Showing posts with label my books. Show all posts
Showing posts with label my books. Show all posts

Saturday, January 11, 2014

Terpesona Rasulullah SAW - Cerita tentang Novel Biografi Nabi Muhammad

Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir. Mereka membaca kisahmu, ikut tersenyum bersamamu, bersedih karena penderitaanmu, membuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ketika mendengar berita kepergianmu. Seolah engkau kemarin ada di sisi, dan esok tiada lagi.

Begitu kalimat pada pembuka novel ini, novel biografi Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Salam. Nyatanya, itulah yang terjadi pada saya ketika membaca kisah Nabi melalui novel ini. Kisah Nabi memang tiada bosannya untuk dibaca, dari sisi manapun dengan penuturan seperti apa pun juga. 
Pilihan kata dan kalimat yang diramu oleh Tasaro GK ini sungguh indah. Penuturan ceritanya juga sangat detail, bahkan mengupas kisah - kisah sebelum Rasulullah lahir, kisah masa kecilnya, dan beberapa cerita yang jarang sekali ada di buku Sirah Nabi. Dan, satu hal lagi, cara penulis menggambarkan peperangan (sebelum, saat bahkan sesudah perang) sungguh membuat saya seakan - akan sedang menonton sebuah kisah dalam layar besar dengan efek 3D. Bahkan pada beberapa fragmen, saya seakan - akan saya berada diantara tokoh cerita. Pertama kalinya saya membayangkan, betapa beratnya perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Betapa saya akhirnya memahami ayat dari surah Al Baqarah yang juga menjadi do'a selepas sholat: 

Rabbana wa laa tahmil alaina ishran kama hamaltahu ‘alalladziina min qablina - Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami

Karena saya mempertanyakan, mampukah saya dengan segala keterbatasan informasi di masa itu, meyakini, memahami, dan mengimani apa yang dibawa Rasulullah dan kemudian memperjuangkan iman saya? Pada saat membaca buku ini, sungguh cinta, rindu, kagum dan syukur kepada Allah dan Rasul-Nya semakin membuncah. Dipadu dengan fiksi yang mempunyai koneksi akan tanda - tanda keberadaan Rasulullah, novel ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari berbagai kisah tentang Rasulullah yang pernah ada. 

Hanya saja, ada satu kisah yang cukup mengganjal hati saya yakni tentang keberatan Fathimah akan kekhalifahan Abu Bakar. Yang membuat saya bertanya: "dengan keutamaan beberapa sahabat Rasulullah, rasanya ganjil jika Fathimah 'memusuhi' salah satu khalifah hanya karena persoalan dunia". Sampai saat ini saya masih mencari cerita yang 'pas' buat hati saya. Karena apa yang digambarkan di novel ini sungguh ganjil. 

Selebihnya, novel ini luar biasa, dan saya rekomendasikan buat siapapun yang ingin mengenal Nabi Muhammad  Shallalahu 'Alaihi wa Salam lebih dekat dan ingin lebih merasakan kehadiran dan cintaNya. 

- Tiech -

JUDUL BUKU             :  Muhammad 2: Para Pengeja Hujan
JUMLAH HALAMAN : 687 halaman
TAHUN TERBIT          :   2011
PENERBIT                   : Bentang Pustaka   
HARGA (RESMI)        : Rp. 99.000,-


Baca selengkapnya

Saturday, March 9, 2013

Gadis Jeruk: Sederhana Namun Kaya Makna

Tidak Sengaja, Sprei Kamar Tidur Berwarna Orange
Ini adalah cerita tentang sebuah buku yang saya dapet minjem, boleh disebut resensi meskipun jauh dari kaidah - kaidah menulis resensi yang baik :)
Seharusnya saya bisa baca ini sejak tahun lalu, sejak kawan baik saya tertarik pada buku ini. Tapi dengan kekuatan bulan akhirnya kemarin saya sukses menyelesaikan membacanya dalam waktu kurang dari 24 jam! Cukup menunjukkan betapa saya menyukai cerita buku ini. Oh, buku yang saya baca adalah versi terjemahan Indonesia Gold Edition (Tahun 2011) terbitan Mizan dengan 252 halaman.

