Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Wednesday, February 7, 2024

Aku si Performer Lokal Era 90an

Setelah menjadi orang dewasa, banyak di antara kita yang menyadari bahwa masa kecil adalah masa paling menyenangkan dan paling dirindukan. Setelah mengalami berbagai kerumitan hidup, mengenang masa kecil mengingatkan saya betapa sederhananya hidup pada kala itu. Lucunya, justru kita ingin lekas menjadi orang dewasa supaya bebas melakukan apa pun tanpa kendali orang tua.  

Saya lahir dan besar di kota kecil di ujung utara Kalimantan Barat yang dikenal dengan Sambas. Terlahir sebagai anak terakhir dari pasangan guru bagi saya adalah privilese. Usia saya terpaut cukup jauh dengan kakak - kakak saya (10 tahun dan 6 tahun). Sejak lahir saya selalu ada dan terlibat dalam aktivitas yang kakak - kakak saya lakukan. Mereka belajar, saya ikut belajar (menganggu dan mencoret buku mereka). Mereka diajari mengaji dan seni baca Al Qur'an oleh Mamak, saya pun turut serta. Masih ada sekelebat memori saya mengingatkan Mamak surat terakhir yang beliau baca dan memori saat saya menyobek lembaran Al Qur'an ketika masih balita.  Dan satu hal yang mungkin tidak semua orang tua pada masa itu ajarkan pada anak-anaknya adalah tampil di atas panggung. Mamak mendorong kakak - kakak saya untuk tampil pada banyak pentas di kecamatan, sebagai penari tradisional, menyanyi, bahkan tampil sebagai Qori'ah. Pada banyak kesempatan, di rumah saya selalu melihat Mamak melatih kakak - kakak saya cara bernyanyi yang baik dan tampil menguasai pentas dengan baik. Kakak saya yang ketiga bahkan sampai mengikuti ajang kompetisi bernyanyi nasional karena hobi ini. Saya yang sejak lahir terbiasa dengan suasana rumah yang seperti ini, pun tumbuh menjadi anak yang senang bernyanyi. 

Pentas pertama saya adalah saat perpisahan TK, usia saya saat itu 5,5 tahun. Selain menari bersama teman-teman, saya tampil sendiri bernyanyi. Saya lupa judul lagunya, yang jelas saya sangat bangga kala itu, bisa bernyanyi dengan nada yang cukup tinggi. Saat kelas 2 SD saya dipercaya berdeklamasi saat ada kunjungan gubernur ke sekolah kami dalam rangka program 'Mak Lurah' (Makan Telur di Sekolah). Entah apa yang membuat guru saya mempercayakan anak usia 7 tahun mendeklamasikan puisi. Puisi berjudul "Guruku', yang saya tulis sendiri, saya deklamasikan di depan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi dan seisi sekolah. Deklamasi ini tidak berjalan lancar, karena saya lupa bait puisinya di tengah-tengah. Saya sempat terhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan kata-kata karangan yang muncul begitu saja. Alhasil, sang ibu ketua PKK gemas dan langsung ke pentas merangkul dan mencium pipi saya. Pipi saya merah terkena gincunya. Ibu guru langsung menggendong saya. Orang- orang menimang saya. Tentu, saya bingung, kenapa orang-orang bereaksi seperti itu? Kalau diingat lagi, ternyata situasinya memang lucu. Saya rasa, pengalaman itu menjadi pengalaman pertama saya dalam hidup mengatasi krisis di saat genting. 

Saya semakin aktif di pentas bernyanyi dan berdeklamasi puisi sejak kelas 3 SD. Mama mengikutkan saya pada banyak pentas di kecamatan. Pentas 17-an, pentas seni di desa, bahkan kegiatan perpisahan sekolah, peringatan hari ibu, kegiatan Dharma Wanita Persatuan dan PKK. Rekam jejak kakak - kakak saya yang sebelumnya juga aktif tampil di pentas membuat orang selalu menghubungi Mamak saya jika butuh penampil dalam event mereka. Namun karena semua kakak saya merantau setelah lulus SMP, saya lah yang selalu mengisi acara -acara itu. 

