Showing posts with label miscellaneous. Show all posts
Showing posts with label miscellaneous. Show all posts

Monday, July 31, 2017

Kipas Angin

Kipas Angin

"Dulu kalian dak pernah tidur pake kipas angin, baik-baik aja yah? Sekarang kok jadi beda ya?" keluh ibuku suatu hari. Keluhan ini datang karena tagihan listrik yang naik setiap bulan. Berbagai trik sudah dilakukan. Mengurangi penggunaan kulkas, AC, pakai lampu hemat energi, tapi tetap saja tagihan listrik rasanya makin mencekik. Belum lagi kini di rumah kami, setiap kamar memiliki kipas. Semua keponakanku tidak bisa tidur tanpa kipas. Sekalipun itu hari hujan dan cuaca sudah cukup sejuk. Kipas angin berputar sepanjang malam dan siang. Waktu istirahatnya barangkali hanya pagi hari dan saat kami tidak di kamar atau di rumah. Dalam semalam, ada lima kipas angin yang menyala.

Aku membayangkan lagi masa kecilku. Hanya ada tiga kipas angin di rumahku ini. Satu di ruang tamu, satu di ruang tengah, dan satu kipas angin kotak yang bisa dibawa kemana saja. 


Aku sendiri sejak kecil sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan kipas. Meskipun itu siang hari yang teramat panas, aku betah-betah saja tidur di kamar tanpa kipas angin. Tapi kini, tidak. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang.

Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah memang suhu bumi semakin meningkat? Karena menurut sebuah artikel, dibandingkan dengan kondisi tahun 1961 hingga tahun 1990, suhu bumi secara global pada tahun 2016 naik sebesar 0,84 derajat celcius. Angka yang sepertinya sangat kecil ini bermakna besarloh bagi kehidupan di bumi ini. Apa ini juga yang mempengaruhi suhu di sekitar rumahku?

Kulihat sekitar rumahku kini, perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun. Dulu, kiri kanan, dan belakang rumah kami adalah semak belukar dan hutan. Halaman rumah pun dipenuhi aneka bunga dan pepohonan. Pohon jambu, kelapa, nangka, belimbing ciremai, petai cina, bunga kenanga, dan masih banyak jenis tanaman hias lainnya. Mungkin ini yang menyebabkan masih ada angin sejuk yang masuk ke rumah. Walaupun risikonya, rumah kami cukup akrab dengan ular dan aneka hewan lain seperti ulat bulu, kaki seribu, lipan, dan serangga yang aku sendiri tidak tahu namanya. Kini semua sudah berganti dengan halaman yang disemen, dan tanaman hias yang tumbuh di pot-pot. Pepohonan kini berganti dengan bangunan warung dan garasi. Untungnya, bagian dapur masih banyak pepohonan. Boleh dikatakan itulah bagian rumah yang paling sejuk dan tidak butuh kipas angin saat ini. Aku selalu betah duduk di teras yang ada di belakang rumah. Sambil menikmati pepohonan dan angin sepoi-sepoi di kala mentari sedang menyengat.

Kipas angin yang sedang berputar di depanku kini membuatku sadar. Bahwa dunia benar-benar panas, hingga membutuhkan bantuan angin dari kipas ini. Kalau saja sekeliling rumahku bisa kembali rindang seperti dulu, tentu lah kami tidak usah repot berkipas ria. Cukup mengandalkan kesejukan yang dibawa pepohonan. Tidak perlu pusing dengan harga listrik semakin meningkat, sementara kebutuhan penggunaan kipas angin dan AC juga semakin meningkat. 

Lalu aku membayangkan. Seperti apa tagihan listrik kami, bila rumah ini sama sekali tidak membutuhkan kipas angin? Ah tentu saja, dengan tarif dasar yang sama :).

