Showing posts with label cerita lajang. Show all posts
Showing posts with label cerita lajang. Show all posts

Tuesday, July 11, 2017

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

10 Hal yang Saya Sadari Saat Usia 30

Pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas 3 dari 10 hal yang saya sadari begitu memasuki usia 30:
1. Kesadaran merawat diri
2. Memanfaatkan kesempatan apapun yang dimiliki
3. Hasrat Kembali ke Rumah semakin besar
Lalu, apa saja 6 hal lainnya?
 
4. Sibuk dengan Self Improvement
Menyadari waktu yang kian terbatas sementara diri ini minim prestasi, saya merasa membutuhkan self improvement atau pengembangan diri. Pada saat lulus SMA saya memang gemar membaca buku-buku psikologi dan pengembangan diri. Namun masuk usia duapuluhan saya lebih sering mengoleksi novel dan buku tentang tips-tips praktis dalam hidup. Akhir-akhir ini selain mengikuti tes kepribadian yang gratis maupun berbayar, saya menyukai hal-hal yang berkenaan dengan self healing, mengenal diri melalui Human Design Approach, mengikuti training, coaching, dan mulai mengoleksi lagi buku-buku bertema Self Improvement. 

5. Mencintai dan Menerima Diri
Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah membandingkan diri saya dengan orang lain. Dengan teman yang sudah menikah dan punya anak, dengan teman yang sudah menyelesaikan pendidikan magister dan doktornya di luar negeri, dengan teman yang sudah berada pada jenjang karir yang tinggi dan lembaga prestisius, dan banyak hal lainnya. Hasilnya saya membenci diri saya sendiri dan merasa terjebak dalam jiwa yang salah. Kemudian melupakan bahwa ada banyak dari diri yang bisa disyukuri. Saya terlalu lama fokus pada pencapaian orang lain dan kelemahan diri. Melupakan bahwa saya punya tujuan sendiri, cara dan mungkin hasil yang berbeda dari orang lain. Saya hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri sendiri. 

6. Butuh Visi dan Target Abadi
Sebenarnya saya selalu merasa punya tujuan hidup. Beribadah kepada Allah. Itulah yang mestinya seorang muslim miliki dan tercantum pula dalam kitab. Tapi saya kemudian menyadari bahwa itu sebenarnya tujuan penciptaan manusia. Saya ternyata belum memiliki tujuan yang jelas, yang sejalan dengan tujuan penciptaan itudan yang menjadi alasan untuk saya melakukan apapun dalam hidup. Dan itulah yang saya butuhkan, agar semua yang saya lakukan bermakna ibadah, agar saya selalu punya energi untuk bergerak dalam hidup. 

7. Karir ini bukan yang saya inginkan
Ketika saya mulai tidak tertarik dan excited saat mengerjakan proyek-proyek di kantor, awalnya saya pikir itu hanya jenuh. Namun semakin lama, saya meyakini ada sesuatu yang tidak pas. Tes kepribadian dan bacaan-bacaan self improvement, juga keterlibatan saya pada aktivitas sosial di luar kantor membantu saya mengenali bakat saya yang sesungguhnya dan menemukan karir impian saya. Saya memutuskan keluar dari kantor. Dan kini sedang mencoba memasuki dunia pekerjaan baru dan fokus menulis. 

8. Tidak tertarik bermain-main
Dulu, di tahun-tahun awal saya bekerja, saya selalu menyiapkan waktu khusus diakhir pekan untuk bertemu teman-teman. Kami menyebutnya dengan agenda 'main'. Agenda ini kadang diisi dengan sekedar makan-makan di kafe, jalan-jalan, ke mall, nonton bioskop, karaoke, atau sekedar berolah raga di lokasi Car Free Day. Kami bisa menghabiskan waktu seharian untuk bermain. Kini, agenda seperti itu sudah tidak menarik hati lagi. Saya lebih memilih menemui orang untuk silaturahmi, atau menghadari acara-acara amal, pengajian, atau seringnya memilih di rumah untuk membaca buku atau membereskan rumah. Waktu saya terlalu berharga untuk sekedar bermain.