Sebagian Foto saat Pentas, Lomba, dan berlatih di rumah
Foto oleh Mamak
 

Karena saya juga bersekolah di tempat yang sama dengan kakak - kakak saya, guru kami menganggap saya memiliki bakat dan prestasi seperti kakak saya. Sejak kelas 2 SD saya sudah ikut berbagai kompetisi puisi dan PORSENI. Ada satu kompetisi yang paling berkesan dalam hidup saya. Kompetisi  ini adalah Lomba Deklamasi Puisi yang diikuti siswa SD yang rata-rata sudah kelas 5 dan 6. Saya dan teman saya adalah peserta termuda dalam lomba ini, karena kami berdua masih kelas 2 SD. Ada 2 puisi yang harus dibawakan, satu puisi wajib dan satu puisi pilihan. Saya lupa dengan puisi pilihannya, tapi puisi wajib yang harus kami deklamasikan saat itu adalah Do'a karya Chairil Anwar. Alih-alih guru, saya justru diantar dan didampingi Bapak saat lomba. Saya ingat saya diantar Vespa putih Bapak, memakai gaun pendek kembang berwarna putih dan memakai bando. Saat tampil saya merasa sudah sangat bagus dan keren. Tapi saat melihat peserta lain ternyata banyak sekali orang yang lebih bagus penampilannya dibandingkan saya. Saat pengumuman pemenang, saya merasa yakin saya setidaknya bisa mendapat juara 3, namun ternyata saya tidak mendapat juara apa pun. Saya yang masih berusia 7, sangat kecewa. Bapak menepuk bahu dan membelai rambut saya sambil mengatakan, "Tidak apa-apa." Setibanya di rumah saya menghambur ke kamar, menenggelamkan muka ke bantal, dan menangis tanpa sepengetahuan Bapak. Itu dalah kekalahan pertama dalam hidup saya. Kekalahan pertama yang membuat saya sadar, "ternyata aku tidak bagus-bagus amat berpuisi. Kenapa mereka selalu memujiku?" Setelah kekalahan itu saya (sepertinya) belajar lebih baik lagi. Pelatihnya, tentu saja Mamak saya, guru bahasa Indonesia SMP. Pada saat Porseni tingkat kecamatan, saya menjadi juara pertama dalam lomba deklamasi puisi. Sejak itu, saya selalu menjadi juara pertama dalam lomba Deklamasi puisi bahkan hingga tingkat kabupaten. Hanya saja, tanpa saya sadari, kekalahan itu menjadi luka dalam yang terbawa hingga dewasa. Mungkin kelak akan saya ceritakan di tulisan lainnya.

Kembali mengenang dan menuliskan masa kecil membuat saya semakin mensyukuri keberadaan kedua orang tua dan kakak - kakak saya dalam masa tumbuh kembang saya. Mamak dengan caranya sendiri, telah menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri saya. Semua pengalaman masa kecil ini tidak hanya menjadikan saya pribadi yang berani namun perlahan mengajarkan saya menghadapi lika - liku kehidupan, menghadapi kegagalan, mengatasi masalah dan krisis. Ada luka yang tersisa dari pengasuhan, tapi itu pun di masa depan memberikan saya pelajaran yang berbeda.  


#tantanganMaGaTa







Baca selengkapnya

Friday, August 4, 2017

Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Baca selengkapnya

Monday, July 31, 2017

Kipas Angin

Kipas Angin

"Dulu kalian dak pernah tidur pake kipas angin, baik-baik aja yah? Sekarang kok jadi beda ya?" keluh ibuku suatu hari. Keluhan ini datang karena tagihan listrik yang naik setiap bulan. Berbagai trik sudah dilakukan. Mengurangi penggunaan kulkas, AC, pakai lampu hemat energi, tapi tetap saja tagihan listrik rasanya makin mencekik. Belum lagi kini di rumah kami, setiap kamar memiliki kipas. Semua keponakanku tidak bisa tidur tanpa kipas. Sekalipun itu hari hujan dan cuaca sudah cukup sejuk. Kipas angin berputar sepanjang malam dan siang. Waktu istirahatnya barangkali hanya pagi hari dan saat kami tidak di kamar atau di rumah. Dalam semalam, ada lima kipas angin yang menyala.