#day26
#30DWCJilid7
#Squad8

Referensi:
http://nusantaranews.co/makin-panas-suhu-bumi-naik-11-derajat-celcius/
Baca selengkapnya

Wednesday, July 26, 2017

5 Hal yang Saya Pelajari dari Anak-anak

Sejak kembali ke rumah orang tua, saya nyaris tak pernah melewatkan hari-hari tanpa anak-anak. Apalagi baru saja liburan sekolah berlalu. Semua keponakan saya, memilih berlibur di rumah nenek mereka. Setelah sekian tahun terbiasa hidup sendiri saja, kini ada banyak yang perlu saya urus. Walaupun ini bukan kali pertama, namun tetap saja butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Terlebih, kini anak-anak yang saya asuh rentang usianya beragam, mulai usia 2 tahun sampai 7 tahun.

Namun bersama mereka, selalu ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Seharian ini, begitu banyak kejadian bersama anak-anak. Kejadian yang membuat saya sadar bahwa setidaknya ada lima hal yang saya pelajari dari mereka.

1. Sabar
Karena selalu berada di rumah, saya selalu ingin melihat rumah rapi dan semua teratur pada tempatnya. Namun, dengan empat anak yang aktif rasanya itu sebuah tantangan. Baru selesai mengepel, anak-anak datang, lalu bermain pasir dalam rumah atau makan dan menjatuhkan remah-remah makanan di lantai. Belum lagi sampah yang berserakan atau mereka yang bertengkar dan berebut mainan. Rasanya saya ingin marah saja. Namun saya sadar, bahwa kemarahan ini tidak baik bagi mereka. Saya perlu pelan-pelan mengajari mereka, banyak hal. Kini saya sedang belajar, untuk berbicara dan mengkomunikasikan hal-hal yang tdak saya sukai, setenang mungkin. Sabar, itulah pelajaran dan latihan saya setiap hari. 

2. Semangat
Beberapa hari yang lalu saya mengantar salah satu keponakan ke tempat latihan bulutangkis. Hari itu adalah hari pertamanya. Saya sempat memperhatikan ia berlatih, selama hampir satu jam. Timbul rasa kasihan melihat latihan fisiknya cukup berat. Belum lagi seisi ruangan memperhatikannya. Saya entah mengapa merasa dia dihakimi, karena lambat. Saya bisa melihat bahwa ia begitu kesulitan mengikuti instruksi pelatih. Demikian pula pelatih, perlu berkali-kali dan saya bisa lihat ia mencoba bersabar melatih keponakan saya itu. Selepas berlatih selama hampir 3 jam, saya bertanya kepada pelatihnya, "Gimana Bang, hari pertamanya?" Sang pelatih tersenyum, "Wah, memang ini melatihnya benar-benar dari nol. Jadi perlu sabar, hehe. Untungnya dia sangat bersemangat dan berkemauan tinggi. Sepertinya dia udah lelah sekali. Sampai rumah jangan lupa makan dan kalau perlu makan suplemen ya." Saya tersenyum sambil menjawab iya. Saya kira setibanya di rumah keponakan saya akan tampak letih atau minder. Namun justru ia sangat bersemangat. Malah mengulang-ngulang pelajarannya di tempat latihan. Dan menunjukkan apa saja yang sudah ia pelajari hari itu, kepada kedua orang tua saya. Saya tahu sekali dia lelah, karena malam harinya ia langsung tertidur pulas. Namun semangat dan kecintaannya pada bulutangkis, membuatnya ingin terus berlatih. Bahkan tidak sabar menunggu hari latihan tiba. Saya tiba-tiba teringat pada diri sendiri. Sudahkah saya bersemangat 100% dan tidak memperdulikan bagaimana orang lain memandang saya? Seperti semangat keponakan saya ini.

