Tuesday, December 25, 2012

Merahasiakan

Merahasiakan

Cerita hari ini sebetulnya sudah masuk ranah pribadi. Tempatnya bukan disini. Tapi sekarang sedang hujan, dan saya teringat kata seorang penyair (yang sungguh saya lupa namanya dan juga lupa persis kata - katanya seperti apa :D), intinya sungguh keterlaluan hatimu bila dalam kondisi hujan seperti ini, tak tercipta satu puisi. Hak! Dan saya sudah menulis satu puisi hari ini, saat hujan. Hahaha, info yang sungguh tidak penting. Tapi puisi itu tidak akan saya bagi disini, isinya garing! Menandakan sudah cukup lama saya tak membaca dan lama pula tak berpuitis ria. Eh, tunggu dulu, jadi kaitan isi tulisan ini dengan judul diatas? (Tepok jidat).

Jadi begini, hari ini karena hari yang sendu, dan mungkin pengaruh psikis saya yang sedang melankolis ditambah dengan datangnya orang yang saat ini tidak ingin saya lihat, saya jadi merindukan drama dan tiba-tiba melakoni drama sore ini. Aishhh, drama yang buat saya ingin sekali curhat pada seorang sahabat. Tapi masalahnya kawan yang didekat saya ini Lelaki! Oh man, saya sudah lama sekali tidak curhat pada Pria. Cenderung menghindari. Tapi kali ini saya sedang kesal ditambah dengan suasana melankolis hati, jadi bertumpuk-tumpuk rasanya beban di hati.

Baiklah, mari kita curhat, saya juga butuh solusi sekarang!, begitu tekad saya tadi sore. Tahukan kalian kawan, apa yang terjadi? Begitu melihat wajahnya dan pekerjaan yang menumpuk di mejanya, saya urungkan niat dan sertamerta padamlah tekad saya. Yang ada, saya tersenyum riang dan ceria sekali didepannya.

Dan, saya teringat sesuatu. Hey, kamu tidak sendiri. Ada Allah, 'rahasiakanlah keluhanmu dari saudaramu, itu akan membebaninya', ada suara berbisik pada saya. Saya pun pergi, menerobos hujan, menangis bersama langit, merahasiakan yang terjadi dan menapaki bumi kembali. Tidak semua hal harus kau ceritakan Ti, begitu hati saya berkata.

Salam hangat, Tiech

Baca selengkapnya

Monday, December 24, 2012

Public Policy: Refleksi Bacaan Bagian 1



Halo Liburan. Halo Buku – buku (ceile, sombong benerr dah baca buku, padahal ga sempet kebaca semua).
Ceritanya, kemarin saya tergoda untuk beli buku ini. Judulnya: “Public Policy” oleh Dr. Riant Nugroho.  Bukunya tebal dengan 827 halaman, lumayan bisa dijadikan bantal (loh!? :D). Alasan saya beli buku ini ya karena topik Public Policy selalu menarik buat saya (sejak kapan ya?) dan karena cinta pada pandangan pertama dengan sampul bukunya yang lucu, indah nan berwarna biru.  