Aku membayangkan lagi masa kecilku. Hanya ada tiga kipas angin di rumahku ini. Satu di ruang tamu, satu di ruang tengah, dan satu kipas angin kotak yang bisa dibawa kemana saja. 


Aku sendiri sejak kecil sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan kipas. Meskipun itu siang hari yang teramat panas, aku betah-betah saja tidur di kamar tanpa kipas angin. Tapi kini, tidak. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang.

Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah memang suhu bumi semakin meningkat? Karena menurut sebuah artikel, dibandingkan dengan kondisi tahun 1961 hingga tahun 1990, suhu bumi secara global pada tahun 2016 naik sebesar 0,84 derajat celcius. Angka yang sepertinya sangat kecil ini bermakna besarloh bagi kehidupan di bumi ini. Apa ini juga yang mempengaruhi suhu di sekitar rumahku?

Kulihat sekitar rumahku kini, perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun. Dulu, kiri kanan, dan belakang rumah kami adalah semak belukar dan hutan. Halaman rumah pun dipenuhi aneka bunga dan pepohonan. Pohon jambu, kelapa, nangka, belimbing ciremai, petai cina, bunga kenanga, dan masih banyak jenis tanaman hias lainnya. Mungkin ini yang menyebabkan masih ada angin sejuk yang masuk ke rumah. Walaupun risikonya, rumah kami cukup akrab dengan ular dan aneka hewan lain seperti ulat bulu, kaki seribu, lipan, dan serangga yang aku sendiri tidak tahu namanya. Kini semua sudah berganti dengan halaman yang disemen, dan tanaman hias yang tumbuh di pot-pot. Pepohonan kini berganti dengan bangunan warung dan garasi. Untungnya, bagian dapur masih banyak pepohonan. Boleh dikatakan itulah bagian rumah yang paling sejuk dan tidak butuh kipas angin saat ini. Aku selalu betah duduk di teras yang ada di belakang rumah. Sambil menikmati pepohonan dan angin sepoi-sepoi di kala mentari sedang menyengat.

Kipas angin yang sedang berputar di depanku kini membuatku sadar. Bahwa dunia benar-benar panas, hingga membutuhkan bantuan angin dari kipas ini. Kalau saja sekeliling rumahku bisa kembali rindang seperti dulu, tentu lah kami tidak usah repot berkipas ria. Cukup mengandalkan kesejukan yang dibawa pepohonan. Tidak perlu pusing dengan harga listrik semakin meningkat, sementara kebutuhan penggunaan kipas angin dan AC juga semakin meningkat. 

Lalu aku membayangkan. Seperti apa tagihan listrik kami, bila rumah ini sama sekali tidak membutuhkan kipas angin? Ah tentu saja, dengan tarif dasar yang sama :).

#day26
#30DWCJilid7
#Squad8

Referensi:
http://nusantaranews.co/makin-panas-suhu-bumi-naik-11-derajat-celcius/
Baca selengkapnya

Saturday, July 29, 2017

Menghemat Air ala Mama

Menghemat Air ala Mama


Waktu kecil dulu, air bersih dari PDAM di rumah kami tidak selalu mengalir 24 jam. Kalau pun ada, airnya masih membawa sisa-sisa lumpur. Sehingga selalu perlu diendapkan sebelum digunakan. Berbeda dengan kebanyakan orang di Pulau Jawa, di kampungku jarang sekali orang menggunakan sumur. Hal ini karena kondisi tanah yang asam membuat kualitas air pun tidak bagus. Kebanyakan orang di kampungku, lebih memilih menampung air hujan di dalam tempayan atau pun drum.

