Showing posts with label Syair. Show all posts
Showing posts with label Syair. Show all posts

Thursday, August 3, 2017

Sajak Luka

bagaimana lagi caranya
agar aku bisa membawamu
pada jalan menuju surga?

cinta yang kini bercampur luka
mengalirkan amarah dan benci antara kita
tak cukupkah kata-kata
penawar duka dariku dahulu kala

tak bisakah kau ingat
musim dimana badai datang
dan kita terjebak dalam pusaran
sementara masih belum tampak
akhir dari semuanya

mengapa kini kalimatku membakar hatimu?
menjadi duri yang menyakitkanmu?

tak adakah lagi
embun yang menyejukkan dadamu?
tak adakah lagi
air hujan yang bertabur di dasar jiwamu?
tak adakah lagi
kristal yang mengkilat dari matamu?

bisakah kita menyudahi ini?
amarah yang melukai?

oh, mengapa terasa sakit di kepala?
amarahmu berganti duri
yang terus menusuk seluruh diri
pelan-pelan ku mengusap pelupuk mata
mengganti mendung yang bergelayut di muka
menjadi senyum mencerahkan suasana

biarlah.
biarlah aku mengalah.

biarlah kini kupilinkan pada langit
untuk menurunkan sekeping salju
pada hatimu yang menyimpan bara api

untuk meneduhkan hatiku
yang terasa bagai disinari terik mentari
biarlah kau dan aku menyepi
sibuk dalam perjalanan
menuju rute kedamaian


#Day29
#30DWCJilid7
#Squad8



Baca selengkapnya

Monday, July 24, 2017

Ingin kutuliskan

Ingin kutuliskan

Ingin kutulis syair sedih malam ini
tentang sedih yang jadi tanya
tentang bahagia yang dianggap istimewa

Ingin kutuliskan malam ini
Kata dan sajak berjatuhan
Bersama air mata yang tak henti berlinangan

Ingin kutuliskan malam ini
Betapa sebuah tanya tentang bahagia
mengiris-iris rasa dalam dada
mengapa perlu bahagia?

Ah sulit sekali
merangkai kata, meramu aksara
untuk menjawab segala tanya

dalam tarian jemari
coba kupahat segala rasa
menjadikannya hangat saat dibaca

Ingin kutulis malam ini
adalah pilu yang ingin kusampaikan
dari masa lalu yang telah kulupakan

Ingin kutuliskan
Betapa kuingin
bersembunyi pada hujan
yang membawa angin
sembari menyisir pepohonan
membalut pandangan dalam kabut

Ingin kutuliskan.

#Day19
#30DWCJilid7
#Squad8

Baca selengkapnya
Tentangmu, di Toko Roti

Tentangmu, di Toko Roti

Kerinduan...
tak akan menghilang
kan selalu kurasa
tak mampu ku menghindar...
-Sheila Majid, Kerinduan
kenangan tentangmu tiba-tiba berkelebat
ketika aku menjalani trotoar di jalan Braga ini

Hari itu kita berjalan kaki
dari sebuah hotel tua di jalan Asia Afrika
lalu kau bilang, "Di sini ada toko roti legendaris"
salah satu yang enak di Kota Bandung ini

Harum roti bercampur aroma perabotan tua begitu terasa ketika aku memasuki toko itu
kau tahu, tempat mereka memajang kue sudah tak lagi di tempat yang sama
seperti saat kita kesana

Aku kini duduk di salah satu sudutnya
segelas teh tawar hangat menemani
baru saja diantar seorang yang cukup renta
tapi sangat hangat senyumannya

Toko roti ini bukan yang pertama
ada berapa banyak lagi
tempat legendaris di kota
yang kau kenalkan padaku

barisan pepohonan di Jalan Cipaganti
juga kursi di sudut sebuah kedai cheesecake
mencatat dengan baik derai tawa dan airmata
yang terekam dalam kisah kita

embun di sudut mataku menetes ke dalam gelas
ku berharap ia tak berubah
menjadi jeram yang berarus deras
mengalirkan rindu yang kini ingin lekas kusembunyikan
dalam sepotong roti kadet dan cangkir teh ini

Tapi arus rindu ini terlalu kuat
teh ini mengingatkanku padamu

pelukan hangat yang kau berikan
di saat-saat terburuk
dalam hidupku

Seandainya kau mau duduk di sini
aku ingin menunggumu, di toko roti ini
bercerita kita tentang cita-cita
berkisah kita tentang cinta

Tapi, pendar cahaya dari mentari senja
membawaku kembali pada hari itu
hari terakhir kita berjumpa

Aku duduk di depanmu
sambil menahan air mataku

kau tahu betapa aku rindu
ingin memelukmu
namun kau yang didepanku
hanyalah jasad kaku

dan kau yang di depanku kini
di toko roti ini
hanyalah bayang yang sebentar lagi
menghilang bersama angin

lalu, kemanakah akan kubawa
rasa rindu yang tak sempat berlabuh ini? 