9. Nyaman > Gaya
Bicara soal penampilan, dulu saya paling tidak mengerti pada seorang kawan yang usianya 18 tahun lebih tua dari saya. Dia sangat menyukai sepasang sepatu kulit yang menurut saya modelnya membuat kakinya terlihat gendut, tidak menarik.  Saat itu saya menyukai sepatu berhak tinggi dan berpotongan menarik sehingga membuat kaki terlihat jenjang, meskipun terasa sakit memakainya. Kini, saya lebih tertarik pada sepatu yang nyaman dipakai, tidak masalah kalau bukan trend. Begitupun dengan kerudung. Kalau dulu masih betah memakai pasmina, ikut tutorial, sibuk menggunakan jarum pentul. Kini, saya memilih kerudung yang nyaman dan mudah dikenakan.Kadang saya hanya menggunakan dua bros atau peniti saja. Yang penting kerudungnya tebal, tidak licin dan menutup dada. Tutorial hijab itu semakin memusingkan kepala saya.

10. Mempersiapkan Dunia dan Akhirat
Setelah melewati hidup ibarat mengalir seperti air, saya sadar bahwa jika saya tidak cukup mempersiapkan hidup saat ini, maka di hari tua nanti lah akibatnya akan saya rasakan. Saya sadar perlu investasi, memiliki tabungan jangka menengah dan jangka panjang, mengelola keuangan untuk mempersiapkan kehidupan mulai dari menikah, punya anak, hingga masa pensiun kelak. Dan dimasa ini pula saya semakin jeli pada setiap kesempatan untuk berinvestasi di akhirat. Entah itu dengan sedekah, berbuat baik tanpa melihat besar kecilnya tindakan itu, berharap pada setiap tindakan yang berniat untuk Allah, diterima dan diridhoi-Nya. 

Nah, begitulah 10 hal yang saya sadari begitu masuk usia 30. Kalau kamu bagaimana? Yuk, didaftar yuk!. Siapa tahu kamu punya daftar yang berbeda dan bisa menjadi pelajaran bersama.

#myFabulous30
#Day6
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Monday, July 10, 2017

Bukan Tentang Menanti (Bagian 4)

Saya pernah menulis bahwa kehidupan sebagai lajang bukan sekedar menanti di tulisan berjudul "Bukan Tentang Menanti". Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang poin ke-3, dari 10 hal yang saya sadari begitu memasuki usia 30 tahun yakni ingin kembali pada ibu. 

3. Kembali pada Ibu
 
Saat melihat gambar ini dari akun media sosial, saya langsung setuju untuk semua poin hingga usia 30. Karena seperti itulah yang saya rasakan. Saya pernah ingin secepatnya pergi merantau selepas SMA. Dan merasa benar-benar mendapatkan kebebasan sesudahnya. Pada usia 25 tahun terjadi sesuatu yang membuat saya menyesal dan menyadari bahwa Mama' benar.  Dan pada usia ini pula keinginan untuk pulang kembali ke rumah benar-benar tidak bisa dibendung lagi. 

Lebih dari satu dekade saya merantau. Pernah sekali mencoba pulang ke kampung halaman, namun hati masih terpaut tanah rantau, sehingga saya memutuskan untuk kembali merantau. Tapi kali ini perasaannya berbeda sekali. Saya sudah menyiapkan diri untuk tinggal bersama kedua orang tua. Keduanya semakin sepuh dan butuh didampingi. Bagi saya ini adalah masa yang tepat untuk berbakti, mumpung saya masih punya kesempatan. 

Saya mengambil keputusan itu dalam waktu yang sangat singkat sekali. Membuat banyak orang bertanya, "Ada apa denganmu?" Karena saya bukan hanya meninggalkan pekerjaan, namun juga banyak aktivitas lain yang ada di Kota Bandung. Keputusan ini bukan keputusan yang mudah, seringkali keraguan dan ketakutan muncul. Takut tidak menemukan pekerjaan yang sesuai, takut terlalu lama menganggur, tidak betah tinggal di desa.Namun semakin lama, saya semakin tidak nyaman dan tidak fokus bekerja. Ada sesuatu lain yang membuat saya merasa lebih hidup. Saya nekad mengajukan pengunduran diri ke perusahaan. Lakukan saja apapun resikonya, pikir saya saat itu. Dan Alhamdulillah saat keputusan itu sudah bulat, seorang kawan lama menghubungi dan menawarkan dua proyek untuk saya. Saya akhirnya kembali ke rumah masa kecil ini. Tak ada yang bisa menggantikan perasaan ketika mengetahui kondisi Mama' yang membaik dan dapat tidur nyenyak semenjak saya kembali. 