Pada hari kedua liburan saya, setelah agak bosan membaca buku – buku fiksi dan buku – buku lucu saya penasaran sekali ingin membaca buku ini. Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku tentang Public Policy lainnya, yang selama ini banyak diacu oleh orang. Sebut saja buku Analisis Kebijakan miliknya William Dunn. Buku itu seperti buku sakti hampir bagi semua orang,  akademisi maupun praktisi.  Tadinya saya membuka – buka daftar isi, lalu daftar pustaka dan mulai screening isi buku ini. Dan memutuskan untuk membacanya layaknya membaca buku cerita, dari kata pengantar hingga akhir. Aneh, kata kawan saya. Tapi, saya kira buku ini menarik untuk dibaca dari awal. Untuk saya memahami latar belakang penulis dan latar belakang penulisan buku ini.
Rupanya saya salah (tidak salah – salah amat sebetulnya). Buku ini lebih dari sekedar menarik (untuk ukuran buku teks), setiap halamannya ingin saya ketahui. Banyak hal tak terduga yang saya dapatkan dari buku ini. Seperti membaca novel.  Otak saya bekerja, tidak sekedar menerima (juga menolak) premis – premis dan teori yang dipaparkan penulis, namun juga membayangkan yang terjadi dalam pekerjaan saya yang juga akrab dengan ranah kebijakan publik.
Bagian pertama, tentang Dinamika Kebijakan Publik memang belum masuk pada pembahasan teori Kebijakan Publik yang seringkali berkutat pada siklus perumusan – implementasi – pengendalian- monitoring dan evaluasi. Namun memaparkan makna kebijakan publik yang sebenarnya, kekeliruan pemahaman dan implementasinya dalam kehidupan bernegara. Yang menarik buat saya adalah, teori – teori manajemen yang disitir penulis dalam membahas kebijakan publik. Diantaranya buku- buku Peter F. Drucker, seorang ahli Manajemen yang justru saya kenal lewat sebuah Dorama Jepang (Oh, drama itu sangat bermanfaat kawan).
Bagian kedua dan seterusnya? Terus terang belum selesai, kawan. Saya baru sampai pada halaman 123. Masih seperdelapan dari total isi buku ini. Tapi baru membaca 1/8 nya banyak pikiran – pikiran usil saya bermunculan.
1.    Tentang banyaknya produk hukum atau peraturan perundangan di Indonesia. Misalnya di daerah, hampir semua dokumen kebijakan baik itu RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dijadikan produk hukum. Selain 3 (tiga) dokumen itu, banyak juga produk kementerian yang dibawa ke daerah yang juga harus jadi Perda misalnya master plan sektoral.  Tidak salah memang, kebijakan publik memang harus ada aspek legal untuk menjamin pelaksanaannya. Padahal menurut saya, tidak perlu semua jadi Peraturan Perundangan. Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk membuat satu produk hukum? Saya kira lebih dari cukup untuk mendanai hal lain yang lebih penting bagi pembangunan negara kita. Khususnya di aspek kesehatan dan pendidikan.
2.       Membaca buku ini membuat saya sadar, kebijakan yang diambil oleh seorang Bupati Sambas  (Provinsi Kalimantan Barat) saat ini tidak sepenuhnya salah. Kebijakan apa? Bupati periode ini sangat concern dengan aspek pendidikan dan kesehatan. Beliau tidak segan berinvestasi besar pada kedua bidang ini. Tapi, menurut saya salahnya, beliau kurang concern dengan pembangunan infrastruktur (menurut pengamatan saya dari rencana kerja beliau di RPJMD).  Dalam buku Public Policy ini, menurut Dr. Riant Nugroho, urusan utama Pemerintah Daerah adalah Kewargaan – perijinan, kesehatan, pendidikan dan ketertiban. Urusan pendukung adalah air dan sanitasi, sampah dan limbah, transportasi massal dan keseimbangan lingkungan sedangkan pelengkap adalah soal keindahan dan kenyamanan. Artinya, mengedepankan urusan utama penting namun bukan berarti mengabaikan urusan pendukung dan pelengkap bukan?