3. Mengelola Waktu dengan Jadwal yang Fleksibel
Biasanya saya mengikuti jadwal harian lengkap dengan jamnya, sehingga segala pekerjaan sudah pasti dan terorganisir. Saya paling tidak suka disela oleh aktivitas yang tiba-tiba. Semua sudah dialokasikan waktunya. Namun mengasuh batita, tidak bisa begitu saja mengikuti schedule yang ketat per jam. Ada saja hal tak terduga bisa terjadi. Tiba-tiba anak minta gendong, tiba-tiba terluka, atau waktunya tidur namun rewel. Sementara setiap hari saya punya target, untuk menyelesaikan pekerjaan A, atau menghubungi B pada jam sekian. Jadwal yang bisa fleksibel ini sebenarnya mengganggu sekali. Namun kini saya belajar, agar dapat solusi win-win. Pekerjaan selesai, anak pun aman.
 4. Bilang Terima Kasih
Ada satu keponakan saya, yang selalu senang bila usahanya diapresiasi. Saya menyadari ini ketika suatu kali saya melihat ia membereskan mainannya. Karena itu sangat jarang terjadi, saya merasa sangat terbantu. Jadi saya spontan dengan riang mengucapkan,"Terima kasih ya, Kakak. Sudah membereskan mainannya. Ateh merasa sangat terbantu." Tanpa saya duga, dia lalu membantu saya menyelesaikan tugas rumah lainnya. Membersihkan kaca, menyapu halaman, mengepel rumah, dan mencuci piring. Sejak saat itu, saya tidak pernah lupa mengapresiasi apapun yang ia lakukan. Dan saya sadar, saya jarang memberi apresiasi pada keponakan yang lain. Sehingga kini saya selalu berusaha tidak melupakan mengucap kata terima kasih kepada mereka. Terima kasih yang tulus.

5. Syukur 
Setiap kali mengasuh keponakan seperti ini, saya selalu merasa bahwa ada banyak PR saya dan orang tua mereka. Untuk mengajarkan banyak hal. Untuk mempersiapkan mental dan fisik mereka menghadapi kehidupannya sendiri. Dan ternyata itu sangat tidak mudah. Menumbuhkan sopan santun, sifat empati, dan menanamkan kebiasaan baik bagi anak tidaklah mudah. Seringkali saya dan orang tua mereka kalah dengan rengekan dan tangisan. Padahal selalu mengikuti kemauan anak, juga tidak terlalu bagus. Memanjakan mereka sama saja dengan membuat mereka kelak kewalahan hidup sendiri. Dan setiap kali saya merasa elah mengajari keponakan-keponakan saya akan nilai-nilai hidup, saya teringat Mama. Dulu saya selalu merasa Mama kurang ini dan kurang itu waktu mendidik saya. Namun kini, saya bersyukur, dilahirkan dan dididik oleh beliau. Walau tidak sempurna, namun pola parenting kedua orang tua, berperan membentuk saya yang seperti sekarang. Saya sering merasa, belum tentu saya bisa sebaik mereka. 

Sebetulnya banyak hal lain yang menjadi pelajaran. Lima diatas adalah apa yang saya refleksikan hari ini. Hal-hal yang menegaskan bahwa kita bisa belajar dari siapapun. Bahkan dari anak usia dua tahun. Kalau Anda, sudah belajar apa hari ini?

#myFabulous30
#Day21
#30DWCJilid7
#Squad8
Waktu Bermain

 
Baca selengkapnya

Saturday, July 15, 2017

Telegram diblokir?

Telegram diblokir?

Ketika menerima kabar di salah satu grup di telegram bahwa aplikasi ini akan diblokir, saya tidak langsung percaya. Mungkin ini jenis hoax yang lain, pikir saya waktu itu. Tidak berapa lama, seorang anggota grup membagikan sebuah tautan berita dari detik.com. Saya pun mulai mencari tahu beritanya. Saya cukup lega ketika tahu bahwa yang diblokir adalah yang berbasis webnya. Sedangkan aplikasi yang melalui ponsel tidak. Tapi berita tentang pemblokiran ini masih saja hangat dibicarakan. Bahkan banyak yang membuat petisi, juga melapor langsung pada pembuat aplikasi Telegram. Memang aplikasi ini belum sepopuler Line, WhatsApp. Tapi saya melihat ada potensinya kesana. Beberapa grup dan kelas online yang saya pernah dengar, diadakan melalui Telegram. Saya mulai mempertanyakan keputusan pemerintah. Alasan apa yang melatarbelakangi pemblokiran aplikasi ini.
"Di Telegram, kami cek ada 17 ribu halaman mengandung terorisme, radikalisme, membuat bom, dan lainnya, semua ada. Jadi harus diblok, karena kita anti-radikalisme," kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu, Jumat (14/7/2017). (Sumber: detik.com)
Mengapa Telegram? Bukankah ada website, ada aplikasi chat lain, dan banyak sumber lainnya yang mungkin mengandung terorisme, radikalisme, dan sebagainya. Apakah memblokir aplikasi ini benar-benar solusi yang efektif. Apa ini tidak seperti membunuh nyamuk dengan cara dibom?  Tidakkah masih banyak solusi lain, untuk mengatasi terorisme? Ah, mungkin ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang pertahanan negara. Mungkin ini keputusan terbaik yang bisa pemerintah lakukan ditengah maraknya isu terorisme. 