Buku ini ditulis oleh Jostein Gaarder, penulis yang kini tinggal di Norwegia dan juga menulis buku Best Seller Dunia Sophie. Katanya 'Dunia Sophie' ini  berbau - bau filosofis, kalau memang begitu maka tidak mengherankan kalau cerita Gadis Jeruk ini sangat sarat makna. Saya belum bisa berkomentar tentang Dunia Sophie karena buku ini masih masuk kategori to read, alias belum dibaca :).

Mari kembali ke Gadis Jeruk. Novel ini menuturkan kisah dari seorang anak laki - laki berusia 15 tahun bernama Georg yang pada suatu hari mendapatkan surat dari ayahnya yang sudah lama meninggal. Surat ini bercerita tentang masa lalu sang Ayah yang bertemu dengan seorang Gadis yang selalu membawa jeruk kemanapun dia pergi. Gadis ini, tatapannya, tingkah lakunya, jeruk yang selalu dibawanya itu bahkan keberadaaanya misterius bagi Sang Ayah. Upayanya menemukan keberadaan si gadis Jeruk membawanya hingga ke Spanyol, tempat tumbuh jeruk - jeruk itu. Tapi surat sang Ayah tidak hanya sebatas cerita tentang Gadis Jeruk ini. Kisah Gadis Jeruk sesungguhnya hanya pengantar,  yang membuat Sang Ayah lalu memikirkan teleskop, menimbulkan tanya tentang hidup dan pilihan, tentang dunia sekarang dan dunia setelah kematian. Semua hal yang sangat mungkin dipikirkan oleh seorang pesakitan yang sedang menanti ajal. Saya kira, Sang Ayah tidak hanya membawa masa mudanya dalam surat ini, namun juga sedang 'curhat' pada anaknya.

Kisah pencarian Gadis Jeruk saja bukan hal biasa bagi saya, detail tentang lingkungan sekitar, pakaian , tatapan mata, senyum dan gestur Gadis Jeruk yang dipaparkan oleh penulis sukses membuat saya merasa sedang berjalan mengikuti pencarian ini dan meyakini ada sesuatu dibalik semua misteri tentangnya. Dalam surat itu diceritakan isi pikiran Sang Ayah yang sangat menarik bagi saya, tidak hanya karena pilihan kata yang membuat pembaca bebas menginterpretasikan makna kata - kata tersebut, namun juga merenungi makna kehidupan. Seperti kalimat pada halaman 182:
"Dongeng hebat apakah yang sedang kita jalani dalam hidup ini, dan yang masing - masing dari kita hanya boleh mengalaminya untuk waktu yang sangat singkat? Mungkin teleskop ruang angkasa akan membantu kita untuk mengerti lebih banyak tentang hakikat dongeng ini suatu hari. Barangkali di luar sana, dibalik galaksi - galaksi, terdapat jawaban apa sebenarnya manusia itu" 
 Atau seperti kalimat pada halaman 210: 
"Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku akan tiba- tiba dicabut dari sana, dan barangkali di tengah - tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awak, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini? Kita datang ke dunia ini hanya sekali. Kita masuk ke dalam dongeng besar ini hanya untuk melihat ceritanya berakhir!

Diantara kita mungkin akan berhenti sebentar dan merenungi pertanyaan Sang Ayah ini, namun ada pula yang telah memiliki jawaban yang mantap akan ini semua. Apapun itu, saya rasa buku ini tidak sekedar menuturkan kisah perjalanan batin Georg selama membaca surat ayahnya atau kisah cinta sejati dan tak terbatasnya kasih sayang keluarga. Buku ini menyentil, mencoba mengusik dan mengulik pemaknaan sejati akan kehidupan. Begitu menurut saya.

Oh iya, Gadis Jeruk ini juga telah di buat versi filmnya dengan plot cerita yang sedikit berbeda dari novelnya. Hanya saja, saya tidak terlalu merekomendasikan filmnya. Terlalu banyak pesan, emosi dan nilai - nilai baik dalam cerita Gadis Jeruk yang hilang dalam film ini sehingga membuatnya terkesan sebagai kisah cinta biasa Atau mungkin memang itu sasaran film ini? Entahlah, yang jelas bagi saya film ini telah kehilangan makna Kisah Gadis Jeruk sebenarnya.



Semoga tulisan suka - suka hati saya ini bermanfaat. Selamat membaca!