3.  Sejak reformasi hingga kini, ramai sekali pemekaran wilayah dilakukan. Saya sangat mendukung, terutama bagi daerah – daerah di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Papua. Sulit memang untuk mengatur wilayah yang sebegitu luas. Tapi bila suatu wilayah hasil pemekaran, kemudian dilakukan pemekaran lagi dalam waktu kurang dari 10 tahun? Entah kenapa saya sangat menyayangkan ini. Dari sisi luas wilayah yang perlu diatur memang menjadi lebih efisien, tapi dari sisi yang lain bagaimana? Dokumen perencanaan pembangunan, Master Plan sektoral, Rencana Tata Ruang Wilayah yang baru dibuat dan menghabiskan banyak dana, apa perlu dibuat kembali setelah 5 tahun kemudian hanya karena pemekaran wilayah. Katakanlah, pemekaran wilayah ini tidak sepenuhnya mengubah struktur dan fungsi pusat kegiatan di dalamnya, tapi dengan Kepala Daerah yang baru, DPRD yang baru, ada banyak inovasi baru dan juga kepentingan ‘politik’ yang baru.  Butuh pembangunan pusat pemerintahan yang baru, butuh belanja fisik dan non fisik yang baru. Semuanya butuh pendanaan yang tidak sedikit. Dengan kondisi Indonesia seperti saat ini, itukan prioritas? Oh, satu lagi. Pemekaran wilayah butuh kajian yang baik, untuk memastikan kelayakannya menjadi kabupaten/ kota atau provinsi yang baru. Lagi – lagi, biaya bukan?
4.   Dalam sebuah proyek pembangunan, tim (yang ada saya didalamnya) diharuskan mengkaji dokumen perencanaan pembangunan di wilayah tersebut. Saya mengkaji 23 dokumen , 4 dokumen kebijakan skala kabupaten, 18 dokumen rencana tata ruang ibukota kecamatan dan rencana detail tata ruang kawasan perkotaan dan 1 masterplan air bersih Ibukota Kabupaten.  Yang membuat saya sedih, 18 dokumen ini sepertinya tidak sepenuhnya dijadikan acuan pembangunan Ibukota Kecamatan oleh Pemerintah Kabupaten tersebut. Saya bahkan curiga, dokumen ini (sebelum saya pinjam) telah tersimpan baik di perpustakaan Bappeda. Dan lebih menyedihkan lagi, apabila melihat isinya. Satu dokumen dengan dokumen lainnya sangat mirip isinya dan sangat normatif. Menandakan bahwa konsultan pembuatnya sama. Membuat 18 dokumen ini butuh waktu dan biaya. Katakanlah minimal satu dokumen bernilai 100 juta, bayangkan berapa rupiah yang disia – siakan untuk menghasilkan 18 dokumen yang dipertanyakan kualitas analisis dan kajiannya? Yang bahkan sangat wajar bila Pemkab tidak menggunakannya sebagai acuan penataan ruang bagi tiap IKK.
5.     Tahun 1998 perekonomian Indonesia hancur. Padahal sebelumnya diramalkan akan menjadi salah satu negara Asia yang akan maju tahun 2020 nanti. Rupanya itu hanya mimpi, kondisi sebenarnya perekonomian kita rapuh, tampak maju namun sebetulnya bersandar pada dinding tanpa pondasi yang dapat runtuh kapan saja. Dan sekarang, Indonesia kembali dipuji. Disebut sebagai negara yang berpotensi maju bersama negara lain semacam Cina dan Korea Selatan. Tahukah kalian kawan, feeling saya sebagai wanita (bukan sebagai ahli) pesimis!  

