selengkapnya

Friday, July 7, 2017

WHY




Begitu bunyi pesan dari seorang kawan yang kala itu menceritakan pembelajaran yang ia dapatkan dari sebuah pameran seni yang digelarnya. Pembelajaran yang terus berulang kudapatkan dari banyak orang. Dari Mas Rezky #passionwriter yang mengampu program 30 days writing challenge, juga hari ini dari penulis yang aku kagumi, Bunda Asma Nadia. Aku yakin, bukan kebetulan kata-kata ini terus kudapatkan. 

Ada beberapa kejadian yang pernah kualami, yang kurasakan adalah pembelajaran tentang pentingnya sebuah alasan yang kokoh dalam melakukan apapun. Salah satu kejadian yang berkesan adalah ketika aku menjadi panitia sebuat training pengembangan diri. Aku menjadi penanggung jawab divisi registrasi, yang mana tugasnya adalah menindaklanjuti calon peserta yang sudah mendaftar. Tindak lanjut ini berupa menanyakan waktu membayar, mengingatkan untuk melengkapi persyaratan pendaftaran lainnya. Seringkali calon peserta yang sudah mendaftar tidak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari panitia. Kadang, butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk memastikan satu peserta melengkapi semua persyaratan. Setiap hari banyak calon peserta yang mendaftar, jadi tentu saja saya dan tim sibuk selalu. 

Ditengah padatnya aktivitasku yang lain, kondisi ini melelahkan sekali. Menghadapi peserta yang banyak excuse, yang sulit dihubungi, juga mempersiapkan kebutuhan lain sebelum training. Beberapa kali aku mengajukan keinginan mengundurkan diri. Tapi setiap kali pula aku menanyakan kembali pada diri, mengapa aku menjadi panitia? Bukankah memang aku punya banyak aktivitas? Bukankah dari awal sudah diingatkan oleh ketua, bahwa divisi registrasi adalah divisi yang sibuk setiap hari. Aku ingin menjadi panitia, karena ingin menjadi bagian dari tim yang mewujudkan pelatihan ini bagi orang-orang yang ingin menghadirkan perubahan dalam hidupnya. Aku ingin orang lain merasakan pengalaman berharga seperti apa yang aku rasakan.

Tapi, itu bukanlah WHY yang sesungguhnya. Deretan pertanyaan yang kutanya pada diri sendiri. , membantuku menemukannya
  • So WHY, pengalaman itu ingin aku bagikan ke orang lain? Karena aku ingin bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya dengan memperkenalkan dan mengajaknya ikut serta
  • Lalu, mengapa bermanfaat bagi orang lain penting bagiku? Karena aku  pernah mendengar hadist, bahwa sebaik-baik muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan aku ingin ini menjadi investasiku buat hari akhir kelak. Bila aku menjadi bagian dari panitia pelatihan ini, dan ada perubahan atau kebaikan yang dilakukan oleh peserta karena terinspirasi kegiatan ini, bukankah Allah juga menjanjikan kebaikan yang sama untukku?
  • Mengapa kebaikan itu jadi penting bagiku? Usiaku sudah 30, jatah hidup berkurang dan ada banyak kesempatan yang sudah kulewatkan dalam hidup. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan berkontribusi berbuat baik bagi banyak orang seperti ini.
  • Mengapa? Karena itu salah satu caraku untuk meraih ridha Allah, sumber dari segala kebahagian dunia dan akhiratku. 
Di saat-saat melelahkan selama menjadi panitia, aku mengingat kembali hari terakhirku sebagai peserta. Aku ingin banyak orang merasakan yang sama. Dapat mensyukuri hidup dan anugerah yang diberikan Allah dan melakukan yang efektif bagi meraih tujuan hidup. Aku menyadari, kebahagiaanku adalah ketika aku mampu berkontribusi, sekecil apapun itu, bagi hidup orang lain.

Ternyata menemukan WHY itu terjadi untuk segala sesuatu yang aku lakukan dalam hidup. Seperti, mengapa aku ingin menulis, mengapa aku bekerja, dan banyak hal lainnya. Ketika aku punya WHY yang kokoh, selalu ada cara untuk mengatasi semua aral yang melintang.

