Monday, July 5, 2021

Anak Istimewa

Malam itu aku cemas. Akankah aku menerimanya? Aku bukanlah seseorang yang mudah menerima orang baru tinggal di rumah kami. Pagi tiba. Sebuah sepeda roda tiga terletak begitu saja di ruang tamu. Aku tahu, anak itu sudah datang. Aku mendekati kamar yang ada di sebelah ruang tamu. Anak itu sedang digendong kakak iparku.


"Kapan sampainya?," tanyaku. "Baru saja,"kakak iparku menjawab singkat sambil merapikan barang - barang bawaannya. Aku mendekati anak kecil di gendongannya. "Hai. Siapa namanya?,"suaraku berubah ramah sambil menggenggam tangannya. Anak itu membenamkan wajahnya ke bahu kakak iparku sambil tersenyum malu. 


Namanya Nobertus Randy. Usianya 3 tahun. Dia keponakan kakak iparku. Ibunya baru meninggal satu pekan sebelumnya karena penyakit Lupus. Ayahnya meninggal dua hari setelahnya. Ya, anak itu yatim piatu. Abang dan kakak iparku memutuskan untuk mengadopsinya. Hari itu, dia resmi menjadi keponakanku yang ke delapan. 


Randy terbilang sangat aktif. Aku menghindari menyebut kata nakal, walaupun kadang-kadang ada saja perilakunya yang membuat naik darah.  Hobinya ngoprek sampah, bikin karyawan di rumah kami marah-marah, dan sengaja mengusili kakak-kakaknya. Hal yang kita larang, itulah yang dia kerjakan. "Jangan main sampah!" teriak salah satu karyawan di rumah kami. Dia dengan senyum usilnya sengaja menumpahkan semua sampah dalam trash bag dan bermain-main dengannya. Kantong kresek jadi layang-layang lah, botol minum jadi roket, atau kertas jadi pesawat. Ketimbang nakal, aku mendeskripsikan Randy sebagai anak yang imajinatif, berpendirian teguh, menyukai tantangan, dan usil tapi sangat lembut hatinya. Ketika sesuatu membuatnya frustasi, atau saat dimarahi, tangisannya benar-benar terdengar memilukan. Dia akan sesenggukan sambil menutup wajahnya. Bahkan kadang hal yang terlihat sepele, bisa membuatnya menangis begitu sedih. 


 Sebagai muslim, aku paham bahwa ada keistimewaan bagi penyantun anak yatim piatu. Saking istimewanya, disebutkan dalam Al Qur'an dan juga hadis yang shahih (https://www.orami.co.id/magazine/keistimewaan-anak-yatim/). Aku sadar, ada peluang kebaikan dengan hadirnya Randy di rumah. Ketika menceritakan ulah dan perilaku ajaib Randy yang sering menyulut emosi, salah satu kerabat kami bilang, "Emang begitu kalau merawat anak yatim. Perilakunya pasti ada aja nakalnya. Kayak nguji kesabaran kita gitu." Aku berfikir, mungkin karena saking besarnya pahalanya, ujiannya juga setara. Tapi setiap kali mendengar Randi menangis aku jadi khawatir. Aku tidak ingin anak ini terluka dan kesepian. Karena aku tahu, luka masa kecil itu sangat mempengaruhi kehidupan dewasa kelak. Aku mulai mencari-cari materi pengasuhan untuk anak yatim piatu. Aku belajar lagi parenting dan mulai membenahi diri.


Masya Allah, dalam proses belajar itu ada banyak insight yang aku dapatkan. Banyak yang belum aku ketahui tentang pengasuhan (padahal sudah belajar lebih dari 7 tahun). Betapa banyak kesalahan pengasuhan yang aku lakukan selama ini, sampai keponakan-keponakanku sudah besar. Aku mulai membenahi diri dan mengatur emosi. Sadar bahwa meskipun aku bukan ibu mereka, aku punya peran dalam masa kecil keponakanku.