Karena kondisi sulit air inilah, Mama selalu mengajariku menghemat air. Kalau ada bak yang sampai meluber karena aku lupa mematikan keran, sudah pasti omelan panas mendarat di telinga. Dulu, aku menganggap apa yang Mama lakukan, juga dilakukan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku merantau, dan baru sadar bahwa ibuku itu sangat hemat air. Bahkan bisa dikategorikan masuk pada gaya hidup ramah lingkungan. Apa saja yang beliau lakukan? 

1. Air cucian beras untuk menyiram tanaman
Dulu, Mamaku selalu menyiapkan satu ember khusus. Untuk menyimpan air bekas mencuci beras. Air itu lah yang ia gunakan untuk menyiram kebun dan bunga-bunga di halaman depan. Katanya, airnya cukup menyuburkan tanaman dan bunga kesayangannya.

2. Gunakan kembali air deterjen bekas mencuci dan membilas pakaian 
Mama tidak pernah langsung membuang air bekas deterjen untuk mencuci pakaian. Biasa ia gunakannya untuk merendam kain pel yang sangat kotor. Sering pula ia gunakan untuk menyikat lantai kamar mandi, atau lantai dapur terbuka di belakang rumah kami. Prinsip mama bukan sekedar sayang air, tapi juga sayang deterjen. 

3. Mencuci piring dengan menampung air di bak/baskom
Mama mengajariku mencuci piring dengan membilasnya pada bak berisi air. Setiap piring dan gelas harus dibilas dua kali. Menurut Mama, mencuci dengan langsung mengucurkan air keran, menghabiskan lebih banyak air dibanding dengan menampungnya di bak terlebih dahulu.  Awalnya aku tidak percaya. Namun, di sebuah eco camp di Kota Bandung, kami diajak mencuci piring dengan cara yang diajarkan Mama. Ternyata Mama benar, hehe.

Begitulah tiga tips menghemat air ala Mamaku. Semoga berguna.

#Day24
#30DWCJilid7
#Squad8

Baca selengkapnya

Saturday, July 22, 2017

Rahasia Bahagia

Pernah menonton film animasi "Trolls" berkisah tentang kaum Trolls yang diburu para Bergan? Trolls diburu karena Bergan meyakini bahwa hanya dengan memakan Trolls mereka akan bahagia. Saya ga akan cerita kelanjutannya ya. Nanti malah menjadi spoiler, hehe. Film itu membawa pesan tentang kebahagiaan. Bahwa sesungguhnya setiap dari kita pun menginginkan kebahagiaan. 

Pernah ada suatu masa, saya meyakini bahwa bahagia adalah ketika saya tahu tujuan hidup saya. Dan selama saya tidak menemukannya, ada sesuatu yang salah. Saya tidak bahagia. Bahkan sempat merasakan emotionless. Sempat pula menanyakan, apa sebenarnya bahagia? Saya merasakan bahwa tujuan hidup manusia sudah disebutkan dalam Al Qur'an. Mengapa pula saya masih merasa tidak bahagia?

Dari sebuah training dan sebuah terapi, saya menyadari bahwa bahagia adalah pilihan. Loh kok gitu? Perasaan kan tidak selalu bisa kita kendalikan? Bagaimana mungkin memilih perasaan bahagia? Perasaan memang tidak selalu bisa dikendalikan. Namun kita bisa memilih cara pandang, sikap dan tindakan kita pada sesuatu hal. Yang mana itu semua akan mempengaruhi perasaan kita. Coba lihat gambar di bawah ini.

Sumber Gambar: Pinterest

Saat saya merasa bahwa saya harusnya punya tujuan dalam hidup, saya pun tidak 100% bertindak menemukan tujuan itu. Malah menghakimi dan membenci diri sendiri. Padahal, saya punya pilihan. Menghargai hal-hal yang saya miliki, mau mensyukuri apapun yang sudah Allah berikan. Seperti gambar di atas. Atas terjadinya sesuatu atau kondisi yang tak menyenangkan yang saya alami saya bisa memilih sikap. Untuk menyesal, terus menangisinya, lalu semakin lama membenci diri. Atau justru melihatnya dari sisi lain. Bahwa hal tak menyenangkan terjadi sebagai pembelajaran. Bisa jadi ada berkah tersembunyi di baliknya. 
Ah, saya jadi teringat sebuah hadist:
Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya (HR Muslim)"
Jadi, apa rahasia bahagia? Rahasianya ada dalam diri masing-masing. Karena rasa bahagia adalah pilihan.