Yang Lagi Suka Baca Tulis, Tiech


Baca selengkapnya
Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Tahun Terbit: 2007, New York
Heup. Saya kembali, membawa buku bacaan yang sebetulnya terkait dengan profesi saya saat ini sebagai Perencana Wilayah dan Kota. Hmm, profesi yang tidak banyak dikenal orang seperti Arsitek :). Di lain kesempatan akan saya ceritakan tentang profesi saya ini. Buku ini sudah cukup lama saya punya dan sudah saya baca seperlunya. Tapi, akhir - akhir ini saya merasa perlu membacanya kembali. Demi mendalami dan menguatkan kemampuan saya sebagai perencana (tsahhhh, gaya ya! hehe)

Buku ini berjudul : Skills For Planning Practice ditulis oleh Ted Kitchen yang merupakan seorang dosen di Sheffield Hallam University, Inggris. Buku ini, oleh beliau sendiri diakui merupakan pengalamannya selama menjadi praktisi perencanaan wilayah dan kota sebelum beliau  menjadi akademisi. Melihat tahun terbitnya, ini merupakan buku kategori baru. 
Skills For Planning Practice terdiri dari 10 bab, didahului dengan pengantar dan diakhiri dengan kesimpulan. 7 (tujuh) bab diantaranya merupakan pembahasan mendalam mengenai "skills" perencana dan satu bab tentang berbagai pendapat (atau teori?) dari berbagai pihak, perspektif, badan perencana dan dari sudut pandang profesional tentang "skills and quality" yang harus dimiliki oleh seorang perencana. Melihat struktur buku ini, penulis tidak sekedar menyampaikan pengalamannya selama bertahun - tahun menjadi praktisi, namun juga menyertakan pendapat dari berbagai perspektif. "Lebih setuju pada pedapat yang mana"saya kira bukan tujuan utamanya, namun cenderung mengingatkan pada perencana, terlebih perencana muda seperti saya bahwa ada keterampilan yang harus dimiliki selama bergelut dalam bidan perencanaan wilayah dan kota ini. Kemampuan yang tidak hanya sekedar berkutat pada kemampuan penguasaan teori namun juga kemampuan personal dan inter personal. 

Saya sendiri menyukai cara penulis bertutur dalam buku ini, dimulai dari pemahaman mengenai perencanaan itu sendiri. Satu pernyataan di awal bab pengantar yang menjadi dasar agar ada pemahaman yang sama mengenai perencanaan:
"The purpose of Urban and Regional Planning is to make places better for people"
"Make Places Better For People" bermakna lingkungan kehidupan yang lebih baik untuk manusia. Lingkupnya sangat luas, kesejahteraan ekonomi, keamanan sosial dan keberlanjutan lingkungan hidup ungtuk generasi sekarang maupun akan datang. 

Ada satu kalimat yang saya senangi dari bagian introduksi buku ini, bahwa kota/ daerah yang kita tinggali bukan sekedar hasil bentukan atau tanggung jawab pemerintah, dewan rakyat atau badan perencanaan namun lihatlah kota sebagai hasil bentukan aktivitas semua anggota masyarakat yang dipengaruhi oleh banyak faktor, dilakukan oleh individu maupun kelompok yang berbeda. Bagaimana masyarakat membentuknya? Ah, saya teringat kota kelahiran saya yang setahun terakhir cukup berkembang. Di kota kelahiran saya, hampir semua rumah di pinggir jalan utama memiliki warung, dan hampir sepanjang jalan utama dipenuhi dengan ruko - ruko. Padahal 5 tahun sebelumnya masih banyak lahan kosong dan rumah hanyalah rumah biasa. Pernah membayangkan seisi kota dipenuhi ruko yang tidak semuanya terisi? Seperti itulah aktivitas masyarakat membentuk ruang kota.
"By considering urban life as a whole and recognising that responsibility rests with us all, we can further improve the quality of urban life" (Introduction-Page 3)
Yap, dan itu sebabnya pula butuh ilmu perencanaan wilayah dan kota. Ada aktivitas yang harus ditampung oleh ruang hidup kita, tapi ruang yang bisa kita tinggali di bumi ini terbatas. Jadi, sebatas apa ilmu ini? Ah, hampir dapat dikatakan sulit mencari batasannya, selama dalam kerangka "Make Places Better For People" saya masih mengkategorikan itu perencanaan wilayah dan kota :)
Luasnya lingkup perencanaan wilayah dan kota, juga banyaknya jenis kepentingan yang harus dihadapi  semasa menempuh kuliah sarjana saya dijejali dengan berbagai macam ilmu. Ilmu perpetaan, statistik manajemen, kebijakan publik, administrasi publik, teknik presentasi, perancangan tapak (site plan), transportasi, perumahan, keuangan, politik, sosial dan ekonomi. Wow, saya sendiri masih merasa ajaib dengan semua ilmu yang saya pelajari selama 4 tahun. Hasilnya? Saya benar - benar lupa (hehe) padahal kebanyakan yang dipelajari hanya sebatas 'kulit' ilmunya saja. Sejujurnya, saya baru memahami sepenuhnya alasan saya mempelajari semua materi itu setelah saya bekerja. Setiap kali ada proyek saya selalu tersadar: "ah, ini sebabnya saya dulu dikasih materi ini!" Alhasil, setiap kali terlibat proyek, saya masih harus buka-buka buku teks lagi bahkan untuk materi sederhana sekali pun saya masih membuka buku kuliah. :) Wah, sia - sia dong kuliahnya? Tidak juga, kuliah ini mengajarkan saya berkomunikasi dan berpresentasi, bekerja dalam tekanan, bekerja dalam tim, berpikir struktural dan komprehensif dengan melibatkan berbagai perspektif. Yang kemudian saya pahami sebagai basic skill yang harus dimiliki perencana. 