Tapi di sisi lain, saya pun prihatin. Tidakkah perhatian negara seakan lebih berat pada urusan terorisme ini. Bukannya tidak mendukung upaya dan kerja keras pemerintah. Namun sekedar mempertanyakan, sudahkan perhatian serupa ditujukan pada hal lain yang juga menjadi ancaman dalam diam? Yang dampaknya mungkin tak serta merta dirasakan? Namun pelan-pelan merusak generasi, lalu perlahan menghancurkan keberlangsungan negara ini? 

Keprihatinan ini muncul kembali, ketika tadi saat membuka situs Goodreads, terpampang dengan jelas sebuah iklan game 18+ dengan gambar yang tak layak, menurut saya. Memang itu sumbernya dari GoogleAds, yang mungkin tak mudah untuk dikendalikan. Tapi maukah kita mulai sadar, bahwa kini pornografi semakin mudah diakses, bahkan datang dengan sendirinya. Siapa yang membuka laman web Goodreads? Tak ada orang tua yang curiga bila anaknya membuka situs ini. Toh situs ini adalah situs tentang buku bacaan. Pun sama halnya ketika suatu kali saya membuka aplikasi religi di ponsel. Karena gratis, aplikasi ini memuat Ads. Alangkah terkejutnya saya ketika iklan yang muncul, adalah iklan berbau pornografi. Rasanya mengerikan sekali, bila dunia tanpa batas yang bisa digenggam ini, menjadi teman sehari-hari generasi muda. 

"Ah, kalau melihat itu kan dosanya pada diri sendiri. Kalau teroris kan sifatnya meluas. Berdampak pada khalayak banyak" Mungkin Anda pernah mendengar celetukan bernada seperti itu. Mungkin ini seperti candaan. Mungkin juga yang bersangkutan belum pernah secara langsung bertemu dengan korban-korban pornografi. Pada orang-orang yang mengalami adiksi dan berjuang keras melawan adiksinya. Tentang bagaimana hidup seseorang ketika mencandu pornografi. Pernahkah Anda mendengar bahwa pornografi merusak 5 (lima) bagian otak manusia yang akan mengakibatkan otak mengecil? Hal ini sangat berpengaruh dalam berpikir, juga mempengaruhi cara pandangnya terhadap masalah dan pengambilan keputusan.  Ah, saya teringat sebuah video bagus yang dibagikan seorang kawan. Bisa dilihat di sini. (klik)

Bila Anda sudah melihat video itu, saya yakin Anda sudah punya bayangan seperti apa pornografi bisa menjadi bencana. Saya menyaksikan sendiri, seseorang yang tercandu pornografi. Dari luar, ia terlihat baik-baik saja. Namun sebetulnya sama sekali tidak. Hidupnya benar-benar labil. Ia selalu bingung dengan dirinya. Jika ada puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan orang generasi muda kita mengalami hal yang sama, apa jadinya?

Baik terorisme maupun pornografi sama-sama berbahaya menurut saya. Tidak hanya terorisme, pun rasanya saya ingin mendengar lebih banyak laman web yang bermuatan pornografi, diblokir oleh Pemerintah. Ah sekali lagi, mungkin saya yang kurang wawasan. Mungkin di balik meja-meja staf di Kementerian Kominfo saat ini ada orang-orang yang sibuk memblokir situs bermuatan pornografi. Sibuk bekerja dalam diam, supaya negara ini selamat. Baik dari ancaman dari dalam maupun dari luar.
Semoga. 