-teruntuk bu Ade, my best friend and sister.

#day18
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Friday, July 21, 2017

Perjalanan Menuju Senja

Perjalanan Menuju Senja

Aku bertolak sejak fajar
saat mentari masih sedang berhias
sebelum keluar bersemu merah

sudah lama rasanya
namun aku tak tahu
masih jauhkah Senja?
di manakah aku berada?

Sang Surya semakin garang
seperti memendam gusar
dalam terik sinarnya

Kudekap erat bekalku
masih kulangkahkan kaki
bersama peluh yang jatuh
tapi tak sempat menjejak pasir
terbawa angin di gurun ini

ini jalan paling melelahkan
rasanya tulangku sudah tak sanggup
menopang seluruh beban di tubuh
ingin rasanya ku biarkan ia runtuh

rasanya kakiku melepuh
menapak di jalan penuh bara api ini
pun tak kuasa aku berlari menjauh

hanya akan membuat
luka yang menganga terlalu lama

adakah yang ingin segera membawaku pergi?
secepatnya melewati jalan memedihkan ini?


kulihat sekeliling jalanku
sama saja sepertiku
berjalan dengan tubuh lusuh
dengan kaki tanpa alas dan penuh luka

aku tersungkur
menatap langit
yang sedang berhias terik matahari
padaNya ku berseru lirih


Duhai yang Maha Mencipta
bisakah Engkau singkirkan semua pedih ini
ku pinta padaMu
Wahai yang Maha Mengasihi
ku ingin jalan bertabur bunga
seharum melati
bukan jalan ini

tak henti ku hembuskan doa-doa bersama angin
sembari berjalan tertatih menahan luka

hanya kemudian aku terdiam
melihat darah jatuh berguguran
dari luka tubuhku
membawa semua kebusukan
yang telah kusimpan dalam-dalam

Tuhan, biarkan aku
sampai pada Senja
membawa kebaikan saja
di seluruh tubuhku.

#Day16
#30DWCJilid7
#Squad8



Baca selengkapnya

Sunday, July 16, 2017

Senjamu




Dan perjalanan ini membimbingku pada sebuah kisah
masa kecilmu yang tiba-tiba berkelebat di kepalaku
kisahmu menggema dalam dinding hatiku
menjamah perih yang tersisa dari cerita yang lalu
Duhai wanita yang amat kusayangi
bagaimana engkau hidup selepas petaka
datang memecah masa kecilmu yang bahagia?


Kini...di senjamu....
cerita masa lalu seakan baru terjadi tadi pagi
dan aku selalu siap menjadi labuhan
kisah berulang yang kau nyanyikan

Kau selalu bilang padaku
tak perlulah aku menemani mu di senja ini
tak kuhalangi hidupmu
pergilah, kemana pun yang ingin kau tuju
aku selalu setuju
Selama di sana kau temukan bahagiamu

Duhai yang tak pernah berhenti
menyebut namaku dalam doanya
Mengapa aku harus mencari bahagia
Di tanah orang-orang asing
Bila bahagia dunia akhiratku
Ada di bawah telapak kakimu

Aku ingin bersamamu
memilin harapan dalam doa
menyeka lelah masa lalu
yang menggelayut di matamu

Bunda, ini pilihanku
menjadi tempatmu bersandar
menjadi tangan dan kaki yang menuntunmu berjalan
menjadi tempat kau mengaduh lukamu
memeluk lirihan kalbumu
menjalin serabut suka dan duka
di senjamu
Sambas, 16 Juli 2017

#Day10
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Tuesday, May 9, 2017

Pagi Kita

Selamat pagi duhai jiwa
Yang semangatnya membara
Seperti nyala mentari pagi
Yang membungkus kota
Menerangkan jiwa

Aku berdiri di tengah jendela
Memandang langit terbentang
Membawahi gedung-gedung menjulang
Membiarkan alam pikiran terbang
Menikmati cahaya jingga yang berpendar
Sebelum kukembalikan jiwa yang sadar

Kesadaran bahwa pagi ini berbeda
Tak ada tawa, cerita, dan huru hara
Tak ada kamu, dia, dan mereka
Tiba-tiba ruang hampa menyela
Di antara tekad yang menyala