#myFabulous30
#30DWCJilid7
#Day17
#Squad8
Baca selengkapnya

Tuesday, July 18, 2017

Writing is Sharing

Writing is Sharing


Ada banyak hal di dunia ini yang bisa disyukuri. Bahkan pertemuan dengan siapapun. Dengan orang menyebalkan sekalipun. Ada makna yang terkandung didalamnya. Entah baik, entah buruk. Belajar caranya bersabar, belajar caranya menghadapi orang – orang yang aneh. Entah kenapa aku ingin menuliskan soal ini. Mereka bilang menulis berawal dari kegelisahan. Menulis adalah untuk memgekspresikan. Not try to impress someone.

Menyenangkan kalau bisa menulis apapun. Tapi semua akan dipertanggungjawabkan. Penting memastikan bahwa semua yang kutulis bermanfaat, bukan hal sia-sia, apalagi menyesatkan. Dan aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku perlu berbagi, tentang cerita diri dan sekitarku. Bukan untuk membanggakan, bukan pula untuk berkeluh kesah tentang beragam masalah. Tapi bercerita pada orang lain, bahwa ada beberapa keadaan, kesulitan, atau keberhasilanku melewati suatu rintangan. Karena menyimpannya sendirian, bisa saja aku melupakan seperti apa perasaanku ketika mendapatkan pembelajaran kehidupan.

Aku teringat cerita seorang kawan. Biasanya ia selalu bersemangat dan punya pikiran-pikiran brilian. Seperti seorang coach bagiku. Tapi ada pula suatu masa, ia menghadapi musuh terbesarnya, diri sendiri. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Penderitaan rasa memperbesar sudut gelap dari dirinya. Ia sibuk menyalahkan diri, membenci diri, dan berada dalam kesedihan selalu. Aku tidak tahu harus menolongnya bagaimana lagi, selain menjadi penyimak setia untuk setiap curahan hatinya. Karena bagiku, ini adalah antara dia dan dirinya. Kesedihan yang ia rasakan perlahan menggerogoti kehidupan pekerjaannya dan jalannya mencapai cita-cita untuk bersekolah ke luar negeri.

Aku membiarkannya menyepi dan menyendiri, mendekat pada Ilahi. Kurasakan ia fokus pada suatu hal, dan mengabaikan penyebab kesedihan itu datang. Suatu hari ia berbagi, betapa bahagianya ia hari itu. Begitu banyak agenda di hari-hari ke depannya. Ia merasa semakin bersemangat. Dan berhasil menyelesaikan banyak hal dalam satu minggu terakhir. Aku seperti melihatnya menyeruak. Berhasil melawan diri sendiri, lalu menyeruak dari kolam kesedihannya. Ia hanya sekedar berbagi, karena ia tak tahu harus menyalurkan kebahagiaan itu pada siapa lagi. Tapi mungkin tak ia sadari, ia telah ikut menginspirasiku, menularkan semangatnya padaku.

Aku menyadari, berbagi kisah melalui tulisan bukan sekedar melepaskan perasaan sedih atau bahagia tak terkira. Tapi kita tak akan pernah tahu, seperti apa dampaknya bagi orang lain. Kalau ada yang mendapatkan manfaat, bukankah sudah dicatatkan kebaikan bagi kita. Kalau pun tidak, adakah ruginya menulis? 
 