Jika sekarang kamu merasa buntu, tidak semangat melakukan dan menyelesaikan apapun yang sudah kamu mulai, bisa jadi kamu belum menemukan WHY yang jelas dan kuat. Seorang filosofi Jerman Frederick Nietzsche pernah mengatakan, "He who has a why can endure any how.WHY yang kokoh akan mendorong seseorang berani mengambil resiko dan menghadapi tantangan, tetap termotivasi meskipun berada dalam kondisi lemah, bertahan dalam kondisi apapun, tidak kalah dengan excuse. Dan ketika merasa lelah dalam perjalanan, WHY yang kuat dan jelas ini pula yang akan menjadi bahan bakar untuk tetap bergerak.

Jadi, sudahkah kamu temukan your strong WHY ?

#myFabulous30
#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid7
#day2
#Fabulous30

Baca selengkapnya

Thursday, April 27, 2017

Fabulous 30 (Bagian 1)

Fabulous 30 (Bagian 1)



 "Kamu pilih-pilih kali. Terlalu banyak kriteria. Makanya belum ada yang mau. Jadi perempuan itu nerima aja. Kalau usia sudah kepala tiga, semakin susah jodoh mendekat."

Sepenggal nasihat di atas mungkin akrab di telinga pada ladies di usia 30an dan masih melajang. Sebagian orang menanggapi santai, ada pula yang kesal. Saya sendiri termasuk kategori pertama. 

Fenomena melajang ini sepertinya sudah sangat mengglobal. Mulai dari Amerika Serikat yang proporsi lajangnya mencapia 25 %, juga Jepang yang angka wanita lajangnya meningkat hingga 28, 8% pada tahun 2014.  Well, dari segi budaya mereka memang berbeda dengan Indonesia. 

Mengutip hasil survey yang dipublikasikan di sebuah web,  jumlah wanita lajang  usia 24-44 tahun di Indonesia menipis tajam menjadi 17,13 persen. Kecenderungannya, menikah di usia produktif masih menjadi pilihan perempuan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan trend tahun 2019 -2013, dimana pernikahan rata - rata bertambah 1,54 persen setiap tahunnya. 

Menariknya, data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian perempuan Indonesia sudah mulai memilih untuk melajang atas alasan pekerjaan dan lainnya, namun ia belum menjadi trend sosial. Kebanyakan perempuan Indonesia masih memilih menikah ketimbang karier. Penyebab lainnya, juga karena sosial budaya masyarakat Indonesia yang masih memandang 'keberhasilan' perempuan adalah ketika ia bisa menggaet anak orang, menjadi suaminya. 

Pandangan-pandangan negatif terhadap wanita usia 30an dan masih melajang seringkali memberi dampak pada status emosi wanita. Bagi sebagian perempuan, melajang bukanlah pilihan. Ada hal yang mungkin sudah banyak ia usahakan untuk menemukan sang belahan jiwa, namun belum juga ditemukannya. Sehingga bila mendengar perkataan yang menyindir diri, itu akan menjadi bumerang bagi sang perempuan. Tenggelam dalam sampah emosi. Belum lagi ketika sudah mulai merasakan, perubahan kulit dan metabolisme. Perempuan bisa merasa tidak berharga dan diabaikan.

Padahal, sebagai fase baru dalam hidup, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa dilakukan. Seperti blessing in disguise, ada saja yang bisa disyukuri dengan hidup sebagai lajang. Bahkan single ladies sebaiknya menjadikan usia kepala tiga ini sebagai waktu paling efektif dan bermakna dalam kehidupan. Sibuk menebarkan manfaat, bukan jala tebar pesona. Sibuk mencari dan mengamalkan ilmu, sehingga kualitas diri meningkat. 

Woman, 30, and Single, it is a BIG deal.
So, how to live in your 30s, ladies?
Stay tune!


love, Tiech. 


#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day17
#Squad1
#Fabulous30


Referensi:
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160308193757-277-116237/perempuan-indonesia-masih-pilih-menikah-dibanding-karier/
Baca selengkapnya