Saya memang baru 4 tahun dalam dunia profesional ini, namun ketika membaca 7 Skills for Planning Practice ini saya tidak punya pilihan selain sepakat dengan Ted Kitchen :D. Apa saja ketujuh skill tersebut? Ini dia:
  1. Technical Skills/ Kemampuan Teknis, saya memahami ini sebagai kemampuan untuk memahami peta, menggunakan peta, menganalisis data dan kemampuan analisis lainnya.
  2. Planning system and process skill, karena perencaanaan selalu terkait dengan pemerintahan maka dibutuhkan keterampilan memahami sistem perencanaan berikut proses dan prosedurnya
  3. Place skills, dibutuhkan karena memang tempat/ ruanglah yang menjadi tujuan perencanaan
  4. Customer Skills, pernah ada dosen yang mengatakan ini pada saya: "planning di Indonesia itu gimana bohir" (bohir: pemberi kerja/ klien yang biasanya adalah pemerintah). Penting untuk menjawab kebutuhan klien, namun perencana juga perlu memperhatikan siapa yang mendapatkan manfaat dan terkena dampak dari suatu pekerjaan. Kembali ke tujuan awal perencanaan: "Make Places Better For People"
  5. Personal Skills, ini tentang bagaimana seorang perencana menyampaikan pemikiran dan ide- idenya, berinteraksi baik dalam tulisan maupun saat bertatatapan langsung. Intinya kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik.
  6. Organizational, managerial and political context skills, proses perencanaan tidak lepas dari konteks organisasi baik dalam tim perencana itu sendiri, maupun terkait dengan pemerintahan dan politik.
  7. synoptic and integrative skills, karena adanya kebutuhan untuk melihat suatu isu dari segala perspektif dan secara holistik maka seorang perencana harus memiliki kemampuan untuk memahami "big picture' dari pekerjaan yang dihadapinya. Ini adalah salah satu peran kritis. Saya memahaminya sebagai kemampuan berpikir sistem atau dengan kata lain memandang sesuatu dalam kerangka sistem yang elemennya terkait satu sama lainnya.
Ketujuh skills ini dibahas satu per satu dalam buku ini, namun dalam praktek perencanaan tentu saja semuanya digunakan dalam kesatuan yang utuh. Tidak semua orang memiliki kemampuan hebat dalam ketujuh keterampilan tersebut. Pasti ada skill yang lebih mendominasi, namun jika bekerja dalam tim kekurangan ini dapat ditutupi. Masing - masing anggota tim dapat saling melengkapi dan menguatkan hasil kerja.

Bagi saya, buku ini penting dimiliki perencana muda seperti saya dalam mengembangkan karir profesionalnya. Terlebih lagi bagi perencana yang bergerak di dunia konsultan (praktisi). Pengalaman yang diceritakan memang seputar perencanaan di Inggris yang notabene memiliki perbedaan sistem politik, pemerintahan dan ideologi bahkan sistem perencanaan pembangunan yang berbeda dengan Indonesia. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis (Ted Kitchen) esensi dari semua perencanaan adalah sama yakni bertujuan menciptakan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.