Selamat pagi, selamat berbagi :)
  
#Day12
#30DWCJilid7
#Squad8

Baca selengkapnya

Friday, July 14, 2017

Apa yang Saya Pelajari Saat Kembali ke Rumah

Apa yang Saya Pelajari Saat Kembali ke Rumah


Setelah 13 tahun merantau, saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Hari ini, terhitung dua bulan saya berada di rumah orang tua. Belum bekerja kantoran seperti biasanya. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengasuh keponakan, membantu memasak, berbenah rumah, dan menulis.

Berada kembali di rumah yang sudah saya tinggali sejak lahir, membuat saya semakin sering mengalami kilas balik. Seakan kembali pada masa saya masih bersekolah. Apalagi di rumah ini, masih banyak barang-barang dan furnitur rumah yang sudah ada sejak masa kanak-kanak saya. Kursi, meja, sofa, lemari pakaian, pakaian, komputer, radio, bahkan tape recorder. Bentuk rumah pun tidak banyak berubah. Yang berbeda penghuni rumah bertambah, dan kedua orang tua saya yang semakin sepuh. Berkurang pendengaran, penglihatan, dan tentu staminanya.

Melihat banyak sudut dalam rumah juga kondisi sekitar rumah yang sudah tak serapi dulu, membuat saya sedih. Belum lagi barang-barang yang sebenarnya sudah tak berfungsi lagi, pakaian masa kecil saya, pakaian kedua orang tua saya semasa masih bekerja, menumpuk dimana-mana. Sementara barang-barang baru tetap dibeli. Kondisi rumah ini terlihat semakin tidak terurus.

Padahal dulu, Mama adalah orang paling cerewet soal kebersihan rumah. Sebulir nasi jatuh dan terinjak di lantai kayu rumah kami, Mama bisa mengomel sepanjang hari. Bahkan bisa diungkit-ungkit besok, lusa, bahkan bertahun kemudian. Kamar mandi disikat setiap hari, gayung selalu bersih, kompor, meja makan, dan seisi dapur pun sama. Kini, beliau bahkan tidak bisa berbuat banyak bila ada banyak bulir-bulir nasi bertaburan di lantai, yang terinjak, mengering, dan membuat lantai tampak kotor dan tidak nyaman dijalani.

Semakin lama berada di rumah, entah mengapa semakin sering pula kilas balik masa kecil itu terjadi. Hari ini saya banyak teringat akan Uan (Nenek). Uan sesekali datang berkunjung ke rumah kami. Menginap untuk jangka waktu yang lama, biasanya sampai sebulan. Bila sedang di rumah, nenek saya selalu sibuk membersihkan rumah kami. Mulai dari ruang depan sampai dapur, mulai dari teras sampai halaman belakang. Semua lemari dan sudut rumah ini tidak ada yang terlewatkan olehnya. Ia akan mulai berbenah pagi sekali, berbekal sapu lidi di tangan.

Uan selalu menyapu seluruh ruangan dengan tuntas, sampai ke bawah meja, lemari, bahkan sudut-sudut yang menurut saya kala itu, sulit dijangkau. Tempat-tempat yang memang berdebu tebal. Karena dulu saya jika menyapu lantai hanya menyapu bagian yang terlihat saja. Sambil sibuk mengumpulkan debu-debu dan sampah, Uan bisa sambil mengomeli saya. “Tuh, masih banyak sampah dan debu begini. Kalau menyapu lantai harus sampai sudut dan bawah seperti ini. Supaya tidak ada binatang, lipas, atau malah tikus bersarang!”. Jika sedang di halaman rumah dan saya ada didekatnya, omelan lain akan mendarat di telinga saya. “Muslim itu rumahnya harus bersih, halamannya juga bersih. Jangan suka sembarangan buang sampah. Ini juga biji-biji durian, nangka, cempedak, kelapa, jangan sembarang buang. Lihat, mereka tumbuhnya pun sembarangan!” Tangannya cekatan mencabut tunas-tunas yang terlalu banyak tumbuh di sekitar rumah.