Sejatinya aku dalam kesendirian
Memeluk diri dan luka-luka hati
Yang tak kuingat
bahkan tak sempat kukeluhkan
Bila bersama kalian

Kukira kebersamaaan adalah candu
Kini ruang hampaku diisi rindu
Seperti matahari yang kian meninggi
Membiarkan sinarnya memenuhi penjuru kota ini
Membuat bayang-bayang menari

Ah, aku menghempas diri di kursi
Mengambil ponsel di sisi kiri
Membaca celotehan kalian
Membuatku tergelak, kadang tersenyum tipis
Lihatlah, betapa menakjubkan
Cara hati membuat diri begini. 
Membuat pagi ini, menjadi pagi kita. 

Baca selengkapnya

Wednesday, May 3, 2017

Pilihan

Setiap orang punya cerita. Tapi tidak semua cerita dikisahkan dalam lisan maupun tulisan. Seringkali itu cerita yang menyakitkan. Bisa jadi penderitaan yang disimpan dalam senyuman.

Kadangkala, di dunia ini kita senang memberi makan emosi jiwa. Merasa menjadi hamba paling menderita. Padahal, begitu tahu apa yang sebenarnya dihadapi, ada pilihan untuk bahagia. 

Ada harga yang harus dibayar, untuk setiap pilihan tentunya. Rasa sakit mungkin tak dapat dihindari, tapi menderita karenanya adalah pilihan sendiri. Bila mengambil sudut pandang sebagai orang bertanggungjawab, sakit itu menjadi pelajaran. Bahwa ada sesuatu yang barangkali tidak efektif dilakukan. Sehingga nanti bila bertemu masalah serupa di masa depan, sudah tahu pilihan seperti apa yang akan dilakukan. 

Menderita menjadi pilihan. Perlu dibayar dengan waktu yang terbuang. Untuk merasakan kesakitan, menangis, menyesal, mengutuk diri sendiri, dan mungkin merasa menjadi korban. Energi habis hanya untuk menikmati penderitaan. Padahal energi yang sama, bisa dihabiskan untuk bergerak menuju kebahagiaan. 

Jadi, pilihan apa yang kau ambil hari ini, Kawan? Diam dalam penderitaan, atau bergerak dalam kebahagiaan.

Tiech

#30DWCJilid5

#day28

Baca selengkapnya

Saturday, April 29, 2017

Dia Kembali

Dia Kembali



Apakah belum cukup, waktu yang sudah kuhabiskan untuk mu? Kali ini aku tidak tahu, wujud rindu pada apakah ini? Menyelemi hatiku sendiri, kesakitan yang tidak bisa kupahami maknanya. Apakah itu karena kau? Atau karena kebanyakan dari kita tidak pernah memahami bahwa sebenarnya rindu itu luka. 

Aku sudah tak ingin lagi peduli. Bahwa kau sudah melupakanku. Sepenuhnya. Hanya menjadi kisah biasa dari masa remajamu. Kisah yang lucu, cukup untuk ditertawakan. 

Salahku kah, bila aku menyukaimu lebih dari yang seharusnya? Kadang aku tak bisa mendefinisikan rindu. Bila dulu aku merindumu dengan rasa yang tak cukup digambarkan dengan kata. Kini aku merindukanmu yang tak nyata. Merindukan perasaan rindu itu. 

Cintamu telah pergi. Aku yakin itu. Ini hanya tentang aku. Yang mungkin telah mendewakanmu. Dan mengharapkan engkau lah yang selamanya ada untukku. Janjimu tak akan meninggalkanku. Masih adakah janji itu? Bahwa semuanya ini akan menjadi kisah indah untuk kita? Salahku percaya itu. Selalu salahku. 

Bagaimana aku mengembalikan tempat yang sudah pernah kau tinggali? Agar menjadi hangat kembali. Mengapa yang datang disana hanya orang – orang yang lebih dingin darimu? Aku tidak ingin ruang hati ini menjadi milik orang lain. Yang bahkan cintanya tak sebesar kamu. Yang bahkan tidak selalu ada untuk mendengarkanku. 

Kamu kah yang aku inginkan? 

Biarlah kisah kita tetap menjadi kisah yang menyenangkan, sekaligus menyedihkan untuk dikenang. Biarkan buku cerita kita tersimpan di pulau hatiku yang jauh terpencil itu. 

Biarlah hatiku dingin dan membeku. Karena aku tak tahu, bagaimana mengembalikan matahari, yang telah kau bawa jauh dari aku.

_di suatu malam, di Bandung_

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day19
#Squad1
#syair
Baca selengkapnya