#Day5
#myFabulous30
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Sunday, July 9, 2017

Fabulous 30, Why?

Masih bicara soal Why, saya teringat pada saat munculnya ide menulis #Fabulous30. Fabulous yang bermakna menakjubkan, luar biasa, hebat, menunjukkan hidup yang ingin saya jalani di usia ini. Tulisan-tulisan saya yang berlabel Fabulous 30 bukan hanya soal cerita dan pengalaman pribadi, namun juga akan berisi tips bagi wanita lajang usia tigapuluhan.

Gagasan ini muncul dari kegelisahan saya saat menyadari bahwa ada banyak momen dan kesempatan baik yang saya lewatkan dalam hidup.  Sudah tidak terhitung berapa kali saya diceramahi driver ojek maupun taksi online, ketika mereka tahu usia dan status saya. Saya yang awalnya biasa saja, setelah diceramahi kadang jadi gundah gulana nan galau akhirnya. Saya mulai memperbanyak investasi yang sifatnya self development dan capacity building. Dalam setahun terakhir banyak event, kelas online, coaching, dan pelatihan yang saya ikuti. Hal-hal yang sebenarnya pernah masuk wishlist saya di usia duapuluha, dan kini done. 

Dari berbagai pelatihan itu, jaringan pertemanan saya meluas. Saya mendapatkan banyak sudut pandang baru tentang kehidupan, juga kesadaran bahwa sudah banyak waktu yang terbuang, banyak hal-hal tidak efektif yang masih saya kerjakan, dan usia yang terbatas. Mengapa kesadaran itu baru terbangun sekarang? Mengapa saya tidak benar-benar mengoptimalkan potensi diri, saat saya masih bisa berbangga menyebutkan usia dua puluh sekian. Alangkah berbahagianya orang-orang yang bisa menemukan kemapanan dan makna hidupnya sebelum usia 30. Namun, jika ada yang baru menyadarinya seperti saya? Atau yang sedang galau dengan usia 30nya? Bagaimana mereka menghadapinya?

Berangkat dari situlah, ide fabulous 30 ini muncul. Terlebih, masih ada kawan-kawan dekat yang senasib dengan saya. Saya ingin membagikan lebih banyak cerita-cerita, insight yang saya dapatkan kepada mereka. Harapannya agar dapat menjadi inspirasi hidup untuk memanfaatkan waktu lajang sebaik-baiknya dengan memberdayakan semua potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada diri. Selain itu saya berharap, ada lebih banyak perempuan muda di luar sana, yang dapat mengambil pelajaran dari tulisan-tulisan saya dan melesatkan hidupnya sebelum masuk usia tigapuluh.


#myFabulous30
#day4
#30DWCJilid7
#squad8

Sumber Gambar


Baca selengkapnya

Thursday, July 6, 2017

Tiga Puluh

Tiga Puluh


"Why isn't she married? She's turning 30 today." Kataku pada bayangan di depan cermin ini. Waktu rasanya melesat cepat. Mengantarkanku pada masa baru, perempuan dengan usia kepala tiga. Tapi mengapa rasanya seolah aku belum lama lulus kuliah. Seolah aku masih berusia dua puluh dua. Bahkan kawan-kawan dekatku masih banyak yang lajang. Bayanganku, pada usia ini aku tinggal di sebuah rumah bersama suami dan dua anak. Kenyataannya, aku seorang karyawan sebuah perusahaan swasta dan tinggal di sepetak kamar kos berukuran 3 x 3 meter. Bagi orang tuaku, hidupku belum mapan. Tak ada jaminan hari tua, pun tak ada pasangan bersua.

Bertambah-tambah kepanikan mereka, melihatku tak menunjukkan tanda-tanda memiliki calon suami. Juga seperti tak hendak mencari calon suami. Aku sebetulnya bukan tak panik. Memasuki usia ini, aku mulai sadar bahwa kulitku berbeda, respon tubuhku juga mulai berbeda, tapi perasaanku menghadapi masa lajang juga berbeda. Less baper, less galau, less drama. Aku panik, karena aku semakin tidak panik karena belum menikah.

Perasaan-perasaan ini membuatku penasaran seperti apa perempuan seusiaku menjalani masa awal usia tigapuluhannya. Suatu hari aku mulai mengirimkan pesan pada kawan-kawan terdekatku. "Menurutmu, being 30 and single itu apa artinya?" begitu tanyaku pada mereka. Dan inilah jawabannya.