“Ma, jadi ingat Uan ya. Kalau masih ada, pasti rumah ini bersih. Ga ada lipas atau tikus yang mau lalu lalang di dapur ini. Kalau melihat kondisi begini, pasti juga sudah sibuk mengomel.” Kalimatku pada Mama ketika akan membenahi dapur yang akhir-akhir ini kerap didatangi tikus. Aku teringat pula dulu, Mama pun tak jauh berbeda dengan Uan. Hampir setiap hari saya diomeli, karena dianggap malas dan lamban. Padahal, menurut saya (waktu itu) Mama punya standar terlalu tinggi. Masa iya, kamar mandi dan toilet harus dibersihkan setiap hari. Pekerjaan lain juga tetap saya kerjakan, saat sudah mood biasanya. Tapi kini, di rumah ini saya membersihkan kamar mandi setiap hari, mengomeli keponakan yang bikin rumah berantakan atau lama membantu saya beres-beres rumah. Saya merasa mulai bertingkah seperti Mama dulu. Saya pula yang sibuk membersihkan rumah dengan cara yang diajarkan oleh Uan.

Saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Omelan Mama dan Uan, sejatinya adalah cara keduanya mengajari saya. Yang karena berulang sampai bertahun-tahun lamanya, pelajaran itu seolah mendarah daging. Seakan suara Uan dan Mama di kala itu tersimpan dengan baik dan siap diputar ulang kapanpun diperlukan. Seperti hari ini ketika saya melihat kondisi rumah setelah bertahun-tahun. Saya gregetan ingin segera membersihkan dan merapikan. Rasanya aneh dan luar biasa, sesuatu yang dulu saya anggap sangat menyebalkan, ternyata kini saya kerjakan. Menjadi salah satu pelajaran praktis (terkait membersihkan rumah) buat saya. Saya berpikir, jangan-jangan ada banyak hal lain dalam hidup saya yang seperti ini. Bahwa saya perlu melewati dan mengalami berbagai pengalaman menyakitkan, tidak menyenangkan, bahkan menyebalkan, untuk kemudian menyadari bahwa itu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan. 

Well, semua terjadi karena alasan kan?


#MyFabulous30
#FabulousMind
#Day9
#30DWCJilid7
#Squad8


Baca selengkapnya

Tuesday, July 11, 2017

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas 3 dari 10 hal yang saya sadari begitu memasuki usia 30:
1. Kesadaran merawat diri
2. Memanfaatkan kesempatan apapun yang dimiliki
3. Hasrat Kembali ke Rumah semakin besar
Lalu, apa saja 6 hal lainnya?
 
4. Sibuk dengan Self Improvement
Menyadari waktu yang kian terbatas sementara diri ini minim prestasi, saya merasa membutuhkan self improvement atau pengembangan diri. Pada saat lulus SMA saya memang gemar membaca buku-buku psikologi dan pengembangan diri. Namun masuk usia duapuluhan saya lebih sering mengoleksi novel dan buku tentang tips-tips praktis dalam hidup. Akhir-akhir ini selain mengikuti tes kepribadian yang gratis maupun berbayar, saya menyukai hal-hal yang berkenaan dengan self healing, mengenal diri melalui Human Design Approach, mengikuti training, coaching, dan mulai mengoleksi lagi buku-buku bertema Self Improvement. 

5. Mencintai dan Menerima Diri
Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah membandingkan diri saya dengan orang lain. Dengan teman yang sudah menikah dan punya anak, dengan teman yang sudah menyelesaikan pendidikan magister dan doktornya di luar negeri, dengan teman yang sudah berada pada jenjang karir yang tinggi dan lembaga prestisius, dan banyak hal lainnya. Hasilnya saya membenci diri saya sendiri dan merasa terjebak dalam jiwa yang salah. Kemudian melupakan bahwa ada banyak dari diri yang bisa disyukuri. Saya terlalu lama fokus pada pencapaian orang lain dan kelemahan diri. Melupakan bahwa saya punya tujuan sendiri, cara dan mungkin hasil yang berbeda dari orang lain. Saya hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri sendiri. 