Membaca buku ini, hingga pada halaman 123, menyentak sekaligus mengkhawatirkan saya. Apa benar ini ulah kebijakan publik yang tidak unggul di negara ini? Apa yang akan terjadi pada negara kita? Dan kebijakan publik yang seperti apa yang dimaksud Dr. Riant Nugroho?  Ya, tunggu sampai saya selesai membacanya.Tapi, setelah ini sepertinya saya ingin membaca buku Dee, Madre. Buku ini dari tadi menggoda - goda saya untuk membacanya. Baiklah, otak saya butuh keseimbangan! :))

salam hangat, Tiech. 
Baca selengkapnya

Akhirnya Liburan!

Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore.
Liburan kali ini, saya tidak mudik. Padahal, cukup lama, hampir 2 minggu.  Kenapa? Sepertinya masih banyak pekerjaan yang menunggu dan  Setelah mengalami bulan - bulan yang penuh kesibukan pekerjaan, saya merasa membutuhkan waktu untuk menikmati diri sendiri, waktu untuk meningkatkan kapasitas diri sendiri dan waktu untuk menata kembali berantakannya hidup saya.
"Jadi, apa rencanamu liburan kali ini Ti?, tanya seorang sahabat suatu kali. "Apa ya? Saya belum punya rencana apapun, mungkin akan saya pikirkan malam ini", jawab saya waktu itu. Malamnya, saya benar - benar memikirkan rencana satu minggu pertama liburan akhir tahun ini. Dan telah saya putuskan untuk menghabiskannya dengan blogging, baca buku, mengulang pelajaran bahasa Korea dan belajar dari materi MIT online course yang sudah saya download berbulan - bulan lalu.
Sebetulnya masih ada beberapa buku yang belum sempat saya baca sejak Agustus lalu, tapi saya merasa butuh membeli beberapa buku baru, terutama buku fiksi. Awalnya ingin membeli 10 buku, tapi akhirnya saya urungkan niat itu dan bertekad membeli 5 buku saja dengan prioritas pada buku - buku yang sudah masuk daftar tunggu baca di Goodreads. :)
Tapi, tekad itu sebatas angan saja. Tetap, sesampainya di toko buku saya menemukan banyak buku lain yang menarik. Jadi selain dari prioritas yang ingin dibeli, saya juga membeli buku lainnya dari berbagai jenis-fiksi, motivasi, tips, buku teks hingga buku religi. Sampai sejumlah 13 buku, 4 diantaranya memang untuk keponakan saya. Dan, itu berarti pengeluaran yang tidak terencana. Untungnya, untuk soal buku saya tidak pernah merasa rugi jika harus merogoh kocek dalam - dalam. Investasi, buat otak saya yang semakin hari semakin tidak berisi.
Buku yang akhirnya dibeli
 Jadi liburan kali ini akan lebih produktif dan menyenangkan, pikir saya. Tapi, tahukah Anda, berdiam sendiri di kamar kos menikmati tiap hari liburan di kamar sambil baca, nonton, menulis dan leyeh - leyeh adalah membosankan? Ingin ke luar, ke Coffee Shop misalnya, baca buku di pagi hari atau sore indah seperti ini sambil menikmati secangkir Cappucino panas, atau Espresso. Tapi oh nelangsanya bila harus sendiri. Pasti mas- mas yang punya Coffee Shop bertanya, "kok sendirian mba?" (ih, saya GR deh, padahal kan belum tentu juga, hehe). Eh, tapi coffee shop yang saya maksud yang didekat kosan, yang lumayan nyaman, tapi selalu sepi, yang menurut saya penjaga toko (atau yang punya toko ya?) sangat amat terlalu ramah. Jadilah saya di kamar lagi, sendiri. Dan, nengnongneng, hp saya berbunyi, ada pesan masuk: "Ti, ke kantor hari ini?". Dan, tiktaktuk, saya balas: "Engga, besok aja.". Dibalas lagi: "Oke, ga apa - apa, kita kebut besok aja". Oh.

Buku Bacaan Edisi Liburan Minggu Pertama
salam hangat, Tiech. 
Baca selengkapnya

Sunday, December 23, 2012

Ah. Aku lupa. Rupanya di ponsel pintar ini sudah kupasang aplikasi blogger. Untuk memudahkanku menuangkan ide dan pikiran -pikiran yang tak bisa kuungkapkan pada orang lain.

Baca selengkapnya

Saturday, December 22, 2012

Sunday, August 12, 2012

A First Follower!

Sudah lama tidak menulis. Saat mengecek dashboard waw, saya mendapat satu follower (dan sepertinya saya kenal hehe)
Tada!! welcome to my blog ! semoga ada yang bermanfaat  dari sini :)



salam hangat selalu, Tiech
Baca selengkapnya

Sunday, July 8, 2012

It is Love

It is Love

Sudah beberapa hari ini belum menulis ya. Tidak menepati janji sendiri yang akan menulis, apapun kondisinya. Hehehe. tapi yang kemarin itu benar - benar dalam kondisi lelah kuadrat. Tema tulisan kali ini adalah tentang cinta. Ya, cinta. Bukan dalam batasan cinta antara laki - laki dewasa dan perempuan dewasa, namun cinta secara universal. 
Beberapa hari yang lalu, saya cukup dibuat shock dan membuat saya berada dalam kondisi hancur luluh lantak rasanya oleh sebuah kenyataan yang saya sebut sebagai masalah. Masalah besar. Yang saya  kira selama ini hanya saya lihat di film - film saja. Ya, saya mengalami hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan terjadi dalam hidup saya  yang lurus - lurus saja ini. Ini sebetulnya masalah yang seluruh anggota keluarga saya hadapi. Namun, sebagai anak paling bungsu dengan perasaan paling 'emosional', keluarga saya terbiasa menyembunyikan berbagai fakta dan masalah keluarga dari saya. Khawatir saya sedih, tertekan dan menjadi dendam. Kali ini pun demikian, tapi akhirnya saya tahu dari orang lain. Dan kemudian langsung menanyakan kebenarannya pada kakak kemudian Bapak dan Mamak saya. 
Pada momen saya mengkonfirmasi informasi yang saya tahu dari pihak luar ini kepada keluarga saya, ingin rasanya saya pergi jauh dan tidak ingin menampakkan wajah saya pada siapapun. Saya menangis semalaman. Mamak memeluk saya. Kakak saya tidak henti menelfon and tried hard to console me. Malam itu, saya benar - benar merasa hancur. Saya tidak yakin bahwa keesokan harinya saya bisa bekerja dengan tenang dan bisa menyembunyikan mata sembab saya. Saya ingin menyerah pada apapun yang saya kerjakan pada saat itu. Keluar dari pekerjaan, keluar dari proyek yang sekarang dan pergi menjauh dari Bandung, juga tidak ingin menetap di Sambas.