Semoga review ini bermanfaat. Selamat Membaca!

Si Perencana Muda, Tiech
Baca selengkapnya

Monday, December 24, 2012

Public Policy: Refleksi Bacaan Bagian 1



Halo Liburan. Halo Buku – buku (ceile, sombong benerr dah baca buku, padahal ga sempet kebaca semua).
Ceritanya, kemarin saya tergoda untuk beli buku ini. Judulnya: “Public Policy” oleh Dr. Riant Nugroho.  Bukunya tebal dengan 827 halaman, lumayan bisa dijadikan bantal (loh!? :D). Alasan saya beli buku ini ya karena topik Public Policy selalu menarik buat saya (sejak kapan ya?) dan karena cinta pada pandangan pertama dengan sampul bukunya yang lucu, indah nan berwarna biru.  

Pada hari kedua liburan saya, setelah agak bosan membaca buku – buku fiksi dan buku – buku lucu saya penasaran sekali ingin membaca buku ini. Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku tentang Public Policy lainnya, yang selama ini banyak diacu oleh orang. Sebut saja buku Analisis Kebijakan miliknya William Dunn. Buku itu seperti buku sakti hampir bagi semua orang,  akademisi maupun praktisi.  Tadinya saya membuka – buka daftar isi, lalu daftar pustaka dan mulai screening isi buku ini. Dan memutuskan untuk membacanya layaknya membaca buku cerita, dari kata pengantar hingga akhir. Aneh, kata kawan saya. Tapi, saya kira buku ini menarik untuk dibaca dari awal. Untuk saya memahami latar belakang penulis dan latar belakang penulisan buku ini.
Rupanya saya salah (tidak salah – salah amat sebetulnya). Buku ini lebih dari sekedar menarik (untuk ukuran buku teks), setiap halamannya ingin saya ketahui. Banyak hal tak terduga yang saya dapatkan dari buku ini. Seperti membaca novel.  Otak saya bekerja, tidak sekedar menerima (juga menolak) premis – premis dan teori yang dipaparkan penulis, namun juga membayangkan yang terjadi dalam pekerjaan saya yang juga akrab dengan ranah kebijakan publik.
Bagian pertama, tentang Dinamika Kebijakan Publik memang belum masuk pada pembahasan teori Kebijakan Publik yang seringkali berkutat pada siklus perumusan – implementasi – pengendalian- monitoring dan evaluasi. Namun memaparkan makna kebijakan publik yang sebenarnya, kekeliruan pemahaman dan implementasinya dalam kehidupan bernegara. Yang menarik buat saya adalah, teori – teori manajemen yang disitir penulis dalam membahas kebijakan publik. Diantaranya buku- buku Peter F. Drucker, seorang ahli Manajemen yang justru saya kenal lewat sebuah Dorama Jepang (Oh, drama itu sangat bermanfaat kawan).
Bagian kedua dan seterusnya? Terus terang belum selesai, kawan. Saya baru sampai pada halaman 123. Masih seperdelapan dari total isi buku ini. Tapi baru membaca 1/8 nya banyak pikiran – pikiran usil saya bermunculan.
1.    Tentang banyaknya produk hukum atau peraturan perundangan di Indonesia. Misalnya di daerah, hampir semua dokumen kebijakan baik itu RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dijadikan produk hukum. Selain 3 (tiga) dokumen itu, banyak juga produk kementerian yang dibawa ke daerah yang juga harus jadi Perda misalnya master plan sektoral.  Tidak salah memang, kebijakan publik memang harus ada aspek legal untuk menjamin pelaksanaannya. Padahal menurut saya, tidak perlu semua jadi Peraturan Perundangan. Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk membuat satu produk hukum? Saya kira lebih dari cukup untuk mendanai hal lain yang lebih penting bagi pembangunan negara kita. Khususnya di aspek kesehatan dan pendidikan.