Hadirnya Randy, juga menyadarkanku betapa hebatnya sosok Mamak. Aku merasa berdosa karena sempat menyalahkan pola asuh beliau dulu. Kini aku sadar, pola pengasuhan Mamak adalah yang terbaik di masanya. Beliau tidak pernah mencubit dan memukul kami, bicara dengan nada netral dan mengkomunikasikan semua larangan dengan baik kepada kami. Mamak tidak pernah memaksa kami belajar. Masa kecil adalah masa bermain menurutnya. Beliau selalu sabar, bahkan ketika menghadapi ulah kami. Kini aku memahami semua sikap beliau dari caranya memperlakukan Randy. Beliau selalu menemani Randy bermain, meredakan tantrumnya, bahkan selalu ada ketika Randi menangis atau merasa diabaikan.


Benarlah menyantuni anak yatim piatu itu istimewa. Hadirnya Randy tidak hanya mengajarkanku makna sabar, namun membukakan mataku akan luasnya kasih sayang seorang ibu. Randy memang bukan anak kandungku, tapi dia telah menempati posisi istimewa di hatiku. Kini usianya sudah empat tahun. Semoga hari-hari ke depan, kami diberikan kekuatan untuk mendidik dan mengasihinya selalu, hingga ia tumbuh menjadi insan yang shalih dan berguna bagi sesama. Aamin.




ditulis untuk tantangan Mamah Gajah Bercerita minggu ke-1 bulan Juli 2021 #TantanganMaGaTa

Baca selengkapnya

Thursday, October 15, 2020

Sunday, October 11, 2020

Today's Good Words

Mistakes make you grow. 
Life has its up and down. 
Yes, mistakes is like the bitter side of life. 


take all the responsibility. 
take care of yourself. 

xoxo, tiech. 



Baca selengkapnya

Friday, January 5, 2018

Space and Drama



Happy 2018!
New Year, New Face, New Blog Name!

Introduce you my new blog's name Space & Drama. 

Terinspirasi dari pemikiran Patrick Geddes, seorang perencana kota, yang menyebutkan bahwa,
'A city is more than a place in space, it is a drama in time'
Pemikirannya menekankan akan dimensi manusia dalam perencanaan dan perancangan kota. Bahwa segala hal yang ada di dalam sebuah kota pada dasarnya representasi dari aktivitas dan kejadian-kejadian yang dialami oleh manusia dan alamnya. Yang tidak terlepas dari berbagai 'drama' atau skenario demi skenario.

Lalu apa hubungannya dengan blog saya? 

Space mewakili unsur profesi planner yang saya geluti saat ini. Drama menggambarkan bahwa di dalam hidup ini ada aktor dan skenario yang dijalankan. Itu berlaku tidak hanya terkait dengan profesi perencana, namun juga dalam semua tulisan saya. Semua dapat saya tulis karena ada interaksi saya dengan para aktor kehidupan yang ada di desa dan kota tempat saya tinggal. Ini juga untuk mengingatkan saya kembali bahwa profesi perencanaan pada dasarnya profesi yang mulia, menyentuh kehidupan manusia dan unsur hayati lainnya untuk hidup selaras dan seimbang.

Saya mencintai dunia perencanaan sama seperti saya mencintai dunia kepenulisan. Saya pikir, perlu sebuah nama yang bisa menggambarkan identitas blog ini. Nama yang sesuai dan punya dasar filosofis buat blog ini. Mengingat isi blog saya beragam, mulai dari cerita fiksi, syair dan puisi, review buku, cerita tentang perencanaan wilayah dan kota, juga seputar perjalanan saya menemukan makna hidup.

Space dan drama memiliki makna yang amat kaya. Dan kekayaan makna itu yang paling pas menggambarkan identitas blog ini. Dua hal itu berlaku pada setiap lini aktivitas saya. Baik sebagai perencana maupun sebagai penulis.

Dan, inilah Space & Drama, sebuah blog lama, yang bertransformasi di awal tahun 2018 ini. Karena saya pun ingin menjadi seorang perencana sekaligus penulis.