Keesokan harinya, saya masih menjalani aktivitas seperti biasa. Bekerja, bertemu rekan kerja, bergurau dan masih bersikap seperti hari - hari biasa. Kembali ke rumah, saya melihat Mamak dan Bapak. Saya sadar, bukan saya saja yang menghadapi kenyataan pahit ini. Mamak, Bapak dan Kakak saya, berjuang keras menghadapinya. Malah lebih daripada saya. Mamak dan Bapak pasti merasa lebih hancur daripada saya. Namun mereka masih berjuang menghadapinya. Apalah saya, yang hanya tahu dan tidak setiap hari menghadapinya karena selama ini saya tinggal di Bandung, berjauhan dari mereka. Melihat kakak saya, yang berjuang menyelesaikan masalah ini, dan sama sekali tidak membiarkan saya terlibat. Meski mereka tidak mengatakannya, saya tahu ketika mereka berusaha menyelesaikan masalah ini, pada saat yang sama mereka juga menjaga agar saya tidak terluka. And that makes me realized that i'm not alone. I have Allah and He gives me this awesome family. A family, yang punya cinta tiada terhingga. Saya pun sadar, bahwa saya tidak perlu lari dan menghentikan semua aktivitas saya sekarang hanya karena masalah ini. Saya harus berjuang juga, sama berjuangnya dengan Mamak, Bapak dan Kakak saya. Sepahit apapun kenyataan ini, kami akan tetap menghadapinya dengan berpegangan tangan. Masalah ini telah membuat saya melihat lebih jernih cinta keluarga saya terhadap saya. Masalah ini, menyadarkan saya bahwa keluarga saya always there for me. Giving unending love for me. And that is a reason for me to continue pursuing my dream, even this problem will makes it harder for me. 

Begitulah blogger, beberapa hari ini saya menyadari begitu besarnya cinta yang mengelilingi saya. Bagaimana dengan Anda?. Terkadang,  masalah tidak hanya membuat kita kuat dan bijaksana, namun juga membuat kita melihat dengan lebih jernih cinta yang ada di sekitar kita.


salam hangat selalu, tiech.
Baca selengkapnya

Wednesday, July 4, 2012

Kesabaran

Kesabaran

Sabar itu tidak ada batasnya.
Itu yang pernah dikatakan oleh mentor saya. Sampai sekarang, saya mengingat betul kata - kata ini. Saya kira, saya punya kesabaran yang banyak. Rupanya, kejadian dalam seminggu ini membuat saya mempertanyakan kembali  'apakah saya sudah termasuk orang yang sabar?'.

Seperti hari ini, saya sedang bekerja menyelesaikan laporan dan beberapa kertas kerja yang harus selesai hari ini juga. Malam ini Nisfu Sya'ban, saya ingin sekali bisa menikmatinya di masjid, sambil mengaji. tapi kenapa pekerjaan ini membuat saya memutuskan untuk tidak ke mesjid. Pilihan yang sulit and really made me upset. Dan perasaan gusar saya itu semakin bertambah ketika saya yang sedang menggantikan asisten kakak saya menjaga kantin, bertemu dengan pelanggan yang super duper sombong dan menyebalkan.
Orang ini sukses membuyarkan fokus saya dan membuat saya yang sedang panik ini ingin marah - marah dengan dia. Kalau bukan karena saya memikirkan bahwa dia konsumen yang perlu diberikan pelayanan yang baik, saya bisa saja sudah bertengkar dengan dia. Tapi saya memutuskan diam, dan menahan diri.
Itu lebih baik bukan. Gantinya, saya marah - marah di dapur. Haha. Tapi, benar. Saya begitu mempertanyakan kesabaran saya. Apa saya sabar?

Hmm, mari mencoba sabar dan lebih bijak menyikapi semua hal. Itu yang saya pelajari hari ini. Lagipula malam ini adalah malam nisfu Say'ban, pertanda 2 minggu menjelang Bulan Suci Ramadhan.


salam hangat, Tiech. 
Baca selengkapnya