2.       Membaca buku ini membuat saya sadar, kebijakan yang diambil oleh seorang Bupati Sambas  (Provinsi Kalimantan Barat) saat ini tidak sepenuhnya salah. Kebijakan apa? Bupati periode ini sangat concern dengan aspek pendidikan dan kesehatan. Beliau tidak segan berinvestasi besar pada kedua bidang ini. Tapi, menurut saya salahnya, beliau kurang concern dengan pembangunan infrastruktur (menurut pengamatan saya dari rencana kerja beliau di RPJMD).  Dalam buku Public Policy ini, menurut Dr. Riant Nugroho, urusan utama Pemerintah Daerah adalah Kewargaan – perijinan, kesehatan, pendidikan dan ketertiban. Urusan pendukung adalah air dan sanitasi, sampah dan limbah, transportasi massal dan keseimbangan lingkungan sedangkan pelengkap adalah soal keindahan dan kenyamanan. Artinya, mengedepankan urusan utama penting namun bukan berarti mengabaikan urusan pendukung dan pelengkap bukan?
3.  Sejak reformasi hingga kini, ramai sekali pemekaran wilayah dilakukan. Saya sangat mendukung, terutama bagi daerah – daerah di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Papua. Sulit memang untuk mengatur wilayah yang sebegitu luas. Tapi bila suatu wilayah hasil pemekaran, kemudian dilakukan pemekaran lagi dalam waktu kurang dari 10 tahun? Entah kenapa saya sangat menyayangkan ini. Dari sisi luas wilayah yang perlu diatur memang menjadi lebih efisien, tapi dari sisi yang lain bagaimana? Dokumen perencanaan pembangunan, Master Plan sektoral, Rencana Tata Ruang Wilayah yang baru dibuat dan menghabiskan banyak dana, apa perlu dibuat kembali setelah 5 tahun kemudian hanya karena pemekaran wilayah. Katakanlah, pemekaran wilayah ini tidak sepenuhnya mengubah struktur dan fungsi pusat kegiatan di dalamnya, tapi dengan Kepala Daerah yang baru, DPRD yang baru, ada banyak inovasi baru dan juga kepentingan ‘politik’ yang baru.  Butuh pembangunan pusat pemerintahan yang baru, butuh belanja fisik dan non fisik yang baru. Semuanya butuh pendanaan yang tidak sedikit. Dengan kondisi Indonesia seperti saat ini, itukan prioritas? Oh, satu lagi. Pemekaran wilayah butuh kajian yang baik, untuk memastikan kelayakannya menjadi kabupaten/ kota atau provinsi yang baru. Lagi – lagi, biaya bukan?
4.   Dalam sebuah proyek pembangunan, tim (yang ada saya didalamnya) diharuskan mengkaji dokumen perencanaan pembangunan di wilayah tersebut. Saya mengkaji 23 dokumen , 4 dokumen kebijakan skala kabupaten, 18 dokumen rencana tata ruang ibukota kecamatan dan rencana detail tata ruang kawasan perkotaan dan 1 masterplan air bersih Ibukota Kabupaten.  Yang membuat saya sedih, 18 dokumen ini sepertinya tidak sepenuhnya dijadikan acuan pembangunan Ibukota Kecamatan oleh Pemerintah Kabupaten tersebut. Saya bahkan curiga, dokumen ini (sebelum saya pinjam) telah tersimpan baik di perpustakaan Bappeda. Dan lebih menyedihkan lagi, apabila melihat isinya. Satu dokumen dengan dokumen lainnya sangat mirip isinya dan sangat normatif. Menandakan bahwa konsultan pembuatnya sama. Membuat 18 dokumen ini butuh waktu dan biaya. Katakanlah minimal satu dokumen bernilai 100 juta, bayangkan berapa rupiah yang disia – siakan untuk menghasilkan 18 dokumen yang dipertanyakan kualitas analisis dan kajiannya? Yang bahkan sangat wajar bila Pemkab tidak menggunakannya sebagai acuan penataan ruang bagi tiap IKK.
5.     Tahun 1998 perekonomian Indonesia hancur. Padahal sebelumnya diramalkan akan menjadi salah satu negara Asia yang akan maju tahun 2020 nanti. Rupanya itu hanya mimpi, kondisi sebenarnya perekonomian kita rapuh, tampak maju namun sebetulnya bersandar pada dinding tanpa pondasi yang dapat runtuh kapan saja. Dan sekarang, Indonesia kembali dipuji. Disebut sebagai negara yang berpotensi maju bersama negara lain semacam Cina dan Korea Selatan. Tahukah kalian kawan, feeling saya sebagai wanita (bukan sebagai ahli) pesimis!  