#Day10
#30DWCJilid7
#Squad8






Baca selengkapnya

Sunday, July 9, 2017

Fabulous 30, Why?

Masih bicara soal Why, saya teringat pada saat munculnya ide menulis #Fabulous30. Fabulous yang bermakna menakjubkan, luar biasa, hebat, menunjukkan hidup yang ingin saya jalani di usia ini. Tulisan-tulisan saya yang berlabel Fabulous 30 bukan hanya soal cerita dan pengalaman pribadi, namun juga akan berisi tips bagi wanita lajang usia tigapuluhan.

Gagasan ini muncul dari kegelisahan saya saat menyadari bahwa ada banyak momen dan kesempatan baik yang saya lewatkan dalam hidup.  Sudah tidak terhitung berapa kali saya diceramahi driver ojek maupun taksi online, ketika mereka tahu usia dan status saya. Saya yang awalnya biasa saja, setelah diceramahi kadang jadi gundah gulana nan galau akhirnya. Saya mulai memperbanyak investasi yang sifatnya self development dan capacity building. Dalam setahun terakhir banyak event, kelas online, coaching, dan pelatihan yang saya ikuti. Hal-hal yang sebenarnya pernah masuk wishlist saya di usia duapuluha, dan kini done. 

Dari berbagai pelatihan itu, jaringan pertemanan saya meluas. Saya mendapatkan banyak sudut pandang baru tentang kehidupan, juga kesadaran bahwa sudah banyak waktu yang terbuang, banyak hal-hal tidak efektif yang masih saya kerjakan, dan usia yang terbatas. Mengapa kesadaran itu baru terbangun sekarang? Mengapa saya tidak benar-benar mengoptimalkan potensi diri, saat saya masih bisa berbangga menyebutkan usia dua puluh sekian. Alangkah berbahagianya orang-orang yang bisa menemukan kemapanan dan makna hidupnya sebelum usia 30. Namun, jika ada yang baru menyadarinya seperti saya? Atau yang sedang galau dengan usia 30nya? Bagaimana mereka menghadapinya?

Berangkat dari situlah, ide fabulous 30 ini muncul. Terlebih, masih ada kawan-kawan dekat yang senasib dengan saya. Saya ingin membagikan lebih banyak cerita-cerita, insight yang saya dapatkan kepada mereka. Harapannya agar dapat menjadi inspirasi hidup untuk memanfaatkan waktu lajang sebaik-baiknya dengan memberdayakan semua potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada diri. Selain itu saya berharap, ada lebih banyak perempuan muda di luar sana, yang dapat mengambil pelajaran dari tulisan-tulisan saya dan melesatkan hidupnya sebelum masuk usia tigapuluh.


#myFabulous30
#day4
#30DWCJilid7
#squad8

Sumber Gambar


Baca selengkapnya

Thursday, April 27, 2017

Curhat atau Mengeluh?

"Sebenarnya, gw ga mau curhat. Ah, drama banget gw hari ini. Sebel."

Sepotong kalimat ini sering saya dengar akhir - akhir ini. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, curhat  adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindarkan. Takut dianggap drama queen, atau tukang ngeluh yang senggol dikit langsung curhat. Pada intinya, tidak ingin di judge dengan isi curhat itu. Bagi sebagian yang lain, curhat dianggap sebagai bentuk keluhan. Saya dulu menahan diri untuk tidak curhat kesana kemari karena satu alasan lain. Yakni merahasiakan keluhan, yang dianjurkan dalam salah satu hadis.

Sudah beberapa tahun lamanya, saya menahan diri untuk menceritakan keluhan atau curhat pada siapa pun. Walaupun itu sebenarnya sedikit berlawanan dengan diri yang cenderung ekstrovert. Jadi tidak menyukai terlalu banyak cerita dan terbuka pada orang lain. Dan bila saya mulai curhat, biasanya ada rasa sesal yang terbit dalam diri. Merasa diri sendiri terlalu dramatis. 