"Being 30, aku bisa ngatur emosi, atur prioritas. 30 artinya fabulous, be the best version of yourself. Ga ada alasan untuk tidak melakukan hal-hal baru."  -Ria, Pegawai BPOM-

"Being 30 and single is challenging, more responsible, time to rule the world. Being 30's and still single is kind of threat for other woman ti, catet." -Lilik, Konsultan-


"30 menurut gue usia yang ibarat telor ceplok 3/4 mateng, terlihat dari luar udah mateng tapi pas dimakan masih ada bagian lembeknya. Fase dimana udah mulai sedikit pasrah akan jodoh. Saat dimana orang-orang udah ga terlalu nyinyir lagi nanya kapan nikah, karena mungkin mereka juga sadar kalau jodoh itu rahasia Tuhan, bukan karena wanita usia 30 tidak berminat menikah!" -Anggie-
"Being 30 and single, anugrah sekaligus ujian. Anugerah karena masih diberi waktu untuk belajar dan meraih berbagai hal yang mungkin diperlukan dalam rumah tangga nantinya. Ujian karena menghadapi pertanyaan-pertanyaan orang itu tak mudah. Selain itu, karena kodratnya berpasangan maka menjalani hidup tanpa pasangan akan terasa berat." -Dian, Dosen dan Penulis-
Di tengah kepanikan diri, orang tua, dan mungkin tetangga, karena sang gadis memasuki usia 30, membaca komentar teman-temanku ini rasanya melegakan. Membuatku melihat bahwa sebenarnya masih lajang di usia 30 adalah sebuah kesempatan. Hey, being 30 and still single actually wonderful. Ini bukan pilihan, namun  memandangnya sebagai sebuah anugerah akan lebih bermakna. You can create your Fabulous 30. Dan di tulisan-tulisan berikutnya saya akan banyak berbagi kisah tentang #myFabulous30.




#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Day1
#Squad8



Baca selengkapnya

Wednesday, May 3, 2017

Bukan Tentang Menanti (Fabulous 30 Bagian 3)

Bukan Tentang Menanti (Fabulous 30 Bagian 3)

Sejujurnya, berada dalam fase kehidupan sebagai perempuan di usia 30 dan masih lajang bukanlah sesuatu yang menjadi kegelisahan utama dalam hidup saya. Karena sejujurnya, saya pernah melupakan usia sendiri. Kalau bukan karena seseorang yang menanyakan umur saya suatu waktu dulu, mungkin saya baru benar-benar menyadari, tahun ini usia saya masuk kepala tiga. 

Tapi, tidak benar juga rasanya kalau di usia ini saya tidak panik. Belum memutuskan pekerjaan tetap, belum punya pasangan, belum punya aset, belum merencanakan kehidupan ke depan, dan seterusnya. Pernikahan, mungkin penyumbang kepanikan terbesar. Walaupun kadang-kadang, saya malas memikirkannya. Tapi kepanikan itu menyerang lagi ketika saya melihat orang lain yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Naluri saya terpanggil. Kadang - kadang bisa jadi sumber kesedihan dan kegalauan. 

Tapi sejak tahun lalu, saya merasakan ada sesuatu yang berubah dari diri saya. Bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang bagaimana saya menghadapi kehidupan. Dari situ saya sadar, bahwa hidup di usia 30 sebagai wanita single tidak melulu soal kegalauan. Ada banyak hal yang bisa disyukuri. Ada banyak peluang yang dapat diambil. 

Bagi saya, ada 10 (sepuluh) hal baru yang saya rasakan ketika masuk usia 30an. Apa saja itu? 

1. Kesadaran merawat diri
Kalau sebelumnya saya cenderung cuek soal penampilan dan kesehatan, kini saya sangat memperhatikan asupan makanan, olahraga, dan perawatan kulit. Saya sadar, apapun investasi diri yang saya lakukan saat ini, akan memberikan manfaat di kemudian hari. Memasuki usia 30 ini  saya mulai sering mamatut diri di cermin, memeriksa,kulit wajah yang manakah yang membutuhkan perhatian ekstra.  Mulai rajin berolahrga, selain untuk membentuk tubuh, juga sadar bahwa kemampuan metabolisme yang menurun. 

2. Memanfaatkan kesempatan apapun yang dimiliki
Karena saya menyadari waktu sendiri semakin sempit, juga jatah hidup yang semakin berkurang, saya semakin cepat mengambil keputusan dan kesempatan untuk meningkatkan diri. Prinsipnya, saya ingin menjadi versi terbaik diri saya, dan hitung-hitung menjadi calon istri dan ibu yang berkualitas pula. Mulai ikut kelas ini dan itu, mengikuti pelatihan pengembangan diri, bergabung di komunitas, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, dan banyak hal lainnya. dan ternyata itu semua membuat hidup saya semakin seru dan menyenangkan. Semakin sempit waktu yang dipunyai untuk sekedar tenggelam dalam kegalauan. 

 Poin 3 - 10 dilanjut di tulisan berikutnya ya. 
Stay Tune!
....bersambung

#30Dayswritingchallenge
#30dwcjilid5
#day23
#squad1
Baca selengkapnya

Sunday, April 30, 2017

Fabulous 30 (Bagian 2)

seandainya kamu merasakan
jadi aku sebentar saja
takkan sanggup hatimu terima
-Judika, Jadi Aku Sebentar Saja-

Rasanya selarik lirik lagu Judika ini mewakili perasaan banyak perempuan. Bukan hanya perempuan yang sedang patah hati, namun juga perempuan yang masih sendiri. Menjalani hidup sebagai perempuan single di usia 30an memang tidak jauh dari stigma yang tidak menyenangkan. Meskipun kita sudah berada di era modern seperti ini dan sudah banyak pula orang yang berfikiran terbuka, namun belum menikah di usia kepala tiga tetaplah sebuah tantangan. 

Padahal tidak semua perempuan single belum menikah karena pilihannya atas gaya hidup melajang. Naluri perempuan tetap tersentuh disaat melihat orang yang sudah berpasangan dan mempunyai anak. Sisi batinnya pun menginginkan demikian. Membangun keluarga sendiri. Namun, terkadang ada banyak hal yang menyebabkan jodoh yang dinanti belum datang. Sementara orang - orang sekitar, entah itu keluarga, kawan, tetangga, bahkan mungkin tukang ojeg langganan sibuk menanyakan kapankah sang perempuan mengakhiri kesendirian.
"Jangan lama-lama, niat baik harus disegerakan"
"Aduh, kamu sudah seusia ini jangan pilih-pilih. Perempuan itu masa melahirkannya sebentar saja. Semakin tua semakin susah mencari pasangan. Belum tentu juga nanti ada yang mau."
"Kamu nanti susah melahirkannya loh. Tak baik perempuan terlalu lama menikah."
"Jangan terlalu banyak pertimbangan. Sudah untung masih ada yang mau."
Dan berbagai komentar serupa lainnya mengalir deras dari lisan semua orang. Kalau sudah begini, galau dan panik melanda. Lebih parah lagi, jika ini membuat sang perempuan menikah untuk kejar setoran. "Asal saya laku". Padahal menikah adalah mengarungi bahtera kehidupan. Ada perjalanan panjang yang dijalani bersama baik dalam suka maupun duka. Pernikahan bukan sekedar kejar setoran sebelum usia masa reproduksi habis, namun ini soal tujuan, komitmen, dan tanggung jawab. Menikah karena panik, jangan sampai dilakukan. 

Di lain sisi, ada pula perempuan yang sudah mapan. Berjaya dalam karir dan keuangan. Independent woman, alias perempuan mandiri. Umumnya merasa sudah melewati target menikah (yang biasanya berkisar antara usia 25-28 tahun) jadi merasa seperti: "ya sudahlah, gimana nanti saja. Toh kalau sudah jodoh juga tidak akan kemana." Ini adalah tipe perempuan yang sangat santai menghadapi urusan pernikahan. Bahkan mungkin hampir atau sudah kehilangan hasrat menikah karena melihat pengalaman saudara dan kawan - kawannya yang sudah menikah tampak ribet hidupnya. Lebih nyaman hidup sendiri, demikian kesimpulannya. Nah, ini pun berbahaya.

Kedua kutub ekstrim ini sebaiknya tidak dijalani Anda ya single ladies. Perempuan itu istimewa, ada generasi yang perlu ia bina kelak. Pun kalau masih belum dipertemukan dengan jodoh, tetap perlu diusahakan. Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam usaha mendapatkan jodoh, sekaligus meningkatkan kualitas diri. Bagi umat muslim, pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan. Tidak ada istilah melajang. 