Membaca buku ini, hingga pada halaman 123, menyentak sekaligus mengkhawatirkan saya. Apa benar ini ulah kebijakan publik yang tidak unggul di negara ini? Apa yang akan terjadi pada negara kita? Dan kebijakan publik yang seperti apa yang dimaksud Dr. Riant Nugroho?  Ya, tunggu sampai saya selesai membacanya.Tapi, setelah ini sepertinya saya ingin membaca buku Dee, Madre. Buku ini dari tadi menggoda - goda saya untuk membacanya. Baiklah, otak saya butuh keseimbangan! :))

salam hangat, Tiech. 
Baca selengkapnya

Tuesday, June 26, 2012

"Ibuk"



“Kapan anak paling bontotku ini pulang?” kata Mamak sambil membelaiku yang sedang tiduran sambil membaca buku. Pertanyaan Mamak padaku sebulan lalu saat aku pulang kampung masih terngiang sampai hari ini. Dan malam ini, setelah membaca Ibuk, setiap membaca kalimat – kalimat Ibuk pada Bayek, aku seperti mendengar kalimat – kalimat dari Ibuku sendiri: ‘Mamak’. Meski tak sama persis. “Kalau ada uang menabunglah nak”. “Sudah saatnya kamu menikah nak”. Sudah saatnya kamu menata hidupmu nak”. “Sudahlah kerja disini saja, kamu perempuan sendirian disana buat Mamak selalu khawatir”. “Apapun pilihan hidupmu, Mamak selalu mendoakan yang terbaik dan mendukungmu”. Setiap kali ada kesempatan, semua kata – kata itu yang kudengar dari Mamak


Setelah setahun lalu ‘9 summers 10 autumns’, kali ini  ‘Ibuk’ dari Iwan Setyawan sekali lagi  membuat saya berjalan kembali ke masa lalu menyusuri kisah Mamak, Bapak, dan Kakak saya. Dengan airmata yang tak berhenti mengalir saya membuka notebook dan menuliskan perasaan saya. Selalu, ketika menuliskan tentang Mamak dan Bapak, mata ini tidak pernah kering. Saya yakin, saat menulis Ibuk, mas Iwan juga merasakan hal yang sama. 

Membaca Ibuk membuat saya paham, bahwa saya sedang menjalani proses kehidupan. Saat saya mengahdapi stress dan tekanan sangat berat di kantor saya sangat ingin resign dari situ, tapi saya bertahan mengingat misi saya belum selesai. Saya bertahan dan mengatakan ini pada diri saya: saya tidak akan kalah, saya tidak akan keluar hanya karena saya tidak sanggup. Saya hanya akan pergi saat saya merasa saya perlu belajar hal baru.  Saya sangat terkejut dan berulang kali menganggukkan kepala sambil mengatakan yes, that’s right saat saya membaca halaman 186 ‘Ibuk’. Juga ketika membaca tulisan cetak miring di halaman 204 ‘Ibuk’. Saya semakin mencintai Mamak, Bapak dan semua keluarga saya sejak saya mulai merantau. Saya juga selalu menghargai setiap detik waktu yang saya habiskan bersama mereka. Karena saya sadar, banyak momen penting bersama mereka yang telah saya lewatkan. 
Halaman 186

Halaman 204


Saya bungsu, manja, penakut juga tidak pernah jauh dari orang tua. Tapi kini saya merantau, jauh dari mereka. Saya menikmati kehidupan dan tantangan yang ada disini, di Bandung. Sama seperti Bayek, saya selalu merindukan kota kecil tempat kelahiran saya, Sambas, sebuah kota di utara Provinsi Kalimantan Barat yang sudah saya tinggalkan selama 8 tahun. Tapi saya merasa belum saatnya pulang, saya masih punya misi yang belum terselesaikan. 

Perjalanan hidup saya memang belum sepanjang Bayek. Tapi ceritanya dalam Ibuk, menguatkan langkah saya kembali untuk menyelesaikan misi saya. Saya tidak akan menyiakan doa, airmata dan kasih sayang Mamak dan Bapak yang telah membesarkan saya. Cerita hidup saya memang tidak sama dengan Bayek, tapi apa yang Bayek alami dan yang ia rasakan dulu, saya rasakan saat ini. Saya ingin pulang suatu hari nanti, menyelesaikan misi disini dan memulai misi yang baru di Sambas, juga....menulis. 