Perasaan yang dipendam ini ibarat sampah emosi yang terkubur dalam diri. Semakin lama berpotensi meledak dan memakan sedikit demi sedikit energi positif. Saya sempat depresi, seringkali menangis tanpa alasan, merasa gagal hidup menjadi perempuan dan kehilangan makna impian. Lalu kemudian merasa bersalah lagi, karena semestinya muslim beriman tak kenal depresi. Masa suram ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga saya tidak bisa merasakan kesedihan mendalam maupun bahagia yang memuncak. Saat itu, saya tidak tahu apa yang salah.

Hingga akhirnya saya mengikuti sebuah training pengembangan diri. Menemukan pelajaran berharga, perihal curhatan dan menyayangi diri. Menyadari, bahwa tak ada yang salah dengan curhat, malah saya amat membutuhkannya. Tapi seperti apa curhat yang dibutuhkan itu?

Curhat yang dibutuhkan itu adalah yang memberi solusi. Biasanya, saya melakukan dua hal ini sebelum curhat: bertanya untuk apa dan kemudian terbuka pada umpan balik dari orang lain setelah mendengar curhat dari saya.

1. Curhat untuk apa?
Saya selalu bertanya pada diri: "Apa yang ingin saya dapatkan dengan menceritakan ini pada si A?". Jika hanya untuk mengeluh, menggerutu, atau menunjukkan sisi mengasihankan, saya urungkan niat curhat. Tapi bila memang ada solusi yang dibutuhkan atau itu efektif untuk menyelesaikan persoalan maupun mencapai tujuan hidup tertentu, lakukanlah. Ceritakanlah apa yang sedang terjadi atau apa yang dirasakan. Kita mungkin akan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah. Tapi yang lebih penting, orang lain mungkin memang punya solusi untuk mengatasi persoalan itu.


2. Terbuka pada umpan balik
Biasanya dari sudut pandang orang lain, terlihat sikap diri yang tidak efektif dalam menyelesaikan atau menghadapi persoalan. Tapi biasanya, kita tidak ingin mendengarkan umpan balik soal itu. Kita fokus mencari pembenaran dan orang yang mau memberi belas kasihan. Menjadi orang di sisi kita. Padahal, umpan balik yang jujur itu penting. Supaya kita bisa memperbaiki sikap atau mengubah sikap ketika suatu saat kelak dihadapkan pada persoalan yang sama. 

Dengan dua sikap ini, saya tidak lagi menumpuk sampah emosi dalam diri. Perasaan cemas dan tiba-tiba menangis tanpa alasan, sudah tidak pernah lagi saya alami. Saya seakan semakin pahami batasan, kapan saya perlu curhat dan kapan saya perlu menyimpannya sendiri untuk dikeluhkan pada Allah saja. Dan hal paling penting saat bijak mengelola curhat adalah masalah-masalah yang tampaknya mustahil dan berat untuk diselesaikan, bisa jadi menemukan solusi dan jawaban. Melalui sesi curhat, tentunya curhat yang beralasan, bukan sekedar keluhan. 

Salam, Tiech. 


Dan aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku perlu berbagi, tentang cerita diri. Bukan untuk membanggakan, bukan pula untuk berkeluh kesah tentang beragam masalah. Tapi bercerita pada orang lain, bahwa aku dalam kesulitan, mungkin mereka bisa memberikan dukungan, untukku melewati tantangan.
Curhat tanpa alasan tetap bisa dihindarkan. Tapi pun aku tidak memendam semua sendirian. Berkeluh kesah pada Allah semata, sejujur  jujurnya, dengan penuh penghambaan padaNya. Orang- orang disekitar hanya menjadi perantara. Hendaknya mereka adalah orang yang bersedia, mengatakan hal yang sebenarnya. Tanpa ada perasaan tidak enak telah menyakiti rasa. Karena sesungguhnya kawan yang sejati tidak pernah menutupi. Ingin kawannya hidup bahagia dan mencapai semua mimpi. 
Sejak itu telah kutemukan, kapan aku perlu bercerita, kapan aku perlu diam. Semuanya hanya soal solusi. Aku tidak bisa menghadapi semua sendiri. Butuh bantuan Allah, juga butuh pertimbangan dari orang lain. Bisa jadi pertolongan Allah datangnya diperantarakan melalui kawanku tadi. Bukankah demikian maksud penciptaan?