Seorang kawan saya mengatakan, masa lajang di usia 30an dapat dipandang sebagai bentuk anugerah sekaligus ujian. Anugerah karena masih diberikan kesempatan untuk belajar dan meraih hal - hal yang kelak mungkin dibutuhkan untuk berumah tangga. Ujian karena tidak mudah melawan kodrat manusia yang memang diciptakan berpasangan. Tidak mudah pula menjawab pertanyaan orang - orang yang memulai basa - basi dengan pertanyaan: "kapan kamu menikah?"

So single ladies, alih-alih fokus dengan kepanikan yang memang menyerang kita, akan lebih baik ketika kita fokus memanfaatkan masa-masa ini dengan hal-hal yang memang masih ingin kita raih. Bagaimana melakukannya, dan menjadi fabulous single woman di usia ini? 

Kita bahas di Fabulous 30 berikutnya ya!

love u, Tiech.

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day20
#Squad1
#Fabulous30




Baca selengkapnya

Thursday, April 27, 2017

Fabulous 30 (Bagian 1)

Fabulous 30 (Bagian 1)



 "Kamu pilih-pilih kali. Terlalu banyak kriteria. Makanya belum ada yang mau. Jadi perempuan itu nerima aja. Kalau usia sudah kepala tiga, semakin susah jodoh mendekat."

Sepenggal nasihat di atas mungkin akrab di telinga pada ladies di usia 30an dan masih melajang. Sebagian orang menanggapi santai, ada pula yang kesal. Saya sendiri termasuk kategori pertama. 

Fenomena melajang ini sepertinya sudah sangat mengglobal. Mulai dari Amerika Serikat yang proporsi lajangnya mencapia 25 %, juga Jepang yang angka wanita lajangnya meningkat hingga 28, 8% pada tahun 2014.  Well, dari segi budaya mereka memang berbeda dengan Indonesia. 

Mengutip hasil survey yang dipublikasikan di sebuah web,  jumlah wanita lajang  usia 24-44 tahun di Indonesia menipis tajam menjadi 17,13 persen. Kecenderungannya, menikah di usia produktif masih menjadi pilihan perempuan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan trend tahun 2019 -2013, dimana pernikahan rata - rata bertambah 1,54 persen setiap tahunnya. 

Menariknya, data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian perempuan Indonesia sudah mulai memilih untuk melajang atas alasan pekerjaan dan lainnya, namun ia belum menjadi trend sosial. Kebanyakan perempuan Indonesia masih memilih menikah ketimbang karier. Penyebab lainnya, juga karena sosial budaya masyarakat Indonesia yang masih memandang 'keberhasilan' perempuan adalah ketika ia bisa menggaet anak orang, menjadi suaminya. 

Pandangan-pandangan negatif terhadap wanita usia 30an dan masih melajang seringkali memberi dampak pada status emosi wanita. Bagi sebagian perempuan, melajang bukanlah pilihan. Ada hal yang mungkin sudah banyak ia usahakan untuk menemukan sang belahan jiwa, namun belum juga ditemukannya. Sehingga bila mendengar perkataan yang menyindir diri, itu akan menjadi bumerang bagi sang perempuan. Tenggelam dalam sampah emosi. Belum lagi ketika sudah mulai merasakan, perubahan kulit dan metabolisme. Perempuan bisa merasa tidak berharga dan diabaikan.

Padahal, sebagai fase baru dalam hidup, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa dilakukan. Seperti blessing in disguise, ada saja yang bisa disyukuri dengan hidup sebagai lajang. Bahkan single ladies sebaiknya menjadikan usia kepala tiga ini sebagai waktu paling efektif dan bermakna dalam kehidupan. Sibuk menebarkan manfaat, bukan jala tebar pesona. Sibuk mencari dan mengamalkan ilmu, sehingga kualitas diri meningkat. 

Woman, 30, and Single, it is a BIG deal.
So, how to live in your 30s, ladies?
Stay tune!


love, Tiech. 


#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day17
#Squad1
#Fabulous30


Referensi:
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160308193757-277-116237/perempuan-indonesia-masih-pilih-menikah-dibanding-karier/
Baca selengkapnya