6. Butuh Visi dan Target Abadi
Sebenarnya saya selalu merasa punya tujuan hidup. Beribadah kepada Allah. Itulah yang mestinya seorang muslim miliki dan tercantum pula dalam kitab. Tapi saya kemudian menyadari bahwa itu sebenarnya tujuan penciptaan manusia. Saya ternyata belum memiliki tujuan yang jelas, yang sejalan dengan tujuan penciptaan itudan yang menjadi alasan untuk saya melakukan apapun dalam hidup. Dan itulah yang saya butuhkan, agar semua yang saya lakukan bermakna ibadah, agar saya selalu punya energi untuk bergerak dalam hidup. 

7. Karir ini bukan yang saya inginkan
Ketika saya mulai tidak tertarik dan excited saat mengerjakan proyek-proyek di kantor, awalnya saya pikir itu hanya jenuh. Namun semakin lama, saya meyakini ada sesuatu yang tidak pas. Tes kepribadian dan bacaan-bacaan self improvement, juga keterlibatan saya pada aktivitas sosial di luar kantor membantu saya mengenali bakat saya yang sesungguhnya dan menemukan karir impian saya. Saya memutuskan keluar dari kantor. Dan kini sedang mencoba memasuki dunia pekerjaan baru dan fokus menulis. 

8. Tidak tertarik bermain-main
Dulu, di tahun-tahun awal saya bekerja, saya selalu menyiapkan waktu khusus diakhir pekan untuk bertemu teman-teman. Kami menyebutnya dengan agenda 'main'. Agenda ini kadang diisi dengan sekedar makan-makan di kafe, jalan-jalan, ke mall, nonton bioskop, karaoke, atau sekedar berolah raga di lokasi Car Free Day. Kami bisa menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Kini, agenda seperti itu sudah tidak menarik hati lagi. Saya lebih memilih menemui orang untuk silaturahmi, atau menghadari acara-acara amal, pengajian, atau seringnya memilih di rumah untuk membaca buku atau membereskan rumah. Waktu saya terlalu berharga untuk sekedar bermain.

9. Nyaman > Gaya
Bicara soal penampilan, dulu saya paling tidak mengerti pada seorang kawan yang usianya 18 tahun lebih tua dari saya. Dia sangat menyukai sepasang sepatu kulit yang menurut saya modelnya membuat kakinya terlihat gendut, tidak menarik.  Saat itu saya menyukai sepatu berhak tinggi dan berpotongan menarik sehingga membuat kaki terlihat jenjang, meskipun terasa sakit memakainya. Kini, saya lebih tertarik pada sepatu yang nyaman dipakai, tidak masalah kalau bukan trend. Begitupun dengan kerudung. Kalau dulu masih betah memakai pasmina, ikut tutorial, sibuk menggunakan jarum pentul. Kini, saya memilih kerudung yang nyaman dan mudah dikenakan.Kadang saya hanya menggunakan dua bros atau peniti saja. Yang penting kerudungnya tebal, tidak licin dan menutup dada. Tutorial hijab itu semakin memusingkan kepala saya.

10. Mempersiapkan Dunia dan Akhirat
Setelah melewati hidup ibarat mengalir seperti air, saya sadar bahwa jika saya tidak cukup mempersiapkan hidup saat ini, maka di hari tua nanti lah akibatnya akan saya rasakan. Saya sadar perlu investasi, memiliki tabungan jangka menengah dan jangka panjang, mengelola keuangan untuk mempersiapkan kehidupan mulai dari menikah, punya anak, hingga masa pensiun kelak. Dan dimasa ini pula saya semakin jeli pada setiap kesempatan untuk berinvestasi di akhirat. Entah itu dengan sedekah, berbuat baik tanpa melihat besar kecilnya tindakan itu, berharap pada setiap tindakan yang berniat untuk Allah, diterima dan diridhoi-Nya. 

Nah, begitulah 10 hal yang saya sadari begitu masuk usia 30. Kalau kamu bagaimana? Yuk, didaftar yuk!. Siapa tahu kamu punya daftar yang berbeda dan bisa menjadi pelajaran bersama.

#myFabulous30
#Day6
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya