Showing posts with label Fabulous 30. Show all posts
Showing posts with label Fabulous 30. Show all posts

Wednesday, February 14, 2024

Caregiver dan Dosen, Dua Peranku di Masa Kini

Caregiver dan Dosen, Dua Peranku di Masa Kini

 “It is the ultimate luxury to combine passion and contribution. It’s also a very clear path to happiness.” – Sheryl Sanberg


Kutipan ini menjadi salah satu penyemangat dan penguat saya saat merasa kewalahan menghadapi banyak hal dalam hidup. Setelah merantau belasan tahun di Bandung, 7 tahun lalu saya menguatkan keputusan untuk kembali ke kampung halaman. Alasannya sederhana, mengabdi kepada kedua orang tua yang kondisi  kesehatannya semakin memburuk dan membutuhkan perhatian khusus. Begitu saya kembali, saya menjadi caregiver kedua orang tua sekaligus menjadi dosen PNS di Politeknik Negeri Sambas.


Tahun ini adalah tahun ke-8 saya merawat kedua orang tua saya. Pekerjaan berbayar surga, namun ‘terpeleset’ sedikit bisa membawa ke neraka. Awalnya saya yakin bisa menjalankan tugas birrul walidain ini dengan baik, namun dalam perjalanannya, Masya Allah sungguh banyak tantangannya. Semakin lanjut usia Mamak dan Bapak saya, semakin berbeda keduanya secara fisik maupun mental. Bahkan kini, kadang saya merasa siang menjadi malam, malam menjadi siang. Mamak tidak nyenyak tidur di malam hari, jadi saya kerap terjaga hingga pukul 01.00 dini hari, lalu terbangun lagi pukul 03.00. Kadang membantunya ke kamar mandi, menggaruk badannya, menyiapkan makannya, atau memijat punggungnya kalau tiba-tiba beliau merasa sesak.  Sejujurnya ini tidak mudah. Setiap pagi saya memikirkan menu, mempertimbangkan kesukaan Mamak, kondisi perut dan kesehatannya di hari itu, juga mempertimbangkan kesukaan Bapak. Semakin lansia, selain perut yang sensitif, keduanya juga jadi picky eater, seleranya pun berbeda. Kadang saya merasa seperti sedang mengurus new-born. Ada kalanya saya lelah sekali atau dalam kondisi sakit namun tetap harus 'sehat' karena tidak ada yang bisa membantu sayaHanya ada saya, Mamak, dan Bapak di rumah ini. Kalau sudah begitu, biasanya saat menyuapi makan, memijat, atau melakukan apa pun untuk Mamak, saya melakukannya sambil menangis


Biasanya orang memuji saya ketika melihat saya mengurus kedua orang tua. Sebenarnya, saya malu dipuji dan dianggap anak berbakti, padahal masih banyak kurangnya diri kala mengurus keduanya. Doakan saja saya, diberikan kesabaran, dimudahkan semua urusan. Saya masih belajar mengatur peran, di rumah dan di kampus. Saya sedang berusaha mengatur emosi, supaya emosi di tempat kerja tidak terbawa ke rumah dan berakhiran saya membentak kedua orang tua.


Sungguh menjadi dosen dan caregiver di saat yang sama sempat membuat saya mengalami gejala depresi tiga tahun silam. Saya hanya membayangkan mengajar seperti dosen saya dulu saat S1, namun ternyata tuntutan pendidikan tinggi vokasi sungguh berbeda dari universitas ataupun institut. Banyak hal yang harus saya pelajari, banyak pula tuntutan administrasi, belum lagi karakter mahasiswa yang sangat menantang untuk dihadapi. Kadang-kadang, saya tidak sengaja menyerap energi negatif mahasiswa dan membawanya hingga ke rumah. Pernah juga kewajiban saya sebagai dosen bertabrakan dengan tanggung jawab saya sebagai caregiver. Dulu, pernah dua hari sebelum presentasi laporan aktualisasi dalam latsar CPNS, Mamak dirawat. Saya bilang ke Mamak, “Sembuh ya, Mak. Tiha belum menyelesaikan laporan untuk latsar. Mamak ingin anak Mamak jadi PNS kan?”. Sehari sebelum pengumpulan laporan, saya lembur di kantor sampai tengah malam. Ternyata di rumah, lisan Mamak tak henti berdoa untuk saya. Bahkan ketika saya tiba di rumah dan sudah berlutut di depannya, beliau masih terpejam sambil berdoa, "Ya Allah lancarkanlah pekerjaan anakku, selamatkanlah dia." Saya menangis lalu memeluk beliau. "Alhamdulillah, anakku datang," serunya. Tahu apa yang terjadi pada hari terakhir latsar alias pelantikan? Saya menjadi peserta dengan nilai tertinggi di angkatan saya, menjadikan saya peserta terbaik di kelompok latsar CPNS. 


Setelah kejadian itu, saya merenung. Saya punya kedua orang tua yang selalu mendoakan, mendukung, dan bangga atas semua pencapaian saya. Bahkan ketika mahasiswa saya mendapat prestasi nasional dan internasional, Mamak dan Bapak saya turut berbangga dan bahagia. Saya punya Mamak, yang tak henti mendoakan saya meskipun kini kepikunan mulai mendatanginya. Saya punya tiket surga, saya hanya perlu menjalani peran ini sebaik-baiknya meski kesulitan kadang menghadang. Tapi, saya percaya bahwa setiap kesulitan disertai dengan kemudahan. Saya juga yakin bahwa Allah memberikan saya jalan yang pasti sanggup saya lalui. Saya meyakini bahwa kemampuan menjalankan tugas sebagai dosen dan menapaki karir yang baik hingga kini adalah karena semua doa dan harapan orang tua saya yang mencapai langit. Kini, meski berjibaku dengan dua peran yang cukup menyita emosi diri, saya berusaha menyeimbangkan keduanya. Agar orang tua saya tidak merasa ditinggalkan dan pekerjaan saya tetap dapat diselesaikan. Tidak mudah, namun begitulah kehidupan. 


Semangat untuk semua perempuan. Apa pun peranmu dan dimana pun kamu berada. 

#tantanganMaGaTa


 

Baca selengkapnya

Thursday, October 15, 2020

Sunday, October 11, 2020

Today's Good Words

Mistakes make you grow. 
Life has its up and down. 
Yes, mistakes is like the bitter side of life. 


take all the responsibility. 
take care of yourself. 

xoxo, tiech. 



Baca selengkapnya

Friday, August 4, 2017

Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Baca selengkapnya

Tuesday, August 1, 2017

Nanti

Nanti


Ada banyak hal yang tertunda dalam hidup saya, karena satu kata: nanti. Nanti deh. Bentar lah. Sehabis ini lah. Sampai kadang tertunda bertahun-tahun lamanya. Salah satunya menempuh pendidikan magister yang tertunda hingga empat tahun dari rencana semula. Ada pula hal-hal yang tak sempat saya lakukan. Karena saya melewatkan momen dan kesempatan yang tersedia. Akibat kata nanti. 

Hal ini pula yang menjadikan saya seringkali mengerjakan segala sesuatu mepet ke deadline. Selain memang karena ada hal lain yang perlu diprioritaskan, tidak jarang pula terjadi karena saya menunda. "Nanti deh, kalau sudah mood. Nanti deh makan dulu. Nanti, agak sore." Akhirnya kadang saya tidak punya waktu banyak untuk merapikan pekerjaan atau memeriksanya kembali. 

Hari ini saya sadar penyakit nanti mulai datang kembali. Ada beberapa pekerjaan yang saya lupakan, gara-gara pada saat kewajiban itu datang, saya katakan: iya, nanti. Ada pula beberapa hal yang langsung saya respon. Seperti kesempatan-kesempatan terkait dengan proyek baru, kelas kepenulisan baru, dan berbagi event upgrading diri. Saya kemudian merenungi perbedaan respon saya ini. Apa yang membuat saya menjadi penunda di satu hal, namun responsif alias cepat tanggap di hal lainnya? 

Saya pun sadar bahwa setiap kali sedang dalam responsive mode, pada dasarnya saya aware akan waktu. Semakin bertambah usia, saya semakin merasa bahwa waktu yang saya punya semakin sempit. "Aku ga punya nanti. Now or regret it!" Itu yang terus saya ucapkan pada diri sendiri. Sehingga, sekalipun ada risikonya, berat atau bahkan tampak tidak mungkin, akan tetap saya lakukan. Karena saya merasa tak ada yang tak mungkin selama saya punya strong why. 

Sekarang saya tinggal menerapkannya di seluruh aspek kehidupan saya. Bahwa waktu saya terbatas. Bahkan saya tidak bisa menjamin umur saya ada sampai detik berikutnya. So, kenapa saya harus sering mengatakan nanti? Karena saya belum tentu punyai nanti itu. 

Kalau Anda, bagaimana? 

#Day27
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Monday, July 31, 2017

Discover Myself (again)

Discover Myself (again)

Ketika memutuskan kembali ke rumah, tujuan saya hanya ingin berbakti. Berada sedekat mungkin dengan orang tua. Agar bisa menjaga keduanya. Alasan lainnya karena saya merasa butuh pekerjaan yang mampu memultiperankan diri. Tadinya saya ingin mempersiapkan banyak hal, termasuk pekerjaan selepas keluar bekerja. Dan saya sudah memperkirakan pada bulan apa sebaiknya kembali. Agar saya tidak merepotkan orang tua secara finansial. Akan tetapi karena kondisi Mama' kala itu sedang tidak stabil, saya mempercepat waktu pindah.

Mungkin kalau dulu, kembali tinggal di rumah saya tidak melakukan banyak hal. Hanya hal-hal standar seperti membersihkan rumah, mencuci piring, dan membantu mama memasak di dapur. Untuk mengisi waktu biasanya membantu menjaga warung milik kakak saya. Kadang tidak banyak yang saya bisa lakukan dalam sehari. Hal ini membuat saya tidak betah berlama-lama di rumah. Namun kini, semuanya sudah berbeda.

Perbedaan pertama adalah dulu keponakan saya hanya dua. Dan tinggal berjauhan pula dengan orang tua saya. Kini saya punya tujuh keponakan. Empat diantaranya tinggal di rumah orang tua saya. Mereka membuat saya senantiasa sibuk. Rumah yang biasanya rapi, kini bisa jadi seperti kapal pecah setiap hari. Rumah orang tua cukup besar, demikian pula juga halaman depannya. Jadi tidak usah ditanya rasanya, bila baru selesai mengepel lantai, 15 menit kemudian keponakan saya datang bermain pasir di ruang tengah. 

Perbedaan kedua adalah kedua orang tua saya kini sama-sama membutuhkan perhatian. Bapak mengalami masalah syaraf yang menyebabkannya memerlukan tongkat untuk berjalan. Sedangkan Ibu, sudah berkurang jauh pendengaran dan gangguan pengihatan yang amat parah karena diabetes yang dideritanya. Mama masih memasak di dapur. Namun karena masalah penglihatannya ini, saya kadang tidak bisa benar-benar meninggalkan beliau sendiri di dapur. 

Perbedaan ketiga, kini saya mempunyai banyak kesibukan di luar pekerjaan. Semua masih bisa saya kerjakan dari jauh. Saya pikir dengan jam kerja yang fleksibel, ini akan tidak terlalu memberikan tekanan. Namun ternyata saya keliru. Justru ada banyak tantangan bekerja dari rumah. Perlu benar-benar ada batasan antara jam kerja dan jam mengurus rumah dan keluarga. Seringkali tugas-tugas itu baru bisa saya kerjakan pada malam hari. Saat anak-anak sudah tidur dan saat kedua orang tua tidak memerlukan bantuan saya.

Kesibukan sehari-hari ini seperti tidak ada habisnya. Sampai suatu kali saya pernah nyeletuk pada seorang kawan di kantor dahulu,"Ternyata mau di kantor atau tidak, sama saja sibuknya". Kesibukan ini kadang memang membuat saya tertekan. Namun bila bekerja di kantor saya hanya bisa melakukan dua atau tiga hal, di rumah ini dalam sehari ada banyak hal berbeda yang saya lakukan. Sehingga meskipun kadang kewalahan, saya merasa bahagia.

Keseharian saya memang kini padat dengan aktivitas. Namun saya bisa membantu lebih banyak orang di rumah ini. Melakukan banyak hal berbeda. Dan yang paling menyenangkan, setiap hari selalu ada pembelajaran, hikmah dan renungan tentang diri. Entah itu dari aktivitas yang saya lakukan, dari anak-anak, dari kedua orang tua, bahkan dari lingkungan sekitar saya. Pembelajaran yang membuat saya semakin memahami bahwa saya punya potensi. Bahwa ada skenario indah dibalik alasan saya lahir dan berada di tengah keluarga ini. Sehingga saya tahu peran apa yang perlu dimainkan, untuk mendukung orang tua dan semua saudara saya. It's feel like discovering myself again! And I'm happy. 

Bagaimana dengan, Anda? Sudah melakukan apa hari ini? 


#myFabulous30
#Day25
#30DWCJilid7
#Squad8

Sumber : Pinterestt

Baca selengkapnya

Thursday, July 27, 2017

Warna-warni Hari Ini

Warna-warni Hari Ini

Hari ini rasanya bermacam-macam sekali. Dimulai dengan pagi sibuk nan bersemangat, aku merasa mendapat banyak pembelajaran. Aku sudah merencanakan ingin menulis hikmah yang kutemukan pagi tadi, sebelum waktu Zuhur tiba. Pembelajaran yang kudapatkan dari pagi dan dari orang-orang yang kutemui pagi ini. Namun sesuatu hal terjadi. Membuatku lama tenggelam di dalamnya. Dan semakin lama membuatku ingin marah-marah saja. Entah pengaruh cuaca yang sangat panas hari ini, atau memang aku sedang dipengaruhi hormon. Begitu banyak masalah yang kutemui. Belum lagi kondisi rumah yang mudah menyulut api emosi. Rasanya sore tadi aku ingin menepi. Menyingkir dan lari dari semua kesibukan ini. Menghilang dari grup-grup yang membuatku sibuk sepanjang hari. Aku merasa kehabisan energi untuk melanjutkan perjuanganku menyelesaikan semua target dan pekerjaanku. 

Tapi, bukankah kata menyerah dan melarikan diri sudah biasa aku lakukan? Dan kali ini aku akan mengulang hal yang jelas-jelas berkontribusi pada penyesalan dalam hidupku? Ah, tentu saja tidak. "Tuntaskan Ti, Hadapi, Tiha. Ini mesti beda. Tuntaskan apa yang sudah kamu kerjain, Ti." Tak hentinya aku membatin. Dan akhirnya, niat untuk tidak ikut rapat online aku urungkan. Dengan perasaan berat dan ingin marah-marah saja, aku tetap mengikuti rapat. Mencoba menata diri untuk tampak baik-baik saja. Tetap menyampaikan hal-hal yang kurasa tidak efektif dalam tim. Dan ternyata, rapat online itu memberikanku energi baru. Lalu ada hal di luar dugaan terjadi. Hal yang menggembirakan. 

Malam ini moodku jauh lebih baik. Aku menyadari bahwa semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan Allah. Aku kehilangan banyak, merasa terluka, merasa sedih. Namun malam ini aku mendapatkan pembelajaran baru. Bahwa kehidupanku di sini, di rumah masa keciku, adalah kehidupan yang menakjubkan. Selalu ada pelajaran dan inspirasi yang kudapat setiap harinya. Aku semakin bisa memaknai hal-hal kecil dan sederhana yang terjadi dalam hidup. Dan bagiku, itu adalah anugerah yang tiada ternilai harganya. 

Kalau kamu, bagaimana? Ada cerita apa hari ini? 
#myFabulous30
#Day22
#30DWCJilid7
#Squad8


Baca selengkapnya

Wednesday, July 26, 2017

5 Hal yang Saya Pelajari dari Anak-anak

Sejak kembali ke rumah orang tua, saya nyaris tak pernah melewatkan hari-hari tanpa anak-anak. Apalagi baru saja liburan sekolah berlalu. Semua keponakan saya, memilih berlibur di rumah nenek mereka. Setelah sekian tahun terbiasa hidup sendiri saja, kini ada banyak yang perlu saya urus. Walaupun ini bukan kali pertama, namun tetap saja butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Terlebih, kini anak-anak yang saya asuh rentang usianya beragam, mulai usia 2 tahun sampai 7 tahun.

Namun bersama mereka, selalu ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Seharian ini, begitu banyak kejadian bersama anak-anak. Kejadian yang membuat saya sadar bahwa setidaknya ada lima hal yang saya pelajari dari mereka.

1. Sabar
Karena selalu berada di rumah, saya selalu ingin melihat rumah rapi dan semua teratur pada tempatnya. Namun, dengan empat anak yang aktif rasanya itu sebuah tantangan. Baru selesai mengepel, anak-anak datang, lalu bermain pasir dalam rumah atau makan dan menjatuhkan remah-remah makanan di lantai. Belum lagi sampah yang berserakan atau mereka yang bertengkar dan berebut mainan. Rasanya saya ingin marah saja. Namun saya sadar, bahwa kemarahan ini tidak baik bagi mereka. Saya perlu pelan-pelan mengajari mereka, banyak hal. Kini saya sedang belajar, untuk berbicara dan mengkomunikasikan hal-hal yang tdak saya sukai, setenang mungkin. Sabar, itulah pelajaran dan latihan saya setiap hari. 

2. Semangat
Beberapa hari yang lalu saya mengantar salah satu keponakan ke tempat latihan bulutangkis. Hari itu adalah hari pertamanya. Saya sempat memperhatikan ia berlatih, selama hampir satu jam. Timbul rasa kasihan melihat latihan fisiknya cukup berat. Belum lagi seisi ruangan memperhatikannya. Saya entah mengapa merasa dia dihakimi, karena lambat. Saya bisa melihat bahwa ia begitu kesulitan mengikuti instruksi pelatih. Demikian pula pelatih, perlu berkali-kali dan saya bisa lihat ia mencoba bersabar melatih keponakan saya itu. Selepas berlatih selama hampir 3 jam, saya bertanya kepada pelatihnya, "Gimana Bang, hari pertamanya?" Sang pelatih tersenyum, "Wah, memang ini melatihnya benar-benar dari nol. Jadi perlu sabar, hehe. Untungnya dia sangat bersemangat dan berkemauan tinggi. Sepertinya dia udah lelah sekali. Sampai rumah jangan lupa makan dan kalau perlu makan suplemen ya." Saya tersenyum sambil menjawab iya. Saya kira setibanya di rumah keponakan saya akan tampak letih atau minder. Namun justru ia sangat bersemangat. Malah mengulang-ngulang pelajarannya di tempat latihan. Dan menunjukkan apa saja yang sudah ia pelajari hari itu, kepada kedua orang tua saya. Saya tahu sekali dia lelah, karena malam harinya ia langsung tertidur pulas. Namun semangat dan kecintaannya pada bulutangkis, membuatnya ingin terus berlatih. Bahkan tidak sabar menunggu hari latihan tiba. Saya tiba-tiba teringat pada diri sendiri. Sudahkah saya bersemangat 100% dan tidak memperdulikan bagaimana orang lain memandang saya? Seperti semangat keponakan saya ini.

3. Mengelola Waktu dengan Jadwal yang Fleksibel
Biasanya saya mengikuti jadwal harian lengkap dengan jamnya, sehingga segala pekerjaan sudah pasti dan terorganisir. Saya paling tidak suka disela oleh aktivitas yang tiba-tiba. Semua sudah dialokasikan waktunya. Namun mengasuh batita, tidak bisa begitu saja mengikuti schedule yang ketat per jam. Ada saja hal tak terduga bisa terjadi. Tiba-tiba anak minta gendong, tiba-tiba terluka, atau waktunya tidur namun rewel. Sementara setiap hari saya punya target, untuk menyelesaikan pekerjaan A, atau menghubungi B pada jam sekian. Jadwal yang bisa fleksibel ini sebenarnya mengganggu sekali. Namun kini saya belajar, agar dapat solusi win-win. Pekerjaan selesai, anak pun aman.
 4. Bilang Terima Kasih
Ada satu keponakan saya, yang selalu senang bila usahanya diapresiasi. Saya menyadari ini ketika suatu kali saya melihat ia membereskan mainannya. Karena itu sangat jarang terjadi, saya merasa sangat terbantu. Jadi saya spontan dengan riang mengucapkan,"Terima kasih ya, Kakak. Sudah membereskan mainannya. Ateh merasa sangat terbantu." Tanpa saya duga, dia lalu membantu saya menyelesaikan tugas rumah lainnya. Membersihkan kaca, menyapu halaman, mengepel rumah, dan mencuci piring. Sejak saat itu, saya tidak pernah lupa mengapresiasi apapun yang ia lakukan. Dan saya sadar, saya jarang memberi apresiasi pada keponakan yang lain. Sehingga kini saya selalu berusaha tidak melupakan mengucap kata terima kasih kepada mereka. Terima kasih yang tulus.

5. Syukur 
Setiap kali mengasuh keponakan seperti ini, saya selalu merasa bahwa ada banyak PR saya dan orang tua mereka. Untuk mengajarkan banyak hal. Untuk mempersiapkan mental dan fisik mereka menghadapi kehidupannya sendiri. Dan ternyata itu sangat tidak mudah. Menumbuhkan sopan santun, sifat empati, dan menanamkan kebiasaan baik bagi anak tidaklah mudah. Seringkali saya dan orang tua mereka kalah dengan rengekan dan tangisan. Padahal selalu mengikuti kemauan anak, juga tidak terlalu bagus. Memanjakan mereka sama saja dengan membuat mereka kelak kewalahan hidup sendiri. Dan setiap kali saya merasa elah mengajari keponakan-keponakan saya akan nilai-nilai hidup, saya teringat Mama. Dulu saya selalu merasa Mama kurang ini dan kurang itu waktu mendidik saya. Namun kini, saya bersyukur, dilahirkan dan dididik oleh beliau. Walau tidak sempurna, namun pola parenting kedua orang tua, berperan membentuk saya yang seperti sekarang. Saya sering merasa, belum tentu saya bisa sebaik mereka. 

Sebetulnya banyak hal lain yang menjadi pelajaran. Lima diatas adalah apa yang saya refleksikan hari ini. Hal-hal yang menegaskan bahwa kita bisa belajar dari siapapun. Bahkan dari anak usia dua tahun. Kalau Anda, sudah belajar apa hari ini?

#myFabulous30
#Day21
#30DWCJilid7
#Squad8
Waktu Bermain

 
Baca selengkapnya