Ibuk memang Ibuk Bayek dan keempat saudara perempuannya, tapi buat saya beliau juga Ibuk saya, Ibuk semua orang yang membaca ini. Beliau telah mewariskan nilai – nilai hidup yang menginspirasi dan menguatkan banyak orang. Beliau telah memberikan cinta kasih dan sayang yang hangat, yang tidak hanya dirasakan anak- anak dan cucu-cucunya, namun juga kami yang membacanya dari tulisan Mas Iwan.

Saya cinta Ibuk juga Mamak saya.
"A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself " (Pramoedya Ananta Toer)
Thanks Mas Iwan Setyawan atas dua bukunya. Buku ini buat saya adalah buku kehidupan yang ditulis dengan hati. Saya akan selalu menunggu karya lainnya. 



Tulisan ini sejatinya bukan review atau resensi buku. Tapi lebih pada cerita melankolis tentang perasaan saya setelah membacanya. Dan maaf, sepertinya tulisan ini tidak terstruktur dengan baik. Saya sedang belajar menulis. Tapi kali ini perasaan saya mengalahkan ketakutan kesalahan dalam menulis juga mengalahkan kesanggupan untuk mengecek struktur kalimat hehe :). Harap maklum. 

Salam hangat, tiech.
Baca selengkapnya

Sunday, June 24, 2012

Apa Kontribusi Anda? (Your Journey To Be The UltimateU)

Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling menohok saat saya membaca buku " Your Journey to be the Ultimate U". Kenapa?
Menghabiskan waktu selama lebih dari 9 jam sehari untuk suatu yang disebut 'pekerjaan' sudah lama membuat saya tidak nyaman. Saya terpenjara? Hmph! Bukan, tapi itu pilihan saya. Pilihan yang membuat saya selalu merasa tidak enak karena waktu bersama keluarga menjadi semakin sedikit, yang juga membuat sahabat - sahabat saya selalu malas mengajak saya jalan - jalan karena saya pasti beralasan: ' sedang sibuk'. 
Oh, rupanya alasan itu lah yang menjadi sebab saya membeli buku ini.

kiri atas: buku dan stikernya, gambar seterusnya beberapa stiker dan bagian buku favorit saya :)

Ada 40 bagian dalam buku, semuanya berwarna dan pada awal setiap bagian kita bisa menempelkan stiker sesuai keinginan kita. Saya selalu senang memilih satu diantara 40 untuk menyesuaikan isi dengan gambar stiker. :) Buku ini punya bahasa yang ringan, tidak menggurui dan menyenangkan sekali membaca setiap bagiannya. Saya, juga penulis tidak menganjurkan Anda membaca buku ini sekaligus dalam satu waktu. Setiap pesan dalam buku ini, meskipun singkat sekali, namun pesannya sangat dalam. Setiap kali menyelesaikan satu bagian, saya selalu berdiam sebentar dan merenungi pesan - pesannya. 
Buat saya, membacanya seperti mendapatkan kembali jawaban - jawaban yang sudah pernah saya jawab sendiri. Tidak ada quote yang membuat saya ingin menuliskannya di kertas warna - warni dan ditempel di meja kerja atau kamar tidur. Semua quote dan tulisan Mas Rene sudah menyatu dengan pemikiran saya. Buku ini istimewa, karena ia seperti berteriak kepada saya: Hei! think less, feel more!worry less, do more! DO WHAT YOU FEAR! 
Buku ini istimewa, karena kembali mengingatkan saya bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah menjadi sebaik - baik muslim yang bermanfaat bagi semesta. Jika demikian, apa gunanya dikejar dengan kesibukan yang 'me -centered' dan mengabaikan kontribusi nyata bagi sekitar kita.
Kali ini, saya bertekad untuk memperbaiki diri. Mengabaikan semua ketakutan, pikiran dan kekhwatiran yang menghambat saya melakukan hal - hal baik untuk diri dan banyak orang. Karea saya tahu, cita - cita dan kontribusi kita hidup lebih lama daripada usia kita sendiri.

Lah, terus kenapa repot - repot nulis disini kalau baru sekedar bertekad? Hey, inilah awal kontribusi saya: berbagi. Berbagi cerita tentang sebuah buku yang mungkin akan mengubah Anda. :)

Oke. Let's Just Do it! Bismillah.

Salam, Tiha.
Baca selengkapnya