And i am happy to share you everything about the path i takes for my life. 
Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi lebih banyak orang. 

Love, 
Tiech


Baca selengkapnya

Friday, August 4, 2017

Aku dan Menulis


Tantangan menulis 30 hari sudah masuk hari terakhir. Aku merasa kali ini tulisanku berbeda. Hampir sedikit sekali aku menulis fiksi. Memang aku punya target sendiri kali ini. Memulai sebuah tulisan tentang #myFabulous30, namun dalam perjalanannya lebih banyak cerita dan refleksi kehidupanku sehari-hari. Pada 30DWCJilid7 kali ini, walaupun masih sering mengirimkan tulisan mendekati deadline, namun aku tak kesulitan mendapatkan ide. Bahkan seringkali banyak hal yang ingin kusampaikan. Kalau diperhatikan, tulisanku dalam 30 hari terakhir lumayan panjang. Bukan karena aku punya waktu lebih banyak dari biasa. Namun, ada banyak hal di kepala yang segera ingin dialirkan dalam kata-kata. Aku bisa mengetik lebih cepat. Seperti saat ini.

Lalu aku berfikir, mungkinkah karena kini aku tidak berada dalam kondisi tertekan seperti saat masih bekerja dulu. Padahal kesibukan tetap saja sama. Bahkan kini aku selalu dalam kondisi stand by. Kalau-kalau diperlukan di dapur, kalau-kalau dipanggil keponakan, kalau-kalau Bapak membutuhkan bantuan. Sibuk dan banyak peran. Tapi dari kesibukan itulah aku belajar banyak hal. Dan sering merasa butuh tempat bercerita. Blog adalah tempat terbaik. Apalagi kalau ada yang membaca dan bisa mengambil manfaat darinya. 

Menurut STIFIn, seorang insting mencari harmoni. Dan cenderung akan lebih optimal berada dalam kondisi yang minim konflik dan tekanan. Well, selama masih belum memulai masa proyek, aku menikmati masa-masaku di rumah ini. Dan melihat catatan kisahku selama 30 hari ini rasanya menyenangkan. Insya Allah konsisten menulis hingga hari-hari ke depan. 

Salam, On Fire!

Aku menulis, karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan pada dunia tentang apa yang aku lihat, dengar, dan rasa. -Nur Astri Fatihah

#Day30
#30DWCJilid7
#Squad8
Baca selengkapnya

Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Baca selengkapnya

Thursday, August 3, 2017

Sajak Luka

bagaimana lagi caranya
agar aku bisa membawamu
pada jalan menuju surga?

cinta yang kini bercampur luka
mengalirkan amarah dan benci antara kita
tak cukupkah kata-kata
penawar duka dariku dahulu kala

tak bisakah kau ingat
musim dimana badai datang
dan kita terjebak dalam pusaran
sementara masih belum tampak
akhir dari semuanya

mengapa kini kalimatku membakar hatimu?
menjadi duri yang menyakitkanmu?

tak adakah lagi
embun yang menyejukkan dadamu?
tak adakah lagi
air hujan yang bertabur di dasar jiwamu?
tak adakah lagi
kristal yang mengkilat dari matamu?

bisakah kita menyudahi ini?
amarah yang melukai?

oh, mengapa terasa sakit di kepala?
amarahmu berganti duri
yang terus menusuk seluruh diri
pelan-pelan ku mengusap pelupuk mata
mengganti mendung yang bergelayut di muka
menjadi senyum mencerahkan suasana

biarlah.
biarlah aku mengalah.

biarlah kini kupilinkan pada langit
untuk menurunkan sekeping salju
pada hatimu yang menyimpan bara api

untuk meneduhkan hatiku
yang terasa bagai disinari terik mentari
biarlah kau dan aku menyepi
sibuk dalam perjalanan
menuju rute kedamaian


#Day29
#30DWCJilid7
#Squad8



Baca selengkapnya