#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid5
#Day16
#Squad1
Baca selengkapnya

Monday, April 24, 2017

Rumah


Menjelang tengah malam. Mataku semakin panas. Ah tolong, jangan sekarang. Ada setumpuk bacaan dan bahan paparan yang harus aku selesaikan. Tanganku masih tidak bisa lepas dari layar. Jemariku masih mengakrabi tuts keyboard di laptop, walau mata sudah mulai tak jelas melihat. Sementara otakku berusaha mengumpulkan kembali semua pikiran yang bercabang. Agar menjadi satu jalan. Pekerjaan ini harus segera selesai. 

Hanya butuh semenit. Kerongkonganku lalu tercekat. Dan aku tak bisa mengelak. Satu tetes mengenai mejaku. Dua, tiga, lalu akhirnya mengucur deras. Aku menyeka pipi dan hidung yang sudah basah. Lalu susah payah menarik udara. Suara diseberang masih berbicara. Untuk kemudian terdiam. Mendengarkan lirih tangisan. 

“Tidak apa, Dek. Kondisi Bapak memang semakin drop…..”  

Tanganku terhenti. Suara di seberang masih berbicara. Namun perlahan terdengar menjauh. Aku tak mampu mencerna suara lainnya. Karena kini otakku sibuk menggemakan tiga kata: bapak sakit parah. Dan aku masih berada ribuan kilometer di seberang pulau. Tuhan, aku ingin terbang sekarang. 

Rumah
#30dayswritingchallenge
#Day14
#30DWCJilid5 
#squad1

Baca selengkapnya

Friday, April 14, 2017

Kesibukan: Pengingat dari Seorang Kawan

Kesibukan: Pengingat dari Seorang Kawan

Jalan Tuhan, tak selalu mudah, tapi itu pasti yang terbaik. Miliki iman, dan Dia akan menunjukkan padamu, apa yang harus dilakukan. – unknown
Sebuah kutipan yang diambil seorang kawan dari sebuah akun jejaring sosial mengingatkanku pada makna bergerak. Makna yang sungguh mudah teralihkan dan tidak kupahami dengan baik. Yang semestinya membuatku kuat menghadapi apapun yang diberikan Tuhan di jalan. Bahwa sesungguhnya semua yang kulakukan, hanya demi Rabb semesta alam.  

Sungguh, memaknai niat beraktivitas memang mudah dilakukan. Namun, menjaganya agar tidak tergerus dengan arus kesibukan, itulah yang menjadi tantangan. Seringkali, aku baru menyadari, bahwa aku bergerak dengan niat yang tidak lurus. Ingin berharga di mata manusia, bukan karena ingin istimewa di hadapan Tuhan.

Kalau sudah begitu, segala kesibukan menjadi duri dalam badan. Energi mendekati batas tiada, terseok – seok hendak menuju tujuan. Keluh, kesah, gundah, dan gelisah pun semakin akrab dengan jiwa. Bukan Tuhan yang tiada ingin membantu. Namun aku yang jumawa melangkah. Menganggap diri kuat dan bisa. Lupa bahwa hakikatnya, tiada daya dan upaya melainkan apa yang diberikan oleh-Nya. 

Ah, terima kasih kawan, sudah membagikan kutipan itu. Kau pasti tidak tahu, itu membuatku merenungi kesibukan hidup yang kujalani. Mempertanyakan lagi, sudahkah aku bergerak di jalan Ilahi?

Salam hangat, Tiech

#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid5
#day4
#squad 1
#nonfiksi
Baca selengkapnya